Talud Sungai Erang Belum Diperbaiki, Warga Kalierang Bumiayu Waswas Hadapi Musim Hujan

Selasa, 27 Oktober 2026 | 16.55 WIB
Talut Sungai Erang yang jebol sejak November 2025 belum diperbaiki. Warga was-was banjir kembali terulang di musim penghujan tahun ini.
Talut Sungai Erang yang jebol sejak November 2025 belum diperbaiki. Warga was-was banjir kembali terulang di musim penghujan tahun ini.

Talud Sungai Erang Kalierang Bumiayu yang jebol sejak 2025 belum diperbaiki. Warga waswas hadapi ancaman banjir luapan sungai di musim hujan.

BREBES, puskapik.com – Ancaman banjir kembali membayangi warga Dukuh Krajan II, Desa Kalierang, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, menjelang musim penghujan.

Talud pengaman Sungai Erang yang jebol sepanjang sekitar 60 meter sejak November 2025 belum diperbaiki secara permanen.

Warga khawatir luapan sungai kembali mengalir ke persawahan hingga permukiman, seperti banjir tahun lalu yang merendam sedikitnya 400 rumah dan menewaskan seorang remaja.

Ketua RW 02 Desa Kalierang, Supriyanto, mengatakan, talud tersebut jebol akibat derasnya arus Sungai Erang. Air yang meluap saat itu mengalir ke area persawahan sebelum masuk ke permukiman warga.

Banjir membawa lumpur ke dalam rumah, merobohkan bangunan, serta menyeret mobil dan sepeda motor. Luapan sungai juga sempat melumpuhkan jalur nasional Bumiayu-Purwokerto.

Bencana tersebut turut menelan korban jiwa. Seorang remaja meninggal dunia setelah tersetrum aliran listrik dari rumah yang roboh diterjang banjir.

Baca Juga: Kemiskinan Jateng Turun, Ahmad Luthfi Raih Penghargaan Mandaya Award 2026

"Saat itu juga ada seorang remaja, tersetrum dari aliran listrik rumah yang ambruk, hingga meninggal dunia," kata Supriyanto, Selasa, 27 Oktober 2026.

Setelah banjir, warga bergotong royong melakukan penanganan darurat. Mereka memasang bronjong di bagian talud yang jebol dan menumpuk karung berisi pasir di atas tebing yang tersisa untuk mengurangi risiko luapan air.

Namun, penanganan darurat itu belum diikuti perbaikan permanen. Hampir setahun setelah kejadian, warga mengaku belum melihat pekerjaan lanjutan untuk membangun kembali talud yang rusak.

Supriyanto mengatakan persoalan tersebut telah disampaikan kepada Pemerintah Desa Kalierang. Audiensi terkait penanganan dampak bencana tahun lalu juga telah dilakukan, tetapi hingga kini belum ada perbaikan talud.

"Kami sudah menyampaikan langsung kepada pemerintah desa, bahkan hingga digelar audiensi terkait penanganan dampak bencana tahun lalu. Tapi sampai sekarang belum ada perbaikan," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat warga tidak tenang menghadapi musim penghujan yang sudah mulai tiba. Mereka khawatir kenaikan debit Sungai Erang kembali memicu luapan air ke persawahan dan permukiman di sekitar talud yang rusak.

"Kami berharap Pemkab Brebes melalui dinas terkait melakukan upaya perbaikan, sebab warga merasa tidak tenang menghadapi musim penghujan," imbuhnya. ***

Artikel Terkait