Watu Jaran, Situs Tua di Brebes yang Masih Menyimpan Tanya

Jumat, 28 Agustus 2026 | 16.00
Situs Watu Jaran di Desa Laren, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes.
Situs Watu Jaran di Desa Laren, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes.

Situs Watu Jaran di Bumiayu, Brebes, menyimpan jejak arkeologi dan legenda kuda tanpa kepala. Ekskavasi BRIN diharapkan mengungkap sejarah situs tersebut.

BREBES, puskapik.com — Di Dukuh Karangdawa, Desa Laren, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, terdapat sederet batu kuno peninggalan masa lampau yang dikenal sebagai situs Watu Jaran.

Masyarakat menyebutnya Candi Watu Jaran, nama yang menyimpan dua kisah berbeda. Satu dari mulut ke mulut, satu lagi dari catatan ilmiah.

Situs ini bukan penemuan baru. Ia telah lama hidup dalam ingatan warga dan beberapa kali menjadi obyek penelitian arkeologi.

Awal Agustus 2026, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan ekskavasi di situs ini. Tim peneliti mengupas lapisan tanah sembari mencatat setiap temuan.

Dari penggalian awal itu, muncul susunan bata berukuran cukup besar dengan ketebalan sekitar 10 sentimeter.

Namun temuan itu belum menyimpulkan apapun—semua masih dalam tahap pendataan, menunggu analisis lebih jauh.

Jauh sebelum BRIN datang, Watu Jaran sudah lebih dulu memikat perhatian peneliti.

Balai Arkeologi Yogyakarta pernah meneliti situs ini sekitar 2016 dan mencatat keberadaan empat arca yoni, umpak, arca Lembu Andhini atau Nandini, serta serakan bata yang diduga sisa struktur bangunan.

Temuan itu mengarah pada dugaan pernah ada aktivitas keagamaan bercorak Hindu di kawasan ini pada masa lampau.

Pada 2018, peneliti Ecole française d'Extrême-Orient (EFEO) bersama tim Arkenas juga menelusuri Watu Jaran, meluas ke Watu Belah, Watu Wali, dan situs lain di Brebes Selatan, untuk menelisik jejak awal masuknya pengaruh Hindu-Buddha ke Jawa bagian tengah.

Kehadiran silih berganti peneliti ini menegaskan Bumiayu dan sekitarnya menyimpan potensi arkeologi yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Cerita Kuda Tanpa Kepala

Di luar kehadiran para peneliti, Watu Jaran punya kisahnya sendiri yang hidup turun-temurun di masyarakat. Konon, nama itu berasal dari legenda seekor kuda tanpa kepala, tunggangan seorang wali yang gugur dalam peperangan.

Kemiripan bentuknya dengan kuda itulah yang melahirkan nama Watu Jaran. Warga meyakini batu-batu di situs ini jelmaan tubuh sang kuda, sementara sebongkah batu di Bukit Gralang dipercaya sebagai kepalanya yang terpisah.

Kades Laren, Arif, menyambut baik kelanjutan penelitian ini. Ia berharap hasil kerja BRIN dapat menyingkap sejarah Watu Jaran lebih terang, sekaligus menjadi pijakan pelestarian dan pengembangan potensi sejarah serta edukasi bagi Desa Laren dan Bumiayu.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait