Bukan Sekadar Pentas Seni, Kendal Bawa Cerita Leluhur ke Panggung Nasional

Senin, 2 November 2026 | 10.47 WIB
Penampilan duta seni kabupaten kendal di anjungan Jawa Tengah TMII. (ehot)
Penampilan duta seni kabupaten kendal di anjungan Jawa Tengah TMII. (ehot)

Duta seni Kabupaten Kendal mementaskan sendratari Songgo Puro di Anjungan Jawa Tengah TMII, Jakarta, untuk memperkenalkan legenda Kiai Tulang Bawang dan budaya daerah.

KENDAL, puskapik.com – Cerita tentang perjalanan Kiai Tulang Bawang yang menjadi asal-usul Sendang Tulang Bawang di Desa Darupono, Kecamatan Kaliwungu Selatan, kembali diperkenalkan kepada publik.

Kali ini, legenda yang menjadi bagian dari sejarah lokal Kendal tersebut dikemas dalam sendratari Songgo Puro dan dipentaskan di Anjungan Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu 01 november 2026.

Di hadapan masyarakat ibu kota dan warga Kendal yang merantau, kisah leluhur itu hadir melalui perpaduan seni tari dan drama.

Baca Juga: Sheila On 7 Jadi Magnet 25 Ribu Pengunjung di LIVEPROJECT 2026 Semarang

Perjalanan Kiai Tulang Bawang bersama Nyai Tulang Bawang dan para prajurit pada penghujung masa Kerajaan Majapahit menjadi inti cerita yang disuguhkan.

Pemilihan cerita tersebut sekaligus menjadi cara Kabupaten Kendal memperkenalkan kekayaan sejarah dan tradisi daerah melalui medium seni pertunjukan.

Sebab, di balik sebuah legenda, tersimpan cerita tentang perjalanan masyarakat dan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Baca Juga: Beragam Kreasi Budaya Warnai Karnaval Hari Santri Nasional di Pemalang

Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari mengatakan, nama Songgo Puro memiliki makna penopang kehidupan.

Melalui pertunjukan ini, pihaknya ingin menunjukkan bahwa Kendal mempunyai kekayaan seni dan budaya yang layak diperkenalkan hingga tingkat nasional.

Dia berharap, pentas tersebut tidak berhenti sebagai hiburan semata, tetapi juga mampu meningkatkan ketertarikan masyarakat terhadap seni tradisi dan potensi wisata Kendal.

Menurutnya, kekuatan Kendal tidak hanya berada pada sektor budaya dan pariwisata.

Daerah ini juga memiliki potensi ekonomi dan investasi yang terus berkembang. Bahkan, capaian investasi Kendal saat ini tercatat sebagai yang tertinggi di Jawa Tengah.

Dyah Kartika pun mengajak warga Kendal yang berada di perantauan untuk tetap memiliki keterikatan dengan daerah asal dan ikut memberikan kontribusi bagi kemajuan daerah.

"Kami mengajak kita semua untuk bersinergi dan berkolaborasi. Pemikiran maupun ide-ide kreatif tentunya sangat berharga bagi kami. Mari bersama-sama memajukan Kabupaten Kendal untuk kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Anjungan Jawa Tengah TMII Niken Rahardina menilai, panggung seni daerah memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan kebudayaan.

Anjungan Jawa Tengah diharapkan menjadi ruang pertemuan antara seni tradisi dengan masyarakat sekaligus tempat tumbuhnya apresiasi terhadap kekayaan budaya daerah.

Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah, lanjutnya, berkomitmen menjadikan anjungan tersebut sebagai ruang representasi, aktualisasi, dan promosi kebudayaan. Dengan demikian, berbagai kesenian dari kabupaten dan kota di Jawa Tengah memiliki kesempatan untuk tampil dan dikenal masyarakat lebih luas.

Pentas tersebut juga menjadi momentum pertemuan warga Kendal di perantauan. Ketua Paguyuban Kerabat Kendal, Letjen TNI (Purn) HM Munir menyebut, terdapat 16 komunitas dari 20 kecamatan di Kendal yang berada di wilayah Jabodetabek. Komunitas tersebut selama ini tetap menjalin komunikasi satu sama lain.

Menurutnya, kehadiran pentas seni di TMII menjadi kesempatan bagi warga perantauan untuk melepas rindu terhadap kampung halaman sekaligus bertemu langsung dengan kepala daerah.

"Pentas kesenian di TMII menjadi ajang silaturahmi sekaligus temu kangen dengan warga Kendal yang ada di perantauan dan bupati," ujarnya.

Melalui kegiatan ini, Kendal tidak hanya membawa kesenian ke panggung nasional, tetapi juga menghadirkan kembali kisah yang tumbuh dari akar sejarah masyarakatnya. Legenda Sendang Tulang Bawang diharapkan semakin dikenal, terutama oleh generasi muda, sehingga warisan cerita lokal tetap terjaga di tengah perkembangan zaman. **

Artikel Terkait