Bukan Sekadar Tempat Magang, Industri KIK Didorong Ikut Mengajar Mahasiswa Vokasi

Rabu, 23 September 2026 | 14.19 WIB
Forum nasional kerjasama akademi dan industri di Kawasan Industr Kendal (KIK). (edhot)
Forum nasional kerjasama akademi dan industri di Kawasan Industr Kendal (KIK). (edhot)

Kemitraan vokasi dan industri di KIK Kendal diperkuat melalui keterlibatan praktisi sebagai pengajar, pengembangan kompetensi, magang, rekrutmen, hingga penelitian terapan.

KENDAL, puskapik.com – Hubungan perguruan tinggi vokasi dengan dunia industri di Kawasan Industri Kendal (KIK) didorong tidak berhenti pada program magang mahasiswa. Pelaku industri juga diharapkan terlibat langsung dalam proses pembelajaran melalui kehadiran praktisi sebagai pengajar.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Workshop Kemitraan Strategis Politeknik Negeri dan Akademi Komunitas Negeri (AKN) se-Indonesia yang digelar di Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu Kendal, Rabu 23 september 2026.

Forum yang diikuti 44 politeknik, lima AKN, dan sekolah vokasi tersebut membahas penguatan hubungan pendidikan tinggi vokasi dengan kebutuhan industri.

Baca Juga: Pemprov Targetkan Angka Kemiskinan Jateng Turun Menjadi 8,70% di Akhir 2026

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Dr Beny Bandanadjaja mengatakan, industri memiliki peluang lebih besar untuk terlibat dalam pendidikan vokasi.

Menurutnya, perusahaan tidak hanya dapat menjadi lokasi praktik kerja mahasiswa, tetapi juga mengirimkan tenaga ahli yang memahami perkembangan pekerjaan secara langsung.

“Industri di Kendal ini tidak hanya dijadikan tempat magang mahasiswa politeknik saja. Melainkan industri ini bisa mengirimkan praktisi atau ahli yang berpengalaman untuk mengajar membantu dosen mengajarkan tentang dunia industri,” ujar Beny.

Baca Juga: Hendak Tawuran Antarkelompok Remaja di Wonokerto Pekalongan, Empat Remaja Diamankan Warga dan Diserahkan ke Polsek Wiradesa

Dengan pola tersebut, mahasiswa diharapkan memperoleh gambaran yang lebih dekat dengan kondisi pekerjaan sebenarnya.

“Sehingga mahasiswa bisa mendapatkan pengetahuan dan link and match antara dunia industri dan pendidikan bisa dikembangkan,” katanya.

Direktur Politeknik Negeri Semarang (Polines) Dr Garup Lambang Goro mengatakan perubahan kebutuhan industri berlangsung cepat. Kondisi itu membuat perguruan tinggi harus memastikan kompetensi lulusan tetap relevan dengan kebutuhan lapangan.

“Kita menyiapkan lulusan agar menjadi lulusan yang memiliki adaptasi tinggi, yang adaptif. Karena perkembangan di industri kadang-kadang, khususnya di Indonesia, lebih cepat daripada perkembangan di pendidikan,” kata Garup.

Karena itu, menurut dia, komunikasi antara kampus dan perusahaan menjadi penting. Masukan dari industri dapat digunakan untuk melihat kompetensi apa yang benar-benar dibutuhkan oleh perusahaan.

Kerja sama juga tidak hanya diarahkan pada pembelajaran dan magang. Perguruan tinggi dan industri dapat mengembangkan penelitian terapan yang hasilnya bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan di lapangan.

Garup berharap hasil penelitian dosen dan mahasiswa tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat dikembangkan menjadi solusi yang bisa diterapkan industri.

Executive Director KEK Kendal Juliani Kusumaningrum mengatakan kebutuhan tenaga kerja di kawasan akan semakin beragam seiring bertambahnya aktivitas industri.

“Seiring dengan perkembangan kawasan dan semakin beragamnya aktivitas industri, kebutuhan terhadap sumber daya manusia dengan kompetensi yang sesuai juga semakin luas,” ujarnya.

Menurut Juliani, pendidikan vokasi menjadi salah satu bagian penting dalam menyiapkan talenta yang sesuai dengan kebutuhan tersebut sejak dari bangku pendidikan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif PT Kawasan Industri Kendal Didik Purbadi mengatakan perkembangan KIK perlu diikuti kesiapan tenaga kerja yang mampu beradaptasi dengan perubahan industri.

KIK yang berdiri sejak 2016 dan mendapatkan status KEK pada 2019 saat ini telah dihuni sekitar 140 tenant. Sekitar 40 industri di antaranya telah beroperasi.

“Perkembangan kawasan industri Kendal saat ini sudah cukup pesat. Sudah ada sekitar 140 tenant dan sekitar 40 industri yang beroperasi,” kata Didik.

Ia mengatakan KIK juga terus mengembangkan kawasan untuk menampung investor dari berbagai negara. Di tengah perkembangan tersebut, pembangunan ekosistem industri dinilai perlu mencakup aspek sumber daya manusia.

“Bagaimana ekosistem kerja dan pembangunan kawasan industri, meskipun kami berada di satu area yang jauh dari Jakarta, kami juga ingin membangun ekosistem industri yang maju,” ujarnya.

Melalui forum tersebut, kemitraan perguruan tinggi vokasi dan industri diarahkan menjadi kerja sama yang lebih luas, mulai dari pengembangan kompetensi, magang, rekrutmen, kurikulum, penelitian terapan hingga keterlibatan praktisi industri dalam pembelajaran.