Curhat Driver Ojol ke Ahmad Luthfi: Kerja Pagi hingga Malam Sembari Asuh Anak

Driver ojol asal Semarang curhat ke Gubernur Jateng Ahmad Luthfi soal perjuangan bekerja sambil mengasuh anak demi mencukupi kebutuhan keluarga.
SEMARANG, puskapik.com - Di tengah unjuk rasa driver ojek online (ojol) di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Rabu, 20 Mei 2026, ada kisah yang diam-diam menyentuh perhatian.
Seorang ibu datang menggandeng anaknya, lalu berdiri di antara para pengemudi yang memperjuangkan nasib mereka.
Ia adalah Ratna Yuniarti (33), driver ojol asal Kota Semarang yang sudah hampir sembilan tahun bekerja di jalanan.
Baca Juga: Jateng Siap Jadi Pelopor, Kurikulum Perkoperasian Masuk Sekolah Mulai Tahun Ajaran 2026/2027
Ratna datang membawa anak ketiganya yang baru berusia 2 tahun 7 bulan.
Ia memberanikan diri menghampiri ketika Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, sedang duduk lesehan di tangga beranda kantor Gubernuran.
Melihat ibu dan anak tersebut, Ahmad Luthfi sontak memanggil seraya memberi tanda lambaian tangan agar mendekat dan duduk di sebelahnya. Dengan gaya santai Ahmad Luthfi menyapa dan mengajak kenalan.
Baca Juga: Fakta-fakta Dugaan Penculikan Anak di Pagergunung Pemalang, Ternyata Salah Paham
Di hadapan Gubernur, Ratna menceritakan kesehariannya yang penuh perjuangan: bekerja sembari mengasuh anak.
Sangat alami dan berjalan apa adanya. Obrolan keduanya juga santai tanpa sekat. Bocah kecil yang digandeng terus berada di samping sang ibu ketika obrolan hangat berlangsung di halaman kantor gubernur. Bahkan tanpa canggung, Ahmad Luthfi mendekap bocah itu dan didudukkan di pangkuannya.
“Rumah di Asrama TNI AD Mrican, tapi sekarang ngekos di Lamper. Sudah lama jadi driver ojol, sejak tahun 2017 sampai sekarang. Suami saya jadi TKI di Malaysia, sejak Desember 2025,” ujar Ratna.
Sejak sang suami bekerja di Malaysia, Ratna menjadi tulang punggung keluarga di Semarang. Setiap hari ia mulai bekerja sejak pukul 05.30 hingga sekitar pukul 19.00. Selama itu pula, anak bungsunya selalu ikut bersamanya menyusuri jalanan kota.
Sementara dua anaknya yang lain masih duduk di bangku sekolah dasar, masing-masing kelas 1 dan kelas 3 SD.
Bagi Ratna, bekerja sambil mengasuh anak bukan pilihan yang nyaman. Namun keadaan memaksanya bertahan. Ia mengaku tidak sanggup membayar pengasuh anak, sementara meninggalkan anak di rumah juga bukan pilihan yang mudah.


