Pelatihan Ecobrick di Kendal Tekankan Tanggung Jawab Kelola Sampah Plastik

Minggu, 8 Maret 2026 | 15.00
Pelatihan membuat ecobrick yang diselenggarakan komunitas kerajinan daur ulang sampah Kendal. (edhot)
Pelatihan membuat ecobrick yang diselenggarakan komunitas kerajinan daur ulang sampah Kendal. (edhot)

Pelatihan ecobrick di Perpusda Kendal oleh Komunitas KerDus mengajak masyarakat bertanggung jawab mengelola sampah plastik rumah tangga agar bernilai guna dan ramah lingkungan.

KENDAL, puskapik.com – Komunitas Kerajinan Daur Ulang Sampah (KerDus) menggelar pelatihan pembuatan ecobrick di Perpustakaan Daerah (Perpusda) Kabupaten Kendal, Sabtu (7/3).

Pelatihan ini tidak sekadar mengajarkan cara membuat ecobrick, namun lebih menekankan pentingnya tanggung jawab masyarakat terhadap sampah plastik yang dihasilkan setiap hari.

Kegiatan yang menggandeng berbagai unsur seperti pemerintah melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pengusaha, akademisi, serta masyarakat umum tersebut bertujuan membekali warga dengan keterampilan mengelola sampah plastik agar memiliki nilai guna.

Baca Juga: DPU Brebes Minta Provinsi Tangani Dua Jembatan Bermasalah Jelang Mudik

Pada pelatihan tersebut peserta diajak memahami bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari unit terkecil di masyarakat, yakni rumah tangga. Kesadaran sejak dari rumah dinilai menjadi langkah awal untuk mengurangi timbunan sampah plastik yang terus meningkat.

Sri Utami dari Komunitas Ecobrick KerDus menjelaskan, sampah plastik memiliki dampak berbahaya bagi lingkungan jika terus diproduksi tanpa pengelolaan yang tepat dalam jangka waktu lama.

“Plastik itu berbahaya dalam jangka waktu yang lama. Apalagi sekarang ini banyak sekali sampah plastik di Kendal yang tidak bisa diselamatkan,” ujarnya seusai pelatihan di Perpusda Kendal.

Menurutnya, penting untuk kembali menyadarkan masyarakat agar lebih peduli terhadap sampah plastik yang dihasilkan setiap hari.

“Kalau kita enggan mengubah cara pikir dari sekarang untuk generasi yang akan datang, plastik itu akan jadi hal yang sangat merusak lingkungan dan ekosistem alam. Jadi penting memberikan informasi kepada masyarakat umum melalui pelatihan ini,” imbuhnya.

Ia berharap ketika kesadaran masyarakat mulai tumbuh, langkah berikutnya adalah mengurangi penggunaan plastik sekaligus tidak membuang sampah sembarangan.

Dalam pelatihan tersebut, peserta juga mendapat praktik langsung membuat ecobrick.

Trainer ecobrick, Yohanes Paijanto menjelaskan, bahan utama yang digunakan adalah botol plastik serta berbagai jenis sampah plastik seperti kantong plastik, bungkus makanan ringan, hingga kemasan minuman serbuk yang telah dibersihkan dan dikeringkan.

Sampah plastik tersebut kemudian dipotong kecil-kecil dan dimasukkan ke dalam botol plastik sebelum dipadatkan menggunakan stik bambu.

Menurut Yohanes, ada standar tertentu agar ecobrick yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik.

“Yang perlu diperhatikan, ecobrick ini harus padat kurang lebih sepertiga kali volume botol,” jelasnya.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait