Saat Ayam Hidup Jadi Barang Tukaran dalam Tradisi Weh-Wehan Kaliwungu Kendal

Tradisi weh-wehan di Kaliwungu, Kendal, berlangsung unik. Warga saling bertukar makanan, bahkan puluhan ayam hidup dibagikan sebagai bagian dari tradisi Maulid Nabi.
KENDAL, puskapik.com – Tradisi weh-wehan di Kampung Pandean Lempersari, Desa Krajan Kulon, Kecamatan Kaliwungu, Kendal, berlangsung dengan cara yang berbeda.
Jika umumnya warga saling bertukar makanan dan jajanan, keluarga Anggota DPRD Kendal Nurul Mujib justru menyiapkan puluhan ayam hidup untuk dibagikan kepada warga.
Ayam-ayam tersebut menjadi salah satu barang yang ditukarkan dalam tradisi tahunan menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW.
Baca Juga: Petasan Meledak di Halaman Rumah, Warga Karangdadap Pekalongan Dilarikan ke Rumah Sakit
Selain ayam hidup, keluarga Nurul Mujib juga membagikan aneka jajanan dan sayuran kepada warga maupun tetangga.
"Yang dibagikan ada jajanan, sayuran dan ayam hidup. Ayam yang kami bagikan ada puluhan," ujar Nurul Mujib.
Kehadiran ayam hidup membuat suasana weh-wehan semakin semarak. Anak-anak dan remaja yang ikut bertukar makanan tampak antusias, terlebih ketika mendapatkan ayam yang masih hidup sebagai hasil pertukaran.
Baca Juga: Ngopeni SMK di Jateng, KEK Industropolis Batang dan Disdik Perkuat Kesiapan Kerja Lulusan SMK
Salah satunya Quin, 17, remaja Kampung Pandean. Ia mengaku senang mendapatkan ayam hidup setelah menukarkan makanan yang dibawanya.
"Ayamnya ayam hidup. Senang banget. Tadi nukar dengan ketan. Iya, ini tradisi setiap tahun," kata Quin.
Bagi Quin, ayam hidup yang didapat tahun ini menjadi pengalaman tersendiri. Perayaan Maulid Nabi terasa lebih berkesan karena tradisi yang dijalankan warga memberikan pengalaman berbeda bagi anak-anak dan remaja.
Nurul Mujib mengatakan, weh-wehan telah menjadi kebiasaan warga Kampung Pandean yang dilaksanakan setiap tahun. Tradisi tersebut bukan hanya menjadi bagian dari perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana warga untuk saling berbagi rezeki.
Menurut dia, keberadaan anak-anak dan remaja dalam kegiatan tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi. Mereka diharapkan tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga mengenal nilai kebersamaan yang terkandung dalam weh-wehan.
"Ini tradisi setiap tahun. Kami berharap weh-wehan tetap dijaga dan terus dilestarikan," ujarnya.


