Saat Kisah Nyai Saini Kembali Dihidupkan di Kendal Lewat Merti Desa

Jumat, 4 September 2026 | 18.39
Kirab budaya merti desa Dusun Siranti Desa Pasigitan Boja Kendal.
Kirab budaya merti desa Dusun Siranti Desa Pasigitan Boja Kendal. (Edhot)

Merti Dusun Siranti, Boja, Kendal, menghidupkan kembali kisah Nyai Saini dan budaya Opak Abang sebagai upaya menjaga sejarah serta identitas warga.

KENDAL, puskapik.com – Denting gamelan dan riuh warga bukan sekadar penanda sebuah perayaan di Dusun Siranti, Desa Pasigitan, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal. Di balik kemeriahan Merti Dusun yang digelar akhir Agustus lalu, tersimpan upaya masyarakat menjaga ingatan tentang asal-usul kampung dan leluhur mereka.

Salah satu nama yang hingga kini masih hidup dalam cerita warga adalah Simbah Nyai Saini. Sosok perempuan yang dipercaya sebagai pembabat alas dan tokoh spiritual itu disebut memiliki peran dalam sejarah awal terbentuknya kawasan Siranti dan perbukitan Gunung Munding.

Cerita mengenai Nyai Saini diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Tidak tercatat dalam lembaran sejarah formal, tetapi tetap bertahan melalui tradisi dan ingatan masyarakat.

Eko Diharti, pengelola Grup Langen Budoyo Bumi, mengatakan Nyai Saini dikenal sebagai sosok perempuan mandiri yang dipercaya memiliki kesaktian.

Baca Juga: Bikin Bangga! Atlet Dayung Pekalongan Raih Emas dan Perak di POPDA Jateng

“Nyai Saini dipercaya sebagai sosok yang kali pertama membuka kawasan Siranti dan sekitarnya, sekaligus menjaga dan merawat perbukitan di sebelah barat,” kata Eko.

Kisah tersebut kemudian bertaut dengan cerita tentang Ki Ageng Sigit dan Nyi Sumirah yang berkembang di Desa Pasigitan. Bagi warga, berbagai cerita leluhur tersebut bukan sekadar dongeng masa lalu, tetapi menjadi bagian dari identitas wilayah yang mereka tempati saat ini.

Karena itu, Merti Dusun menjadi ruang untuk kembali menghadirkan kisah tersebut dalam kehidupan masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab budaya dan gunungan. Setelah itu warga mengikuti selamatan, pemotongan tumpeng, hingga berebut gunungan. Seluruh prosesi berlangsung dalam suasana syukur dan doa bersama.

Tradisi tersebut menjadi simbol hubungan masyarakat dengan leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur atas kehidupan yang telah dijalani bersama.

Baca Juga: Keren, Bupati Batang Adu Akting Bersama Michelle Ziudith di Film Alas Roban The Series

Namun, pesan Merti Dusun tidak berhenti pada ritual. Seni pertunjukan menjadi medium lain untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan dan kebersamaan.

Melalui pementasan bertajuk “Dari Jiwa yang Jernih Menuju Kebersamaan”, Grup Langen Budoyo Bumi membawa penonton menyusuri pesan tentang ketenangan, keindahan, hingga keberagaman.

Pertunjukan dibuka dengan Tari Wening Sukmo yang menggambarkan kejernihan hati dan ketenangan jiwa. Berikutnya Tari Candik Ayu menghadirkan kelembutan sebelum pertunjukan bergerak pada sejumlah tarian kekinian.

Puncaknya adalah Tari Massal Opak Abang. Puluhan penampil bergerak dalam satu irama, menjadi gambaran bahwa keberagaman dapat menyatu ketika dibangun dengan kebersamaan.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait