Sawah Kekeringan, Petani Kendal Rogoh Kocek Ratusan Ribu Rupiah Demi Selamatkan Padi

Rabu, 29 Juli 2026 | 09.53
Petani menunjukan lahan yang kekeringan kekurangan pasokan air. (edhot)
Petani menunjukan lahan yang kekeringan kekurangan pasokan air. (edhot)

Musim kemarau mengancam ratusan hektare sawah di Kendal. Petani harus mengandalkan sumur bor dengan biaya tinggi akibat distribusi air irigasi yang minim.

KENDAL, puskapik.com – Musim kemarau yang melanda Kabupaten Kendal mulai mengancam sektor pertanian. Ratusan hektare tanaman padi di Desa Jotang, Kelurahan Jetis, dan Desa Purwokerto terancam gagal panen akibat minimnya pasokan air irigasi.

Para petani pun terpaksa mengeluarkan biaya tambahan yang tidak sedikit untuk menyelamatkan tanaman padi yang mulai mengering.

Tanaman padi yang memasuki usia tiga bulan saat ini berada pada fase pembungaan atau pembentukan bulir.

Pada fase tersebut, tanaman membutuhkan pasokan air yang cukup agar bulir padi dapat berkembang dengan sempurna. Namun, minimnya aliran air membuat sejumlah lahan pertanian mulai mengering dan retak-retak.

Baca Juga: KPK OTT Bupati Pemalang Anom Widiyantoro di Jakarta

Tidak sedikit petani yang akhirnya memanfaatkan sumur bor untuk mengairi sawah mereka. Cara tersebut dinilai hanya menjadi solusi sementara karena biaya operasional yang cukup tinggi.

Untuk mengairi satu hektare lahan, petani membutuhkan sekitar 20 liter bahan bakar Pertamax. Dengan harga sekitar Rp16 ribu per liter, biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp320 ribu dalam sekali pengairan.

Biaya tersebut tentu menjadi beban tambahan di tengah ancaman gagal panen yang kini menghantui para petani.

Baca Juga: Jateng Perkuat SDM Perencana, 10 ASN Lolos Beasiswa Strategis Bappenas

Petani Desa Jotang, Slamet, mengatakan persoalan yang dihadapi petani bukan terletak pada berkurangnya debit air Sungai Juwero, melainkan distribusi air irigasi yang tidak berjalan sebagaimana biasanya.

Padahal, pada musim tanam sebelumnya pembagian air dilakukan secara bergilir sehingga seluruh areal persawahan dapat terairi secara merata.

"Kami berharap pembagian air segera diatur kembali. Kalau tidak ada air, tanaman yang sudah mulai berbuah bisa mati," katanya.

Hal senada disampaikan Kastam, petani asal Desa Purwokerto. Ia mengatakan tanaman padinya kini telah memasuki fase mabul atau mulai berbunga sehingga sangat membutuhkan air untuk menunjang pertumbuhan bulir padi.

"Kalau sampai satu bulan ke depan tidak mendapat giliran pengairan, petani bakal merugi semua karena saat ini padi sudah mulai layu. Saya berharap Dinas Pertanian maupun dinas yang menangani pengairan segera tanggap terhadap kondisi ini," ujarnya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kabupaten Kendal sekaligus Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Kendal, Haji Tardi, menilai persoalan distribusi air irigasi harus segera ditangani karena tidak hanya berdampak terhadap kerugian petani, tetapi juga mengancam ketahanan pangan daerah.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait