Panitia MAPSI Pemalang Diprotes Wali Murid, Persoalkan Perangkat Musik hingga Aturan Lomba

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 13.06 WIB
puskapik

Wali murid SDN 1 Kebondalem memprotes lomba rebana MAPSI di Pemalang. Mereka menyoroti gangguan sound system, dugaan ketidaksetaraan fasilitas, dan pelanggaran aturan

PEMALANG, puskapik.com – Wali murid SD Negeri 1 Kebondalem memprotes pelaksanaan Lomba Rebana MAPSI SD tingkat korwil Kecamatan Pemalang.

Mereka menyoroti gangguan sound system yang dialami timnya, dugaan ketidaksetaraan perlakuan antarpeserta, hingga pelanggaran aturan aransemen.

Protes itu disampaikan perwakilan wali murid, Zuesty Arnoviana. Ia menyampaikan ada sejumlah persoalan yang terjadi dan merugikan ketika tim rebana SDN 01 Kebondalem tampil sebagai peserta pertama. Persoalan tersebut ada pada gangguan perangkat sound system.

Baca Juga: Begini Kondisi Truk Maut di Ataba Bumiayu, Kabin Remuk, Bak Bersandar di Dinding Rumah

Menurut Zuesty, perangkat sound system dalam lomba yang digelar di SD Negeri 03 Widuri pada Rabu 14 Oktober 2026 lalu tidak berfungsi dengan baik saat tim mereka tampil.

Suara alat musik tak terdengar sebagaimana mestinya, keyboard beberapa kali mati, hingga mikrofon tak berfungsi.

Kondisi tersebut dinilai menghambat penampilan tim SD Negeri 01 Kebondalem.

Baca Juga: Kalahkan Persiba 3-0, Laskar Badai Pantura Rebut Puncak Klasemen

Terlebih, setelah peserta tersebut menyelesaikan penampilannya, panitia melakukan perbaikan perangkat suara, termasuk mengganti generator atau genset.

Setelah perbaikan dilakukan, peserta berikutnya pun memperoleh kondisi perangkat suara yang lebih baik. Perbedaan kondisi itu menjadi salah satu dasar keberatan yang disampaikan Zuesty karena dinilai menimbulkan persoalan mengenai kesetaraan fasilitas.

Selain gangguan perangkat suara, Zuesty juga meminta pemeriksaan terhadap sumber listrik yang digunakan selama perlombaan.

Dirinya menyebut terdapat indikasi frekuensi listrik sebesar 60 Hz saat tim SDN 01 Kebondalem tampil.

Informasi tersebut, menurutnya, perlu diverifikasi oleh pihak yang kompeten untuk memastikan kesesuaiannya dengan spesifikasi perangkat serta kemungkinan pengaruhnya terhadap gangguan teknis yang terjadi.

Zuesty pun mempersoalkan penanganan protes yang disampaikan ketika gangguan berlangsung.

Ia menilai keberatan yang diajukan tidak memperoleh tindak lanjut memadai, sementara perlombaan tetap dilanjutkan tanpa penyelesaian yang jelas atas kondisi yang dialami timnya.

Dalam protesnya itu, ia turut menyoroti tidak adanya penghentian sementara perlombaan untuk memeriksa kelayakan perangkat suara. Tak ada penjelasan resmi mengenai penyebab gangguan, alasan penggantian perangkat, maupun langkah pemulihan bagi peserta yang terdampak.

Persoalan lain yang diminta untuk diperiksa adalah dugaan keterlibatan pihak yang berkepentingan dalam pengaturan perangkat suara.

Zuesty menyebut terdapat seseorang yang mengaku wali murid peserta dari sekolah lain dan turut mengatur perangkat sound system.

"Jadi waktu kami ingin menyesuaikan sound system pengiring, kami dilarang, tetapi giliran peserta lainnya bisa leluasa setting sound system." ungkap Zuesty, Sabtu 17 Oktober 2026.

Ia meminta pihak penyelenggara memeriksa identitas, kewenangan, serta bentuk keterlibatan orang tersebut, termasuk kemungkinan adanya benturan kepentingan dan kesesuaiannya dengan ketentuan perlombaan.

Kecurigaan itu, menurut Zuesty, muncul setelah perangkat suara terdengar lebih lancar dan berfungsi dengan baik saat peserta terakhir tampil.

Meski demikian, ia meminta agar dugaan tersebut diperiksa secara objektif untuk memastikan fakta yang sebenarnya.

Zuesty juga menyampaikan keberatan terhadap tanggapan operator perangkat suara ketika pihaknya meminta penjelasan mengenai gangguan yang terjadi. Ia menyebut operator justru menyalahkan peralatan yang dibawa peserta dengan alasan harganya murah.

Lebih jauh, Zuesty Arnoviana meminta agar seluruh rangkaian kejadian diperiksa secara menyeluruh, mulai dari gangguan teknis, kesetaraan fasilitas, penanganan protes, hingga dugaan keterlibatan pihak tertentu dalam pengaturan perangkat suara.

"Kami meminta adanya permintaan maaf secara tertulis dari panitia penyelenggara kepada peserta dan orang tua atau wali murid yang dirugikan." tegasnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga meminta panitia menjatuhkan sanksi sesuai ketentuan perlombaan, termasuk diskualifikasi terhadap peserta

atau pemenang apabila terbukti melakukan pelanggaran yang menjadi dasar diskualifikasi.

"Kami juga menemukan bahwa ada salah satu sekolah pemenang yang masih memakai aransemen tahun sebelumnya, padahal di juknis tidak diperbolehkan menggunakan aransemen yang sama dengan tahun sebelumnya." tegas Zuesty.

Kini Zuesty Arnoviana bersama para wali murid lainnya sudah melayangkan surat keberatan tersebut kepada pihak terkait.

Harapannya keberatan itu dapat ditindaklanjuti secara resmi oleh panitia penyelenggara agar persoalan yang mereka soroti memperoleh kejelasan. **

Artikel Terkait