[EDITORIAL] Mitigasi Ancaman Kekeringan, Pentingnya Patroli Deteksi Dini

Senin, 10 Agustus 2026 | 11.15
ilustrasi kekeringan
ilustrasi kekeringan

Dampak musim kemarau sudah mulai dirasakan sejumlah daerah, termasuk di wilayah pantura Jawa Tengah perlu skema-skema cara penanganan dan upaya deteksi dini.

TEGAL, puskapik.com - Dampak musim kemarau sudah mulai dirasakan sejumlah daerah, termasuk di wilayah pantura Jawa Tengah.

Kegiatan seremoni dalam mengantisipasi dampak kekeringan, seperti krisis air bersih dan kerawanan kebakaran pun sudah digelar dalam bentuk apel siaga.

Bahkan, telah dipersiapkan skema-skema cara penanganan mengatasi kekeringan dan upaya deteksi dini.

Seperti halnya di Pemalang, Plt Bupati Pemalang Nurkholes pekan lalu telah mendistribusikan bantuan air bersih ke daerah terdampak kekeringan.

Kata Nurkholis, dampak kekeringan saat ini telah dirasakan sekitar 93 ribu jiwa yang tersebar di tiga kecamatan di Kabupaten Pemalang.

Disebutkan, distribusi bantuan air bersih sejauh ini baru mampu menjangkau kebutuhan sekitar 45 ribu jiwa.

Karena itu, membutuhkan keterlibatan lebih banyak pihak, khususnya perusahaan dan sektor swasta, agar bantuan dapat menjangkau seluruh masyarakat yang terdampak.

Kepemimpinan Responsif

Harus diakui bahwa mitigasi bencana kekeringan dan kebakaran hutan menuntut kepemimpinan responsif dan koordinasi lintas sektor yang terpadu.

Pencegahan krisis air bersih, ancaman gagal panen, serta perluasan lahan terbakar perlu langkah nyata.

Setidaknya perlu langkah antisipatif penanggulangan kekeringan dan kebakaran berikut ini;

Kepala daerah wajib memetakan titik-titik rawan krisis air bersih dan area potensi kebakaran.

Kebijakan terpadu antara pemerintah pusat dan daerah krusial untuk menekan dampak iklim yang ekstrem.

Penambahan sumur bor, embung, mobil tangki air, dan pompa irigasi untuk mengamankan pasokan lahan pertanian.

Dan, yang tak kalah pentingnya patroli deteksi dini untuk memadamkan titik api sekecil apa pun.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait