DPC PKB Kabupaten Tegal Gelar Diskusi dan Bedah Buku Sosialisme Islam, Arahan Gus Muhaimin

Minggu, 8 November 2026 | 21.21 WIB
Puluhan kader PKB Kabupaten Tegal mengikuti Diskusi dan Bedah Buku Sosialisme Islam di Kantor DPC PKB Kabupaten Tegal, Minggu 8 November 2026.
Puluhan kader PKB Kabupaten Tegal mengikuti Diskusi dan Bedah Buku Sosialisme Islam di Kantor DPC PKB Kabupaten Tegal, Minggu 8 November 2026.

DPC PKB Kabupaten Tegal menggelar diskusi dan bedah buku Sosialisme Islam atas arahan Gus Muhaimin untuk perkuat keberpihakan pada rakyat kecil.

SLAWI, puskapik.com - DPC PKB Kabupaten Tegal gelar Diskusi dan Bedah Buku Sosialisme Islam di Kantor DPC PKB Kabupaten Tegal, Minggu 8 November 2026. Kegiatan itu atas perintah Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar.

Diskusi dan Bedah Buku Sosialisme Islam resmi dibuka oleh Ketua Fraksi PKB DPRD Kabupaten Tegal, Umi Azkiyani.

Dalam pembukaan tersebut, Umi Azkiyani mengatakan, forum diskusi ini merupakan tindak lanjut dari arahan Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar. Gus Muhaimin meminta agar seluruh kader PKB kembali memperdalam pemikiran Sosialisme Islam.

"Ini instruksi Gus Muhaimin agar seluruh kader PKB di Indonesia kembali memperdalam pemikiran Sosialisme Islam ala Ali Shariati dan H.O.S. Tjokroaminoto," katanya.

Baca Juga: Jateng Siapkan 1 Juta Keping Genteng untuk Program Nasional, 17 IKM Lokal Lolos Uji Sertifikasi

Ia menegaskan, instruksi Gus Muhaimin tersebut bukan sekadar agenda diskusi, tetapi penegasan arah perjuangan PKB bahwa partai harus kembali pada keberpihakan kepada rakyat kecil.

Founder Lingkar Aksara, Hendri Lisdiam, menuturkan, bahwa Ali Shariati, pemikiran Sosialisme Islam memandang Islam sebagai kekuatan perubahan, bukan sekadar ibadah. Gagasan Shariati berhasil menggerakkan kesadaran masyarakat Iran untuk bangkit melawan ketimpangan dan kekuasaan yang menindas.

Founder LACP, Khusnul Aqib membedah buku Islam dan Sosialisme tahun 1924 karya H.O.S. Tjokroaminoto. Dijelaskan, Sosialisme Islam bertumpu pada Tauhid, dengan tiga poros utama, yakni Kemerdekaan, Persamaan, dan Persaudaraan. Kemerdekaan berarti menolak perbudakan dan dominasi manusia atas manusia. Persamaan berarti martabat manusia tidak ditentukan kekayaan atau jabatan. Persaudaraan berarti tanggung jawab nyata atas kondisi hidup orang lain, bukan hanya perasaan dekat.

"Sosialisme Islam, yakni kepemilikan pribadi tidak dihapus, tetapi harus dijalankan dengan batas moral dan memperhatikan kemaslahatan bersama," ujarnya. ***

Artikel Terkait