Keluarga Pastikan Kabar Viral Perempuan Korban KDRT di Kabupaten Tegal Tidak Benar

Keluarga dan Polsek Margasari luruskan kabar viral perempuan korban KDRT di Kabupaten Tegal. Yeti Mustikawati alami sakit saraf, bukan korban KDRT.
SLAWI, Puskapik.com- Seorang perempuan asal Margasari, Kabupaten Tegal mendadak viral seteĺah diberitakan di media sosial, menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga ( KDRT). Sejumlah akun di Instagram memuat video perempuan yang tampak mengenakan mukena putih tersebut, dengan berbagai narasi.
Perempuan yang disebut bernama Yeptikawati (48) beralamat di RT 03 RW 07 Dukuh Kedawung, Desa Karangdawa, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal.
Beberapa akun Intagram menyebutkan perempuan tersebut mengalami depresi usai sering jadi korban KDRT suami dan keluarga tak berani lapor polisi. Seperti disampaikan akun freedgramindo , feedmedsos, trendisosmed hingga tegalhariini.
Namun, saat dikonfirmasi Puskapik.com di tempat tinggalnya, Senin ,19 Oktober 2026, perempuan bernama asli Yeti Mustikawati (47) menyangkal semua kabar yang beredar di media sosial.
Baca Juga: Diikuti 280 Peserta, Jambore Pemuda Jateng 2026 Jadi Wadah Asah Kreativitas dan Bakat
Didampingi tiga anak laki- lakinya serta ibunya Nasiroh (72), Yeti yang sedang istirahat di tempat tidur justru heran dengan berita yang menyebutkan dia menjadi korban KDRT suami selama 10 tahun hingga depresi.
Anak pertamanya Helmi Saputra menyebutkan, ibunya mengalami sariawan sehingga jarang makan. Hal ini mengakibatkan tubuhnya lemah. Saat hendak ambil wudhu untuk shalat dhuhur pada 16 Oktober 2026, ibunya terjatuh dan kejang.
" Video itu awalnya kejang- kejang bukan KDRT. Cuma ada yang viralin, katanya Bu Yeti kena KDRT," terang Helmi, saat ditemui di rumahnya, Senin, q9 Oktober 2026.
Yeti membenarkan, jika dirinya terjatuh karena tubuh lemas karena kurang makan akibat sariawan. Bahkan pundak kanan terasa sakit, setiap kali memegang barang kerap merosot.
Helmi menyebutkan , pasca kejadian, ibunya sudah dibawa ke RS Harapan Sehat di Jatibarang , Kabupaten Brebes dan menjalani rawat inap selama tiga hari. Hasil diagnosa mengalami gangguan saraf dan ada benjolan di otak sebelah kanan.
" Kemarin di CT Scan, kata dokter ada benjolan di otak sebelah kanan. Pihak Rumah Sakit menyarankan ibu menjalani pengobatan lebih lanjut di RSUD Margono Purwokerto, " terangnya.
Helmi menyebutkan, pengobatan yang dilakukan di RS Harapan Sehat dibiayai secara mandiri karena ibunya tidak mempunyai kartu BPJS Kesehatan.
Oleh pihak RS telah disarankan untuk mendaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan untuk keperluan operasi. Namun, saat itu, ibu lima anak itu menolak.
Terkait kabar yang viral, Helmi menyebutkan tidak tahu siapa yang mengabarkan informasi tersebut. Pihak keluarga,saat ini masih mencari siapa yang menyebarluaskan berita tidak benar itu.
" Kurang tahu siapa yang mengabarkan demikian, kami juga sedang mencari siapa orangnya. Kenapa video ibu saya sampai diviralin," sebutnya.
Ia menceritakan, video tersebut diambil oleh adiknya yang masih duduk di bangku SMP. Saat itu adiknya kebingungan melihat kondisi ibu setelah terjatuh saat hendak ambil wudhu.
" Saat itu ibu sendirian di rumah. Saya kerja di Jakarta, bapak juga sedang kerja. Sementara adik saya Adam di Tegal. Saat adik kami, Ozan, baru pulang dari sekolah , dia kaget melihat kondisi ibu kayak begitu, terus divideoin , karena takut posisi sedang sendirian, pengen ngasih tahu saya, kakaknya dan tetangga," urainya.
Adiknya kemudian minta tolong tetangga agar ibunya dibawa ke rumah sakit.
Selama tiga hari, pihak keluarga sibuj mengurus perawatan Yeti di Rumah Sakit. Saat hendak pulang ke rumah, sang adik dibuat kaget ketika membuka gawai , ada foto dan video ibunya saat kejang- kejang dan dikaitkan dengan KDRT. Bahkan kabar itu menyebar di platform IG,TikTok dan Facebook.
Selain menyangkal kabar itu, Helmi juga menegaskan ibunya tidak mempunyai sepupu di Jakarta seperti disebutkan dalam kabar di medsos.
" Di diskripsinya menyebutkan keterangan dari sepupu di Jakarta. Kami tidak mempunyai sepupu di Jakarta, sepupu di rumah semua. Adanya di Purwokerto," sebutnya.
Untuk pengobatam ibunya, pihak Dinas Kesehatan dan Dinas Sosial pada Senin , 19 Oktober 2026 datang ke rumah mereka untuk mengurus kepesertaan BPJS Kesehatan bagi Yeti.
Merasa dirugikan dengan kabar tersebut, Helmi meminta kepada pemilik akun yang menayangkan ibunya, bisa segera menghapus tayangan foto dan video ibunya.
Kabar viral ini juga merugikan ayahnya yang bekerja sebagai supir karena menjadi khawatir dengan beredarnya kabar tersebut. " Kalau bapak dihukum,nanti yang cari nafkah tambahan siapa," ujarnya.
Baca Juga: Wabup Kendal Ajak Santri Kuasai Ilmu dan Teladani Perjuangan Kiai
Helmi mengaku, pihaknya sudah berusaha mengirim Direct Message ke admin medsos. Namun belum ada respon.
Kapolsek Margasari Iptu Ida Bagus Nyoman Laksana menuturkan, saat menerima.informasi KDRT di wilayah Margasari, pihaknya telah melaporkan pada Kapolres Tegal.
Kapolsek dan anggota bahkan sudah bersilaturahmi ke rumah Yeti Mustikawati .
"Ternyata apa yang ada di berita itu, semua tidak sesuai dengan kenyataan," sebutnya.
Bagus menyebutkan, Kapolres Tegal AKBP Febriyani Aer juga telah berkunjung ke rumah Yeti Mustikawati dan memberikan pendampingan termasuk koordinasi dengan instansi terkait.
Terkait dengan kabar yang beredar di medsos, pihaknya menyerahkan kepada keluarga untuk meluruskan bahwa berita tersebut tidak benar. ***



