Perayaan Hari Jadi ke 425 Kabupaten Tegal, Kirab Tombak Kyai Plered Meriah, Warga Berebut Gunungan Hasil Bumi

Kirab tombak Kyai Plered berlangsung Minggu, 17 Mei 2026 berlangsung meriah dalam rangka peringatan Hari Jadi ke 425 Kabupaten Tegal diwarnai dengan perebutan gunungan hasil bumi.
SLAWI, pusapik.com - Kirab tombak Kyai Plered sebagai rangkaian peringatan Hari Jadi ke-425 Kabupaten Tegal, Minggu, 17 Mei 2026 berlangsung meriah.
Sebelumnya, Tombak Kyai Plered pada Sabtu 16 Mei 2026 diserahkan Bupati Tegal kepada keluarga besar Kalisoka yang kemudian diarak dari Kalisoka menuju Kawasan Monumen GBN Slawi.
Kirab Tombak Kyai Plered dikawal oleh rombongan kirab yang terdiri atas OPD, BUMD dan Kecamatan di Kabupaten Tegal.
Baca Juga: Cara Mudah Buat Kartu Kuning Online, Ini Tahapannya
Sedikitnya ada 51 kendaraan hias berisi gunungan hasil bumi, seperti sayuran dan buah-buahan serta produk unggulan Kabupaten Tegal.
Dari GBN, rombongan kirab dilepas Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Winarto.
Rombongan menuju ke arah Rumah Dinas Bupati Tegal di Jalan KH Wahid Hasyim.
Sementara di panggung kehormatan, bupati, Forkopimda dan Kepala OPD mengenakan pakaian adat Tegal menyambut peserta kirab.
Tiba di panggung kehormatan, keluarga besar Kalisoka dipimpin Zamzami melaporkan kepada Bupati Tegal bahwa tombak Kyai Plered siap disemayamkan di Rumah Dinas Bupati Tegal untuk selanjutnya akan dikirab ke Gedung DPRD Kabupaten Tegal pada Senin 18 Januari 2026 pagi.

Sementara itu, kirab gunungan hasil bumi disambut antusias warga yang telah berdiri berjejer di sepanjang jalan.
Selain menyaksikan penampilan peserta kirab yang mengenakan pakaian adat lengkap dengan berbagai atribur, masyarakat juga menantikan penampilan kesenian yang dibawakan masing-masing OPD,BUMD dan Kecamatan.
Penampilan menarik di antaranya dari Setda Kabupaten Tegal.
Baca Juga: Slawi Run 2026, Bupati Tegal Ischak Ikut Lari 5 Km Sampai Finish
Peserta mengenakan pakaian tokoh pewayangan seperti Dewi Sinta dan Sri Rama, Rahwana, Buta Cakil , Hanoman, Punakawan hingga kijang kencana.
Uniknya, di depan panggung kehormatan, mereka menarikan tari kreasi diiringi lagu seperti Kicau Mania dan Galawi.
Dipimpin Maeti, peserta menari dengan semangat. Bahkan, Sekretaris Daerah Amir Makhmud dan Asisten Perekomian dan Pembangunan Joko Kurnianto yang duduk di panggung kehormatan, langsung turun dan ikut berjoged "Kicau Mania" bersama dengan peserta.
Secara bergantian para peserta tampil dengan kesenian tradisional seperti Tari Guci, Tari Geyol, Silat, Kuda Lumping, Barongsai dan tari kreasi.
Selain penampilan kesenian, satu hal yang dinantikan penonton adalah berebut gunungan hasil bumi.
Ya, setelah tampil di depan bupati, hasil bumi yang dibawa kendaraan hias, langsung diserbu penonton.
Mereka memperebutkan sayur mayur, seperti sawi, kacang Panjang,buncis, kol, wortel, cabai merah, bawang merah, tomat dan masih banyak lain.
Baca Juga: Lomba Olahraga Baris Berbaris di HUT ke 425 Kabupaten Tegal, 1.100 Pelajar Berebut Tiket Kejurnas
Acara yang semula berjalan dengan tertib, seketika berlangsung riuh dengan naiknya penonton ke mobil hias untuk mengambil hasil bumi di atas mobil.
Situasi riuh ini dimanfaatkan orang yang tidak bertanggung-jawab. Pembawa acara beberapa kali mengumumkan ada warga telah kehilangan handphone dan dompet.
Tak hanya itu, akibat hasil bumi yang berjatuhan di jalan, jalan tersebut menjadi kotor dan licin.
Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman menyatakan sanga terkesan dengan kegiatan tersebut.
"Acara ini sangat luar biasa,dari OPD, BUMD, kecamatan dan kelompok masyarakat mengikuti kirab budaya hasil bumi dalam rangka Hari Jadi ke-425 Kabupaten Tegal. Ini Sebagai bentuk rasa syukur masyarakat,"sebutnya.
Ia berharap, acara seperti ini dapat ditingkatkan lebih baik di tahun 2027 dengan melibatkan banyak masyarakat.
"Keinginannya tahun depan lebih meriah lagi,"sebutnya.
Sementara itu, seniman Lagu Tegalan, Imam Joend menyebutkan, kirab budaya hasil bumi diikuti 51 peserta.
Penilaian berdasarkan kelengkapan gunungan, kevariatifan, keindahan, serta dari penampilan seni.
Seniman dan musisi senior asal Balapulang ini terkesan dengan antusias warga.
Hanya saja, kata Imam Joend, situasi kurang tertib karena warga berebut hasil bumi meski kendaraan peserta masih berada di depan panggung kehormatan.
"Ini agak kurang tertib saja, kacau balau disini. Perlu persiapan lebih matang. Polisi dan Satpol PP-nya bisa diperbanyak,"tuturnya.***