Wanara Seba 2026, Hadirkan Pameran Fosil Hingga Semedolan di Museum Semedo

Museum Purbakala Semedo menggelar program publik Wanara Seba 2026. Tampilkan pameran MetamorFosil, kreasi budaya, lokakarya, hingga program Semedolan.
SLAWI, puskapik.com - Museum Purbakala Semedo di Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Tegal gelar program publik Wanara Seba 2026. Dalam kegiatan itu, digelar pameran, Gelar Kreasi Budaya Semedo, sarasehan, lokakarya mencanting, workshop cukil hingga Semedolan di Selasar Museum Semedo yang berlangsung pada 1-29 November 2026.
Kurator Pameran Museum Semedo, Indah Nurafani Syarqiyah mengatakan, Wanara Seba 2026 menghadirkan sejumlah kegiatan budaya dan edukasi. Pameran MetamorFosil terbuka gratis untuk umum pada Selasa-Minggu pukul 08.00-15.30 WIB. Namun, pengunjung yang ingin memasuki ruang pamer utama Museum Semedo tetap dikenakan tiket masuk. Dalam pameran tersebut, pengunjung diajak melihat perubahan cara masyarakat memaknai fosil, mulai dari pengetahuan lokal, penelitian ilmiah, hingga upaya mewariskannya kepada generasi mendatang.
"Museum Semedo berupaya mendekatkan warisan prasejarah dengan kehidupan masyarakat sekaligus mendorong pelestarian Kawasan Cagar Budaya Semedo," harapnya.
Selain pameran, lanjut dia, Gelar Kreasi Budaya Semedo, sarasehan, lokakarya mencanting pada 8 November, workshop cukil pada 15 November, serta SEMEDOLAN berupa jelajah Kampung Budaya Desa Semedo pada 28-29 November 2026.
Baca Juga: Buah Manis Kepercayaan, Investasi Senilai Rp9,7 Triliun Segera Masuk Jateng
"Pengunjung juga dapat mengikuti Misi Jelajah melalui buku misi interaktif untuk mengenal berbagai titik di kawasan museum," terangnya.
Dijelaskan, MetamorFosil merepresentasikan perubahan cara pandang masyarakat terhadap fosil yang turut membentuk identitas Semedo hingga dikenal seperti sekarang. Melalui tiga persona, yakni Suluh, Cahaya, dan Nyala, pameran merangkai perjalanan pengetahuan tersebut. Persona Suluh mengangkat peran masyarakat lokal yang sejak awal menemukan, mengumpulkan, dan merawat fosil. Sejumlah perintis yang ditampilkan di antaranya Dakri, Duman, Sunardi, dan Ansori atau dikenal sebagai Ki Watu Balung.
Sementara persona Cahaya memperlihatkan perkembangan penelitian dan pengelolaan fosil Semedo melalui dokumentasi survei 2013-2022. Bagian ini juga menampilkan empat fosil unggulan asli, yakni satu tengkorak Homo erectus dan tiga rahang bawah beserta gigi-geligi Gigantopithecus.
"Persona Nyala membawa pesan keberlanjutan pengetahuan bagi generasi mendatang. Bagian ini menghadirkan empat artefak tulang, satu fosil tumbuhan, dan delapan fosil vertebrata lainnya," ujar Indah. ***
Artikel Terkait

Kapolres Pekalongan Cek Kesiapan Sarpras Penanggulangan Bencana Banjir dan Longsor

Kota Tegal Bangun 5 Pintu Air di Kawasan Pesisir Muarareja

Fikri Faqih Ungkap Paradigma Program BKKBN Berubah, Kini Mengarah Ketahanan Keluarga
