Arah Investasi Disusun hingga 2045, Tegal Bidik Hub Maritim dan Perdagangan

Kota Tegal menyusun RUPM 2025-2045 untuk memperkuat investasi maritim, perdagangan, manufaktur, hilirisasi, UMKM, serta penyerapan tenaga kerja hingga 2045.
TEGAL, puskapik.com - Kota Tegal mulai menata ulang arah investasi hingga dua dekade ke depan dengan membidik posisi sebagai simpul maritim dan perdagangan di jalur Pantura Barat Jawa Tengah.
Strategi ini disiapkan untuk menggeser pola investasi dari sekadar masuknya modal menjadi pengungkit transformasi ekonomi daerah.
Upaya tersebut mengemuka dalam penyusunan Rencana Umum Penanaman Modal atau RUPM Kota Tegal 2025-2045 yang tengah difinalisasi, di Gedung MPP, Rabu 23 September 2026.
Baca Juga: Pelatihan Barber di Tegal Disiapkan Cetak Wirausaha Muda Baru
Dokumen ini dirancang selaras dengan kebijakan nasional dan provinsi, sekaligus menegaskan peran Tegal dalam koridor pengembangan Bregasmalang sebagai kawasan industri padat karya dan maritim di Jawa Tengah.
Dalam rancangan tersebut, Kota Tegal tidak lagi hanya diposisikan sebagai kota jasa dan perdagangan, tetapi diarahkan menjadi pusat manufaktur ringan berbasis maritim.
Sektor unggulan yang didorong meliputi galangan kapal, industri pengecoran logam serta pengolahan hasil perikanan yang terhubung dengan aktivitas pelabuhan.
Penata Kelola Penanaman Modal DPMPTSP Provinsi Jawa Tengah, Rutty Yosika, menegaskan bahwa kebijakan investasi ke depan tidak lagi sekadar mengejar angka, tetapi kualitas dan dampaknya terhadap ekonomi daerah.
Menurut Rutty, fokus penanaman modal di Jawa Tengah diarahkan pada hilirisasi agroindustri, penguatan industri manufaktur berorientasi ekspor serta pengembangan ekonomi hijau melalui energi terbarukan dan industri berkelanjutan.
Selain itu, pemerintah juga mendorong keterlibatan UMKM dalam rantai pasok industri serta peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pendidikan vokasi dan sertifikasi kompetensi.
"Penanaman modal harus mampu menciptakan nilai tambah, menyerap tenaga kerja dan terhubung dengan potensi lokal daerah," ujar Rutty.
Dalam kerangka itu, Kota Tegal diposisikan sebagai bagian dari wilayah pengembangan Bregasmalang yang memiliki peran strategis sebagai koridor industri dan maritim di Jawa Tengah.
Sekretaris DPMPTSP Kota Tegal, Novi Sumardi menjelaskan, penyusunan RUPM menjadi kebutuhan mendesak setelah dokumen sebelumnya berakhir pada 2025.
Rencana baru ini akan menjadi acuan kebijakan investasi daerah hingga 2045.
"RUPM ini menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan penanaman modal yang produktif dan berkualitas," kata Novi.
Selain menata arah sektor prioritas, pemerintah juga menekankan pembenahan iklim usaha melalui penyederhanaan perizinan berbasis digital.
Sistem Online Single Submission atau OSS berbasis risiko, menjadi tulang punggung untuk meningkatkan kepastian hukum dan efisiensi layanan investasi.
Data kinerja investasi menunjukkan tren yang relatif positif. Sepanjang 2025, nilai investasi di Kota Tegal mencapai sekitar Rp 2,62 triliun dengan total 7.532 Nomor Induk Berusaha atau NIB yang terbit dan menyerap lebih dari 22.000 tenaga kerja.
Capaian tersebut menempatkan 2025 sebagai salah satu tahun dengan realisasi investasi tertinggi dalam lima tahun terakhir, setelah puncaknya terjadi pada 2022 dengan nilai sekitar Rp 3,19 triliun.
Tren ini mencerminkan bahwa minat investor masih terjaga, meski tantangan pada kualitas investasi dan daya serap tenaga kerja tetap menjadi perhatian. **