Desil di Kota Bermasalah, Wali Kota Tegal Dorong Evaluasi ke Pusat

Dedy Yon Soroti Perubahan Desil DTSEN di Kota Tegal yang Berdampak pada Bansos. Ia meminta data diperbaiki agar bantuan lebih tepat sasaran.
TEGAL, puskapik.com - Wali Kota Tegal, Dedy Yon Supriyono, menyikapi perubahan desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN, yang dinilai masih perlu perbaikan menyeluruh, khususnya di Kota Tegal.
Hal itu disampaikan saat kegiatan pentashorufan zakat, infak dan sedekah Baznas Kota Tegal di Pendopo Ki Gede Sebayu, Kamis 3 September 2026.
Menurut Dedy, klasifikasi desil yang membagi masyarakat dalam kelompok kesejahteraan.
Baca Juga: PTMSI Pemalang Sayangkan Pergantian Atlet Sepihak di Popda Jateng
Mulai desil 1-3 (terbawah), 4-6 (menengah) hingga 7-10 (atas), harus disusun secara lebih akurat karena berdampak langsung pada penentuan penerima bantuan sosial.
"Desil harus diperbaiki secara umum di Indonesia, khususnya Kota Tegal, karena menyangkut status sosial ekonomi masyarakat," ujar Dedy.
Dedy menegaskan, perubahan status desil tidak bisa dilakukan secara instan oleh pemerintah daerah.
Baca Juga: Hendak Salip Truk Tronton, Motor Vario Tersenggol hingga Terjatuh di Jalan Raya Kaliwungu Kendal
Prosesnya harus melalui tahapan panjang, termasuk evaluasi dan pengajuan ke pemerintah pusat serta Badan Pusat Statistik atau BPS.
"Kalau ada ketidaksesuaian, tidak serta-merta bisa langsung diubah. Ada mekanisme dan tahapan yang harus dilalui," kata Dedy.
Dalam kesempatan itu, Dedy juga mendorong pola penyaluran bantuan dari Baznas, agar lebih tersegmentasi berdasarkan kelompok usia.
Dedy menyebut, kelompok usia 1-18 tahun dapat difokuskan pada bantuan dasar, sementara usia produktif 19-60 tahun perlu didorong melalui bantuan berbasis pemberdayaan.
"Untuk usia produktif, berikan kail, bukan sekadar bantuan langsung," ujar Dedy.
Sementara itu, untuk kelompok lanjut usia atau dengan kondisi tertentu, bantuan dapat diberikan dalam bentuk kebutuhan konsumtif seperti makanan dan dukungan finansial.
Dedy menilai, pendekatan tersebut penting untuk menciptakan siklus keberdayaan, di mana penerima bantuan atau mustahik) dapat bertransformasi menjadi pemberi atau muzaki, secara berkelanjutan.


