Kampung Kauman Tegal Terkenal sejak Masa Mataram Islam hingga Jadi Sentra Tenun Sarung

Selasa, 3 Maret 2026 | 22.57 WIB
Madrasah Al Hidaajah, menjadi salah satu pesantren pertama yang berdiri di Kampung Kauman, hingga melahirkan tokoh-tokoh ulama. Foto : Arsip Abdullah Sungkar
Madrasah Al Hidaajah, menjadi salah satu pesantren pertama yang berdiri di Kampung Kauman, hingga melahirkan tokoh-tokoh ulama. Foto : Arsip Abdullah Sungkar

Kampung Kauman Kota Tegal, sebuah kawasan tua menyimpan jejak panjang perjalanan agama, perdagangan hingga percampuran etnis.

KOTA TEGAL, puskapik.com - Di jantung Kota Tegal, sebuah kawasan tua menyimpan jejak panjang perjalanan agama, perdagangan hingga percampuran etnis.

Namanya Kampung Kauman. Sebagian sejarawan meyakini, istilah ‘Kauman’ berasal dari bahasa Arab, qoum, yang berarti golongan.

Kata ini merujuk pada qoumuddin atau golongan ahli agama.

Tak heran bila Kauman kerap dilekatkan dengan keberadaan penghulu, pejabat pemerintahan yang mengurusi urusan agama pada masa Mataram Islam.

Baca Juga: Pemerintah Bakal Evaluasi Dapur MBG di Kabupaten Pemalang

Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Kota Tegal, Firman Hadi, menuturkan bahwa dalam struktur pemerintahan Islam kala itu, penghulu memiliki kewenangan mengurus persoalan keagamaan, baik di lingkup istana maupun kadipaten.

“Di setiap kadipaten, penghulu berkantor di kompleks Masjid Besar atau Masjid Agung yang menjadi pusat spiritual. Di Tegal pun demikian. Penghulu menempati kantor di kompleks Masjid Agung Tegal dan masih difungsikan hingga pasca kemerdekaan,” ujar Firman Hadi.

Namun, struktur itu berubah setelah terbentuknya Departemen Agama. Jabatan penghulu di tingkat kotamadya dan kabupaten bertransformasi menjadi Kantor Departemen Agama.

Hingga awal 1980-an, Kantor Departemen Agama Tegal masih membawahi wilayah kotamadya dan kabupaten, sebelum akhirnya dipisah dan kantor berpindah dari kompleks masjid.

Meski demikian, asal-usul Kauman yang letaknya tidak persis berdekatan dengan masjid agung belum memiliki catatan valid.

Beredar cerita tutur bahwa seorang penghulu memiliki lebih dari satu istri yang tinggal berjauhan. Rumah-rumah kediaman keluarga penghulu itulah yang kemudian disebut sebagai Kauman. Namun kisah ini belum memiliki dasar arsip yang kuat.

Baca Juga: Gerhana Bulan dan Ketepatan Hisab: Saat Ilmu Membuktikan

Ahli perancangan kota, Abdullah Sungkar, melihat Kauman dari sudut morfologi ruang.

Sungkar membedakan antara Kampung Kauman dan Kelurahan Pekauman. Secara geografis, Kampung Kauman dibatasi Jalan Diponegoro di timur, Jalan Gajah Mada di barat, Jalan Jenderal Sudirman di selatan dan Jalan HOS Cokroaminoto di utara.

Menurut Sungkar, usia Masjid Agung Tegal bisa jadi lebih muda dibanding pertumbuhan awal kampungnya.

“Letak masjid yang pertama masih perlu penelitian. Kalau melihat peta master plan Belanda tahun 1757, tata ruangnya sudah berbentuk grid atau blok-blok seperti papan catur. Itu menunjukkan pengaruh kolonial,” kata Sungkar, Selasa 3 Maret 2026.

Bagian Kauman Tengah hingga Kauman Utara, lanjut Sungkar, menunjukkan pola grid modern.

Sementara Kauman Selatan hingga kawasan Dukuh Pasar Ireng, memiliki pola organik dengan gang-gang kecil berkelok. Pola semacam ini mengingatkannya pada perkampungan Kauman di Yogyakarta, yang tumbuh secara alami.

Salah satu artefak penting yang pernah berdiri di kawasan itu adalah Madrasah Al Hidayah (atau Al Hidaajah), terletak di perempatan Jalan Kauman Utara dan Kauman Tengah.

Bangunan yang kini telah berubah menjadi rumah tinggal itu, menurut catatan keluarga Sungkar, sudah tampak kuno pada 1927.

Sungkar memperkirakan bangunan tersebut berdiri sejak akhir abad ke-19, berbarengan dengan masuknya komunitas Arab Hadramaut ke Tegal sekitar 1860-an.

Dari sinilah Kauman Tegal dikenal sebagai salah satu ‘Kampung Arab’.

Sungkar menyebut, risetnya menunjukkan keberadaan komunitas Arab yang kuat di kawasan Jalan Delima atau Gang Baesah. Rumah pertama di gang tersebut, yang diperkirakan berdiri pada 1880-an, masih ada hingga kini.

Sungkar menilai kecil kemungkinan kota sebesar Tegal, yang dikenal sebagai Kota Santri, tidak memiliki masjid tua.

Sungkar menduga, keberadaan Masjid Agung berkaitan erat dengan pembangunan rumah bupati atau kadipaten pada abad ke-19.

Baca Juga: Menko Pangan Apresiasi Kinerja Jateng dalam MBG dan Pangan

Dalam konsepsi tata ruang tradisional Jawa yang mengadopsi miniatur keraton seperti di Surakarta dan Yogyakarta, masjid biasanya berada di barat alun-alun, kadipaten di tengah dan pasar di utara.

Pola ini umumnya berada di dekat sungai sebagai jalur transportasi utama kala itu. Di Tegal, peran itu diduga dijalankan oleh Sungai Kaligung.

Selain Masjid Agung, terdapat Masjid Hajren di Kauman Selatan, yang semula bernama Masjid Basalamah, dari keluarga wakif marga Basalamah asal Hadramaut.

Masjid ini diperkirakan berdiri antara 1900 hingga 1927. Nama Hajren merujuk pada daerah asal keluarga tersebut di Hadramaut, Yaman.

Memasuki dekade 1930-an, Kauman mulai mengenal industri tenun. Benang dan pewarna telah digunakan dan hingga kini tradisi tenun sarung masih bertahan. Selain itu, sebagian warga dikenal sebagai pedagang, pengrajin sepatu hingga pelaku usaha kemasan.

Di sisi timur kawasan, geliat kuliner tumbuh di Pasar Ireng. Di sana dikenal nasi ponggol, nasi lengko dan nasi aduk-aduk, kuliner khas Kauman berupa nasi dengan sambal goreng tempe dan kacang tunggak. Namun, menurut Sungkar, nasi aduk-aduk kini hampir punah.

Tradisi religius juga kuat mewarnai kehidupan warga. Seni terbangan dengan salawatan menjadi ciri khas, berbeda dengan kesenian kencrengan di wilayah lain. Terbangan biasanya hadir dalam arak-arakan pengantin, sunatan hingga peringatan Maulid Nabi.

Pada bulan Ramadan, warga menggelar malam selikuran pada malam ke-21 sebagai bagian dari tradisi menyambut Lailatul Qadar.

Jejak pendidikan agama pun tampak dari berdirinya Madrasah Al Hidayah, yang didirikan Ustad Umar pendatang dari Malaysia bersama warga setempat.

Komunitas Melayu keturunan Malaysia yang dahulu dikenal dengan sebutan ‘ncik’ juga mewarnai kehidupan sosial, termasuk tradisi silat.

Bagi Sungkar, Kauman adalah kampung multi etnis. Selain pribumi, kawasan ini dihuni komunitas Arab Hadramaut dan etnis Melayu.

Hampir seluruh jalan utama dahulu dimiliki keluarga Arab, sebelum sebagian dijual kepada etnis lain pada 1950-an.

Kauman pun pernah dikenal sebagai kawasan yang dikelilingi kebun-kebun luas, seperti Kebun H. Anwar hingga ke kawasan yang kini menjadi Hotel Alexander, serta kebun milik Soleh Makbul Alkatiri.

“Cerita tutur memang banyak, tapi sulit dijadikan sumber. Saya melihatnya dari artefak yang jelas,” ujar Sungkar.

Di antara gang-gang berkelok dan jalan-jalan grid warisan kolonial, Kampung Kauman menyimpan lapisan sejarah yang belum seluruhnya terkuak. Dia bukan sekadar nama kampung, melainkan simpul pertemuan agama, perdagangan dan peradaban yang membentuk wajah Kota Tegal hari ini.***

Artikel Terkait