Kolaborasi GTRA-Primebiz, Batik Tegal Masuk Etalase Hotel

GTRA Kota Tegal dan PrimeBiz Hotel bekerja sama memasarkan batik Tegal melalui etalase hotel untuk memperluas akses pasar dan meningkatkan penjualan perajin.
TEGAL, puskapik.com - Upaya memperkuat pemasaran produk lokal terus didorong Pemerintah Kota Tegal, melalui skema Reforma Agraria.
Salah satunya melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Gugus Tugas Reforma Agraria atau GTRA Kota Tegal, dengan Primebiz Hotel Tegal di Griya Batik, Selasa 29 September 2026.
Kerja sama ini membuka akses baru bagi pengrajin batik untuk memasarkan produknya langsung di lingkungan hotel, sehingga lebih mudah dijangkau wisatawan maupun tamu dari luar daerah.
Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota Tegal, Heru Prasetya mengatakan, kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya membangkitkan sektor batik, khususnya di Kecamatan Tegal Selatan.
"Harapannya produk batik Tegal bisa lebih dikenal luas. Nanti di hotel akan disiapkan etalase di titik strategis, sehingga setiap tamu bisa langsung melihat produk lokal, lengkap dengan informasi pengrajinnya," ujar Heru.
Baca Juga: Kebakaran Rumah Walet di Sipayung Tegal, Diduga Dipicu Pembakaran Sampah
Menurut Heru, langkah ini diharapkan berdampak langsung pada peningkatan penjualan dan kesejahteraan pelaku usaha batik.
Selain itu, tamu hotel juga diarahkan untuk bisa membeli produk baik di hotel maupun langsung ke sentra Griya Batik.
Tak hanya sektor kerajinan, kolaborasi ini juga berpotensi diperluas ke produk UMKM lain, termasuk kuliner.
Heru menyebut, pihak hotel juga mendorong keterlibatan dunia pendidikan, khususnya SMK, agar tersambung dengan kebutuhan industri perhotelan.
"Kami akan hubungkan dengan SMK, sehingga lulusan bisa langsung terserap dengan kualitas yang sesuai kebutuhan industri. Ini bagian dari membangun ekosistem dari hulu ke hilir," kata Heru.
Pengawas Koperasi Cempaka Mulia Abadi Griya Batik, Ida Nursanti, menyambut baik kerja sama tersebut.
Ida berharap, promosi melalui hotel mampu meningkatkan penjualan produk batik yang selama ini diproduksi oleh sekitar 40 perajin aktif.
"Alhamdulillah sangat membantu. Mudah-mudahan dengan dipasarkan di hotel, penjualan kami bisa lebih meningkat," ujar Ida.
Ida menjelaskan, produksi batik di Griya Batik bersifat fluktuatif tergantung pesanan.
Dalam satu periode, produksi bisa mencapai lebih dari 100 potong, terutama saat ada permintaan besar atau kegiatan pelatihan.
Untuk harga, batik cap yang menjadi produk paling diminati dijual di kisaran Rp 130.000 hingga Rp 135.000 per potong, sementara batik klasik bisa mencapai Rp 350.000 ke atas, tergantung tingkat kerumitan dan teknik pengerjaan.
Baca Juga: Kristono UPS Presiden GenBI Tegal
Sementara itu, Plt Kepala Kantor ATR/ BPN Kota Tegal, Herman Saeri, menegaskan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari reforma agraria pada aspek akses reform, bukan hanya penataan aset.
"Ini bentuk pengembangan ekosistem UMKM. Kami tidak hanya memberikan kepastian legalitas, tetapi juga membuka akses pasar agar UMKM bisa berkembang," kata Herman.
Ke depan, model kolaborasi serupa diharapkan dapat diperluas ke berbagai sektor, termasuk kuliner, dengan melibatkan lebih banyak pelaku usaha dan mitra bisnis.
Sementara itu, General Manager PrimeBiz Hotel Tegal, Yungke Wibowo menyampaikan, pihaknya akan menyediakan ruang khusus untuk display produk batik sekaligus membantu penjualannya kepada tamu hotel.
"Kami sediakan tempat untuk memajang produk Griya Batik dan membantu menjualkannya kepada tamu yang menginap. Ke depan tidak menutup kemungkinan pengembangan kerja sama lain, termasuk penggunaan batik untuk kebutuhan hotel maupun pelatihan pemasaran," ujar Yungke.
Yungke menambahkan, untuk saat ini kerja sama masih difokuskan di PrimeBiz Tegal, namun berpeluang diperluas ke jaringan hotel lain. ***
Artikel Terkait

Cerita Warga Limpung Batang Tukar Uang Lusuh di Pegadaian, Kemitraan BI Tegal

Rumah Warga Pegundan Pemalang Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik

Dua Pelaku Diringkus, Polisi Brebes Amankan 200 Gram Ganja
