Mba Iin Ajak Santri Tegal Berani Bicara demi Memutus Rantai Kekerasan

Wakil Wali Kota Tegal Tazkiyyatul Muthmainnah (Mba Iin) ajak santri berani bicara dan laporkan kekerasan di pesantren saat Sarasehan Santri 2026.
Tegal, puskapik.com - Wakil Wali Kota Tegal, Tazkiyyatul Muthmainnah atau Mba Iin, meminta para santri berani melaporkan tindakan kekerasan dan perundungan di lingkungan pondok pesantren.
Mba Iin mengingatkan agar nilai ketaatan dan penghormatan kepada guru, tidak disalahgunakan untuk membungkam korban.
Pesan tersebut disampaikan Mba Iin saat membuka Sarasehan Santri 2026, rangkaian Hari Santri Nasional di Pendopo Ki Gede Sebayu, Kompleks Balai Kota Tegal, Rabu 21 Oktober 2026.
Menurut Mba Iin, pesantren harus menjadi lingkungan pendidikan yang aman, nyaman dan ramah anak.
Mba Iin menyayangkan adanya oknum yang melakukan kekerasan di lembaga pendidikan keagamaan.
"Pesantren menjadi pilar penting di negeri ini. Keberadaan pesantren saat ini dinodai dengan adanya oknum-oknum yang menjadi pelaku kekerasan. Ayo kita ciptakan pesantren yang ramah anak," kata Mba Iin.
Baca Juga: Downgrade : Hidup Makin Sulit, Utang Makin Melilit
Perempuan yang menjabat Ketua Fatayat NU Jateng ini menegaskan, santri harus berani berbicara atau speak up apabila mengalami maupun mengetahui tindakan kekerasan.
Mereka juga diminta segera melaporkan kejadian tersebut kepada orang yang dipercaya.
"Santri harus berani speak up apabila terjadi kekerasan atau melihat kekerasan. Segera lapor kepada orang terdekat. Jangan pernah dibodohi dengan modus ketaatan, takzim," ujar Mba Iin.
Mba Iin mengatakan, penghormatan kepada guru tidak boleh menjadi alasan untuk membiarkan kekerasan berlangsung.
Pelaporan diperlukan untuk mencegah munculnya korban lain.
Mba Iin juga menyoroti berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang menuntut perhatian bersama.
Menurut Mba Iin, perlindungan terhadap santri harus menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pendidikan di pesantren.
Sarasehan yang mengangkat tema "Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Pondok Pesantren" itu diikuti santri, pengasuh pondok pesantren dan peserta didik.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Saiful Mujab mengatakan, pesantren memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda sekaligus berkontribusi bagi bangsa.
Mujab mengajak para santri bangga terhadap identitasnya dan memastikan pesantren menjadi lingkungan pendidikan yang aman serta nyaman.
Baca Juga: Pecah Telur! Puguh Dwiko Susanto Sumbang Emas Pertama Pekalongan di Porprov Jateng 2026
"Pondok pesantren harus menjadi tempat pendidikan yang aman, nyaman, asri, sejuk, dan indah," kata Mujab.
Sementara itu, Pengarah Layanan Dasar Biro Kesejahteraan Rakyat dan Penanggulangan Kemiskinan Provinsi Jawa Tengah, Gunawan Sudharsoni berharap, peringatan Hari Santri dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan pesantren.
Dalam kegiatan tersebut, nara sumber dari Kemenag menyampaikan materi mengenai pesantren ramah anak, pencegahan kekerasan serta upaya memutus budaya diam.
Nara sumber dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Jawa Tengah, Uswatun Hasanah, turut membahas hak santri, pencegahan kekerasan dan jalur pelaporan yang aman.***



