Meteor Berusia Ratusan Tahun Ternyata Ada di Desa Jatilaba Tegal, Warga Beri Nama Wadas Lintang
Sabtu, 11 Oktober 2025 | 02.43

SLAWI, puskapik.com - Viral, penemuan batu diduga meteor di Desa Jatilaba, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal pada Minggu petang 5 Oktober 2025. Namun, ada yang lebih spektakuler, yakni batu besar y...
SLAWI, puskapik.com - Viral, penemuan batu diduga meteor di Desa Jatilaba, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal pada Minggu petang 5 Oktober 2025.
Namun, ada yang lebih spektakuler, yakni batu besar yang diduga meteor jatuh di Desa Jatilaba pada ratusan tahun lalu.
Desa Jatilaba agaknya titik favorit jatuhnya benda langit. Setelah viral jatuhnya batu meteor di desa itu pada beberapa waktu lalu, kini terungkap batu berukuran besar yang juga diduga meteor.
Batu yang dinamakan warga Wadas Lintang ini, berada di tengah areal lahan jagung. Batu yang menyerupai bukit kecil dengan ketinggian sekitar 5 meter itu, konon juga benda langit yang jatuh ratusan tahun lalu.
Jika ditelaah dari namanya, Wadas merupakan jenis batu andesit. Sedangkan, Lintang dalam bahasa Jawa, yakni bintang angkasa.
"Menurut cerita kakek saya, Wadas Lintang merupakan batu dari langit. Cerita ini turun temurun sejak ratusan tahun lalu," kata seorang warga RT 02 RW 08 Desa Jatilaba, Nurrohman saat ditemui di jalan menuju Wadas Lintang, Jumat 10 Oktober 2025.
Kakek berusia 72 tahun itu, mendapatkan cerita sejarah Wadas Lintang dari bapak dan kakeknya.
Dikisahkan, pada zaman dahulu ada kejadian aneh, yakni bunyi seperti guntur dari langit.
Kejadian itu berlangsung semalam 2 tahun. Pada suatu waktu, tiba-tiba dari langit jatuh tiga batu besar di desa tersebut.
Tiga batu berukuran raksasa itu, jatuh berjajar dari utara ke selatan. Jatuh yang ukurannya hampir sama ini, menimbulkan ledakan besar yang menyebabkan keluarnya air dari tanah.
"Air keluar sangat deras, sehingga membuat seperti danau. Warga pada waktu itu, warga berusaha untuk menutupi lubang air dengan karung pasir," ujar Nurohman.
Hingga akhirnya, lanjut dia, lubang tertutup dan kembali dijadikan ladang oleh warga sekitar.
Seiring berjalannya waktu, tiga batu besar itu dimanfaatkan warga untuk diambil batu kapurnya. Namun, satu batu yang berada di tengah tidak bisa dihancurkan.
"Sama penunggunya tidak boleh dihancurkan. Sampai saat ini, batu utuh tidak ada yang berani menghancurkan," ujarnya.
Cerita itu juga dibenarkan Kepala Desa Jatilaba, Jumadi. Kades yang sejak awal mengawal penemuan batu meteor oleh Ibnu, anak berusia 11 tahun tersebut, juga mendapatkan cerita yang sama dari para orang-orang terdahulu.
Ia menilai batu tersebut tidak sama dengan batu yang ada di sekitar desanya.
"Mungkin juga meteor yang seperti ditemukan Ibnu. Tapi, ini bentuknya besar menyerupai bukit kecil," ujarnya.
Hingga kini, Wadas Lintang hanya dibiarkan, karena banyak orang yang mempercayai ada kekuatan magis dalam batu tersebut.
"Belum ada yang meneliti, jadi benar atau tidaknya batu itu merupakan meteor belum tahu," pungkasnya. (Guntur)
Artikel Terkait

BI Tegal Naikkan Nilai Paket Penukaran Uang Lebaran Jadi Rp 5,3 Juta

Promosi Digital dan WiFi 1 Gbps, Dinkop UKM Tegal Genjot Kunjungan ke Pasar Tradisional

Baznas RI Resmikan 150 Zmart di Pantura, Ajak Mustahik Naik Kelas dan Mandiri
