Tegal Targetkan Kota Tanpa Sampah 2029, DLH Training 210 ASN

Senin, 11 Mei 2026 | 22.20
pengelolaan sampah Kota Tegal
Sejumlah ASN perwakilan OPD, puskesmas hingga sekolah, mengikuti praktik pembuatan eco enzym dan komposter tumpuk di Kantor DLH Kota Tegal, Senin 11 Mei 2026.

Pemerintah Kota Tegal, mulai tancap gas mewujudkan wacana besar kota tanpa sampah atau zero waste pada 2029 sebanyak 210 ASN dilatih pengelolaan sampah

TEGAL, puskapik.com - Pemerintah Kota Tegal, mulai tancap gas mewujudkan wacana besar kota tanpa sampah atau zero waste pada 2029.

Langkah awalnya, sebanyak 210 aparatur sipil negara atau ASN dilatih menjadi penggerak perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah.

Pelatihan yang digelar Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tegal ini merupakan tindak lanjut program Gropyokan Nangani lan Mberesi Sampah yang diluncurkan akhir April lalu.

Baca Juga: Apel Akbar Ansor-Banser dan Fatayat NU di Pemalang, Perkuat Soliditas

Para peserta berasal dari organisasi perangkat daerah atau OPD, puskesmas hingga sekolah.

Plt Kepala DLH Kota Tegal, Yuli Prasetiya mengatakan, pelatihan ini dirancang dengan skema training of trainers atau ToT.

Artinya, para ASN yang dilatih tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi wajib menularkan pengetahuan dan keterampilan ke lingkungan kerja masing-masing.

"Total ada 210 orang yang kami latih. Mereka ini nantinya akan mengedukasi ribuan ASN lain, bahkan turun langsung ke masyarakat," ujar Yuli, Senin 11 Mei 2026.

Dari pelatihan ini, Pemkot menargetkan sekitar 5.000 ASN memiliki pemahaman utuh soal pemilahan dan pengolahan sampah.

Mereka dijadwalkan mulai turun ke masyarakat pada 20-30 Mei 2026 untuk mengedukasi warga dari tingkat rumah tangga.

Materi pelatihan tidak sekadar teori. ASN dibekali praktik langsung, mulai dari teknik memilah sampah, membuat eco enzyme dan bioaktivator hingga berbagai metode komposter seperti biopori, komposter tumpuk dan kompos tanam.

Menurut Yuli, persoalan utama sampah di masyarakat bukan hanya soal fasilitas, melainkan pola pikir.

Selama ini, banyak warga menganggap masalah selesai ketika sampah dibuang ke tempat penampungan.

Padahal, konsep yang didorong adalah pengelolaan dari sumbernya.

Sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik bisa dimanfaatkan kembali sebagai barang bernilai.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait