Pasca Dihantam Banjir, Guci Masih Jadi Tempat Wisata Primadona saat Libur Lebaran, Ini Faktanya

Objek Wisata Guci di Kabupaten Tegal perlahan mulai bangkit dari keterpurukan pasca bencana banjir pada saat libur Lebaran 2026 ini
SLAWI, puskapik.com – Objek Wisata Guci di Kabupaten Tegal perlahan mulai bangkit dari keterpurukan pasca bencana banjir yang menerjang pada 24 Januari 2026 lalu.
Memasuki libur Lebaran, lonjakan pengunjung mulai terasa signifikan sejak Minggu, 22 Maret 2026 dengan jumlah mencapai 3.800 orang dalam sehari.
Tren positif ini berlanjut pada Senin, 23 Maret 2026 pagi, di mana hingga pukul 10.30 WIB tercatat sekitar 1.470 wisatawan telah memasuki kawasan.
Baca Juga: Cegah Kemacetan di Jalur Wisata Guci, Tim Urai Polres Tegal Gerak Cepat Atasi Kendaraan yang Mogok
Meski kondisi mulai ramai lancar, angka ini masih jauh di bawah catatan tahun lalu yang bisa menembus 6.000 hingga 7.000 pengunjung pada periode yang sama.
Kepala UPTD Guci, Wahyudi, mengungkapkan operasional Guci sempat terpukul hebat pasca banjir Januari.
"Setelah kejadian, selama satu bulan penuh kunjungan digratiskan, namun jumlah wisatawan tetap terjun bebas jauh di bawah normal," ujarnya.
Bahkan dalam kondisi harian setelah masa gratis tersebut, kunjungan hanya berkisar antara 40 hingga 100 orang per hari.
"Lebaran ini kami prediksi hanya mencapai setengah dari angka tahun lalu," tambah Wahyudi.
Harga Tiket Masuk
Bagi masyarakat yang ingin berlibur ke obyek wisata Guci, pengelola telah menetapkan tarif tiket masuk.
Pada hari libur, tiket dewasa dibanderol Rp20.000 dan anak-anak Rp18.000. Sementara untuk hari biasa, tiket dewasa sebesar Rp15.000 dan anak-anak Rp13.000.
Baca Juga: Anggota Polres Pekalongan Gugur Saat Bertugas dalam Operasi Ketupat Candi 2026
Terkait fasilitas pemandian air panas ikonik, Wahyudi menjelaskan bahwa Pancuran 13 saat ini masih berstatus ditutup sesuai koordinasi dengan BKSDA.
Namun, karena sulitnya menutup akses secara total, petugas gabungan dari UPTD, BKSDA, dan mitra terkait terus berjaga untuk memberikan imbauan.
"Kami mengimbau pengunjung agar tidak terlalu lama beraktivitas di Pancuran 13 maupun Pancuran 5. Tetap waspada," tambahnya.
Khusus untuk Pancuran 5, statusnya dinyatakan belum layak digunakan akibat kerusakan setelah diterjang banjir.
Sebagai alternatif yang aman, pengelola menyediakan 20 kamar mandi tertutup dengan fasilitas bathtub yang dapat dinikmati pengunjung secara gratis.
Selain itu, fasilitas air panas juga sudah tersedia di berbagai wahana dan penginapan.
"Lebih dari 90 persen hotel dan vila sudah tersalurkan air panas kembali," jelas Wahyudi.
Kondisi saat ini dirasakan sangat berbeda oleh para pelaku UMKM.
Sopani, warga Desa Tuwel yang berjualan minuman di kawasan Guci, mengakui adanya perubahan drastis. Meski sudah mulai ramai sejak Minggu, 22 Maret 2026 intensitasnya belum kembali seperti sebelum bencana.
Baca Juga: Libur Lebaran, Polres Brebes Siagakan Personel di Titik Wisata Strategis
"Sebelum ada bencana, pengunjung sangat ramai sampai jalanan macet total. Sekarang kondisinya berbeda, jauh lebih sepi dibanding lebaran dulu, tapi alhamdulillah sudah mulai ada pengunjung lagi sejak Minggu kemarin," tutur Sopani.
Penurunan jumlah wisatawan tahun ini juga dipengaruhi oleh pengalihan arus kendaraan besar.
Bus dari luar kota kini harus memutar lewat Pemalang dan Moga karena jalur utama Clirit yang telah diperbaiki hanya diperuntukkan bagi kendaraan kecil/ pribadi dan sepeda motor.
Saat ini bus luar kota dialihkan melalui exit tol Pemalang menuju Moga, lalu masuk ke Guci via Dukuh Tere. ***



