BRIN Ungkap Potensi Kelengkeng Petani Lokal Batang ke Pasar Hortikultura Nasional

Jumat, 15 Mei 2026 | 16.40
Workshop Petani Batang
Undip Batang bersama BRIN menggelar Workshop Teknologi Perbaikan Penampilan dan kadar Kekerasan Kulit Buah Kelengkeng di Aula Undip Kampus Bandar, Batang

BRIN siap memberikan solusi untuk memperbaiki tampilan kelengkeng hasil tanam petani lokal Batang yang berpotensi merambah pasar hortikultura nasional

BATANG, puskapik.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengapresiasi kepedulian Badan Pengelola Kampus di Luar Kampus Utama (BPK2U) Universitas Diponegoro di Batang menggelar workshop bersama para petani milenial.

Dalam kegiatan bertajuk "Teknologi Perbaikan Penampilan Kekerasan Kulit Kelengkeng", BRIN siap memberikan solusi untuk memperbaiki tampilan kelengkeng hasil tanam petani lokal Batang.

Salah satu peneliti BRIN, Arief Arianto, mengatakan, potensi buah kelengkeng sebagai salah satu komoditas unggulan lokal Kabupaten Batang memiliki peluang besar untuk dipasarkan di pasar hortikultura nasional.

Baca Juga: Bangun Disiplin Santri, Pondok Modern Tazakka Gandeng Kwarcab Batang Gelar Kursus Mahir Dasar

"Karena itu, inovasi riset dan teknologi sangat diperlukan untuk memperbaiki penampilan serta meningkatkan produktivitas buah kelengkeng,"katanya.

Misalnya, lanjut Arief Arianto, melalui penerapan teknik penanganan pascapanen, budidaya yang tepat, sehingga dihasilkan buah kelengkeng berkualitas.

"Dengan pola tersebut tentu akan menghasilkan tampilan cerah dan mengkilap, rasa yang legit, serta memiliki daya simpan dan masa kesegaran yang lebih lama. Sehingga buah dapat didistribusikan ke berbagai daerah dalam kondisi tetap baik,” jelasnya.

Menurut Arief, melalui pendekatan baru seperti bioekonomi sirkular dapat mendukung pengelolaan kebun kelengkeng yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Kelengkeng Buah Unggulan

"Saya mengapresiasi kelengkeng Batang karena memiliki potensial menjadi buah unggulan. Ke depan memiliki prospek besar pasar buah hortikultura nasional,"katanya.

Perwakilan petani kelengkeng milenial, Aditya Reza Kusuma mengatakan, meski rasanya manis dan ukuran buah cukup besar, namun warna kulitnya kalah dengan kelengkeng kualitas impor.

Itu menjadi catatan para petani milenial, karena warna kulit kelengkeng Batang cepat menghitam.

“Kelengkeng rasanya manis hanya saja warnanya kehitaman sehingga kurang menarik ketika dipajang di minimarket. Alhamdulillah kami didukung Undip, BRIN dan Indomart, yang memberi solusi mencelupkan kelengkeng usai dipanen, ke zat khusus yang aman bagi buah, supaya tampilannya jadi bersih harganya pun lebih bersaing,” ujarnya a.

Saat ini, kata Aditya, terdapat 8.000 pohon kelengkeng lokal Batang yang tersebar di beberapa titik.

Di antaranya, Kuripan, Subah, Timbang, Banyuputih, Tersono, dan Ngadirejo, Reban.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait