Rembug Komunitas di Batang Sepakat Perkuat Kedaulatan Desa

Jumat, 5 Juni 2026 | 22.11
Rembug Desa di Batang
Ketua Yayasan Cakrawangsa Indonesia Mulia Caswiyono Rusydie Cakrawangsa saat tampil pada acara Rembug Komunitas bertajuk “Strategi Pembangunan Desa Menghadapi Kapitalisme Negara” di Pendapa Agung Omah Tani, Bandar

Desa dan masyarakat perlu mengembangkan strategi resiliensi yang mampu memperkuat kapasitas lokal sekaligus memanfaatkan peluang pembangunan agar desa berdaulat

BATANG, puskapik.com - Yayasan Cakrawangsa Indonesia Mulia (CIM) bersama Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University menggelar Rembug Komunitas bertajuk “Strategi Pembangunan Desa Menghadapi Kapitalisme Negara”.

Acara berlangsung di Pendapa Agung Omah Tani, Tumbrep, Kecamatan Bandar, Kamis 4 Juni 2026 ini menghadirkan narasumber Kepala PSP3 IPB University, Dr Ivanovich Agusta, Pendiri Omah Tani Handoko Wibowo, Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Batang M Aminuddin.

Dari Pemkab Batang, Kepala Dispermades Akhmad Handy Hakim dan Ketua Paguyuban Kades Sang Pamomong Amat Rozikin, serta organisasi lainnya.

Baca Juga: Rakor Anggaran 2026, Wabup Suyono Apresiasi Capaian Pemkab Batang WTP 9 Kali

Diskusi menghasilkan kesepakatan strategis untuk memperkuat kemandirian desa di tengah menguatnya sentralisasi kebijakan pembangunan.

Forum tersebut mempertemukan pemerintah desa, komunitas tani, pengelola BUMDes, kelompok perempuan, organisasi kepemudaan, organisasi mahasiswa, pesantren, serta berbagai pegiat pembangunan pedesaan.

Peserta rembug menilai berbagai kebijakan pemerintah pusat dan transformasi struktural yang berlangsung di Kabupaten Batang menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pembangunan ekonomi perdesaan.

"Karena itu, desa dan masyarakat perlu mengembangkan strategi resiliensi yang mampu memperkuat kapasitas lokal sekaligus memanfaatkan peluang pembangunan untuk mewujudkan desa yang berdaulat, berkelanjutan, dan berkeadilan,"ujar Ketua Yayasan Cakrawangsa Indonesia Mulia, Caswiyono Rusydie Cakrawangsa seusai acara.

Menurut Caswiyono, kesepakatan tersebut lahir dari keprihatinan bersama atas semakin menguatnya pendekatan pembangunan yang cenderung terpusat, sehingga berpotensi mempersempit ruang inisiatif masyarakat desa.

“Desa harus memiliki kemampuan untuk menentukan masa depannya sendiri. Kelembagaan ekonomi lokal yang telah tumbuh melalui proses panjang perlu diperkuat agar mampu menjadi fondasi pembangunan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Diskusi dalam forum juga menyoroti berbagai kebijakan yang saat ini berkembang di tingkat desa, termasuk pembentukan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Peserta berpandangan setiap kebijakan baru perlu dipastikan mampu memperkuat ekosistem ekonomi desa secara keseluruhan.

Baca Juga: Bangun Benteng Hijau, 3.700 Bibit Mangrove Ditanam di Pesisir Brebes

"Tidak tumpang tindih dengan kelembagaan yang telah ada seperti BUM Desa, koperasi lokal, kelompok usaha masyarakat, dan UMKM desa,"tuturnya.***

Artikel Terkait