Begini Sejarah Telur Asin Brebes Hingga Menjadi Ikon Kebanggaan Daerah

Telur asin Brebes, produk unggulan bersejarah yang kini jadi ikon daerah, simbol budaya dan ekonomi rakyat, dengan rasa gurih mazir khas yang diakui nasional.
BREBES, puskapik.com - Melintas di jalur Pantura Kota Brebes, maka yang terlihat deretan toko telur asin. Ya, Brebes, Jawa Tengah memang dikenal sebagai salah satu daerah penghasil telur asin terbaik di Indonesia.
Bahkan ada istilah, ke Brebes belum lengkap jika belum merasakan telur asin khas Brebes.
Telur asin Brebes sekarang tebih dari sekadar makanan, tetapi telah menjelma menjadi identitas budaya, simbol ekonomi kerakyatan, sekaligus ikon daerah yang melekat kuat di benak masyarakat nasional.
Baca Juga: Banjir Sungai Keruh Bumiayu: Forpambes Usulkan Relokasi Pipa PDAM
Di balik cita rasa khas telur asin Brebes yang gurih, mazir, serta lezat, menyimpan sejarah panjang dan perjalanan budaya yang patut ditelusuri.
Bahkan, hingga akhirnya pada Oktober tahun 2020 Telur Asin Brebes ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kemendikbud.
Hal ini menjadi bukti pengakuan nilai tradisi, keterampilan, dan dampaknya bagi ekonomi lokal.
Baca Juga: Miris, Siswa Dua SDN di Limbangan Kulon Brebes Belajar Ditengah Banjir
Sejarah Telur Asin Brebes
Keberadaan telur asin Brebes ini ternyata berakar dari tradisi perantau Tionghoa atau In Tjiauw Seng sejak 1950-an.
Kala itu, telur asin Brebes pertama kali masuk pada tahap komersial. Dari semula hanya tradisi untuk mengawetkan makanan bagi keluarga Tionghoa saat berpergian, dan sebagai pelengkap sesaji saat tiba waktu sembahyang kepada Dewa Bumi.
Namun sejak saat itu peran telur asin berubah menjadi sebuah usaha yang menghasilkan.
Baca Juga: Sembilan Pejabat Eselon II dan Direktur Perumda Tirta Baribis Dilantik Bupati Brebes, Ini Daftarnya
Dari berbagai sumber yang digali puskapik.com, adalah keluarga Tjoa yang kali pertama merintis usaha telur asin Brebes ini.
Bahkan, usahanya ini bertahan hingga sekarang. Toko telur asin milik keluara Tjoa ini berada di Jalan P Diponegoro Brebes, tidak jauh dari Alun-alun Kota Brebes.
Keluarga Tionghoa lain yang dikenal sebagai perintis usaha telur asin ini ada Lina Pandi. Usahanya juga bertahan hingga saat ini, dan berada di Jalan P Diponegoro Brebes.
"Di Brebes pioner dari perajin telur asin adalah memang Keluarga Tjoa. Sekarang bahkan masih bertahan untuk memproduksi telur asin. Saat ini keluarga Tjoa sudah generasi ketiga yang melanjutkan," terang Budayawan Pantura Atmo Tan Sidik, kemarin.
Telur Asin Era Modern
Seiring waktu, telur asin Brebes kini tidak lagi sekadar konsumsi keluarga. Rasanya yang khas dan daya simpannya yang lebih lama membuat telur asin Brebes mulai diperdagangkan secara lokal.
Para pedagang membawanya ke pasar-pasar tradisional, kemudian menyebar ke wilayah sekitar Brebes hingga ke kota-kota besar.
Memasuki era modern, terutama pada dekade tahun 1980 hingga 1990-an, telur asin Brebes mulai dikenal secara nasional.
Banyak pelaku usaha rumahan yang mengembangkan produksi secara lebih serius, baik dari sisi jumlah maupun variasi. Bahkan di era 2000-an muncul inovasi seperti telur asin panggang, telur asin bakar, hingga telur asin asap, yang semakin memperkaya khazanah kuliner Brebes.
Sederet perajin telur asin dari warga asli Brebes juga bermunculan. Bahkan, bermunculan juga otlet-otlet telur asin model swalaya atau pusat oleh-oleh.
Ciri khas telur asin Brebes ini terletak pada kualitas telur itik dan teknik pengasinannya. Telur itik Brebes dikenal memiliki kuning telur yang besar dan bertekstur mazir, yakni berbutir dan berminyak.
Rasanya gurih yang seimbang, dan tidak terlalu asin. Inilah yang membedakan telur asin Brebes dengan telur asin dari daerah lain.
Masih menurut Atmo Tan Sidik, sejarah telur asin Brebes ini memang sebagai tradisi dari China untuk mengawetkan makanan. Tradisi itu kemudian di bawa masuk ke Brebes hingga berkembang seperti sekarang ini.
Perkembangan itu, juga didukung oleh geografis daerah pantura Brebes yang menjadi sumber penghasil telur itik. Dimana daerah pantura Brebes seperti Wanasari, Bulakamba hingga Losari mempunyai hamparan luas.
Sehingga banyak mengandung remis atau ikan kecil yang menjadi sumber makanan itik. Hal itu juga yang membedakan telur asin yang dibuat dari telur itik asli Brebes dengan daerah lain.
"Dulu saat saya menjadi Kepala Desa Pakijangan (1989-1997), banyak peternak yang menggebalakan itiknya. Kalau sekarang hasil telur dari itik yang digembalakan ini istilahnya telur Bebek Pangon. Telur asin dari Bebek Pangon ini pasti lebih enak. Bahkan, saat itu peternak dari desa kami juga keluar sebagai juara nasional," ungkapnya.
Julukan Kota Telur Asin
Dia mengungkapkan, produk telur asin Brebes ini semakin terkenal di era 2000-an. Dimana saat itu, arus mudik di jalur pantura mulai mengalami kemacetan.
Para pemudik yang istirahat di Brebes karena terjebak kemacetan membeli telur asin. Hal itu menjadi pangsa pasar yang luar biasa, hingga Brebes dikenal sebagai Kota Telur Asin.
"Para pemudik yang transit ini menjadi marketing yang manjur bagi pasaran Telur Asin Brebes. Setiap arus mudik, perajin dan peternak pasti akan mendapatkan berkah karena permintaan telur asin meroket. Namun sekarang berbeda, setelah ada tol trans Jawa," terangnya.
Saat ini di sepanjang jalur pantura Brebes, telur asin menjadi oleh-oleh wajib bagi para pelintas. Toko-toko telur asin berjejer rapi, menawarkan berbagai pilihan rasa dan kemasan.
Pemerintah daerah juga turut mendorong pengembangan telur asin sebagai produk unggulan daerah melalui pelatihan, pendampingan UMKM, sertifikasi halal, hingga promosi dalam berbagai event daerah dan nasional.
Telur asin kini telah menjadi simbol Brebes yang tak tergantikan. Nama Brebes dan telur asin seolah menyatu, saling menguatkan identitas satu sama lain. Bahkan, julukan Kota Telur Asin juga sudah melekat di Brebes. **



