Sudah Diteliti Sejak 1923, Ini Alasan Bumiayu Penting bagi Penelitian Fosil

Situs Bumiayu Brebes telah diteliti sejak 1923 dan menjadi kawasan penting penelitian fosil setelah ditemukan jejak fauna serta Homo erectus.
BREBES, puskapik.com – Situs Bumiayu di Kabupaten Brebes, memiliki sejarah panjang dalam penelitian fosil. Kawasan ini telah menjadi lokasi penelitian sejak 1923 dan hingga kini masih menyimpan berbagai jejak kehidupan masa lampau.
Fosil vertebrata hingga bukti keberadaan manusia purba ditemukan dari kawasan tersebut. Sejumlah temuan bahkan diperkirakan berusia lebih dari satu juta tahun.
Yang menarik, perjalanan penelitian itu berlangsung lebih dari satu abad. Riwayatnya tercatat dalam lini masa penelitian Bumiayu yang dipajang di Museum Purbakala Bumiayu.
Berdasarkan lini masa tersebut, penelitian di Situs Bumiayu dimulai pada 1923 ketika Van der Lerk melaporkan temuan fosil vertebrata di Bumiayu.
Dua tahun kemudian, Van Es dan H.G. Stehlin melanjutkan penelitian. Stehlin menyebut lapisan yang mengandung fosil di Bumiayu berasal dari periode Pliosen.
Baca Juga: Jabat Kapolres Tegal Kota, AKBP Christian Disambut Pedang Pora
Pada 1932, F.H. Van der Maarel menempatkan fauna Bumiayu sebagai salah satu himpunan fauna tertua di Jawa, dengan perkiraan usia sekitar 1,5 juta tahun.
Tiga tahun kemudian, G.H.R. von Koenigswald memasukkan Bumiayu dalam kajian biostratigrafi fauna Jawa.
Penelitian kembali berkembang pada 1980-an. John de Vos dan Paul Sondaar mengidentifikasi Fauna Satir dan Fauna Cisaat. Pada 1986, Francois Semah meneliti penanggalan lapisan yang mengandung fosil.
Setelah itu, aktivitas penelitian di Bumiayu tidak banyak terdengar.
Perhatian kembali tumbuh sekitar 2013 melalui upaya Rafli Rizal dan Karsono yang menyimpan serta mendokumentasikan fosil temuan warga sebelum dilaporkan kepada lembaga penelitian.
Upaya pelestarian kemudian berkembang dengan dibentuknya Kelompok Pelestari Fosil Bumiayu-Tonjong (Buton) pada 2015. Rafli menjadi salah satu penggeraknya dan menyediakan bangunan untuk menyimpan serta merawat fosil temuan warga.
Koleksi tersebut kemudian berkembang menjadi Museum Buton yang kini dikenal sebagai Museum Purbakala Bumiayu.
Bagi Rizal dan Karsono, fosil yang tersimpan di museum bukan sekadar benda lama.“Ini bukti otentik,” kata Rizal.
Baca Juga: Sah Dilantik Jadi Anggota BPD Karangmangu Tegal, Akhmad Nur Hidayat Tekankan Sinergitas
Pada 2016, BPSMP Sangiran menyelamatkan fosil Sinomastodon bumiayuensis dari Kali Glagah. Lembaga tersebut juga meneliti dan mengatalogkan koleksi fosil yang berada di museum.
Temuan penting kembali terjadi pada 2019. Karsono menemukan dua bonggol dan satu bagian tengah tulang paha di Kali Bodas.
Tim yang dipimpin Prof Harry Widianto kemudian meneliti temuan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bukti keberadaan Homo erectus dengan perkiraan usia sekitar 1,8 juta tahun.
Temuan tersebut semakin memperkuat arti penting Bumiayu dalam penelitian kehidupan purba di Jawa. Kawasan ini tidak hanya menyimpan fosil fauna, tetapi juga memberikan petunjuk mengenai keberadaan manusia purba.
Pada 2020, BPSMP Sangiran membantu menata koleksi Museum Buton agar dapat ditampilkan kepada masyarakat. Tahun tersebut menjadi catatan terakhir dalam lini masa yang dipajang di museum.
Meski demikian, penelitian di Bumiayu terus berkembang setelah periode tersebut.
Pada 26 April 2025, BRIN meresmikan Kawasan Stasiun Lapangan (KSL) Bumiayu di Dusun Maribaya, Desa Kalinusu, Kecamatan Bumiayu.
Fasilitas tersebut disiapkan untuk mendukung kegiatan riset arkeologi, termasuk paleontologi, konservasi, penyimpanan temuan, survei hingga ekskavasi.
Lebih dari satu abad sejak penelitian pertama dilakukan, Bumiayu tetap menjadi kawasan yang penting untuk mengungkap kehidupan masa lalu.
Jejak yang telah ditemukan menjadi bagian dari cerita panjang tentang kehidupan purba di Jawa, sementara penelitian berikutnya masih berpeluang membuka temuan-temuan baru. ***
Artikel Terkait

Jabat Kapolres Tegal Kota, AKBP Christian Disambut Pedang Pora

Sah Dilantik Jadi Anggota BPD Karangmangu Tegal, Akhmad Nur Hidayat Tekankan Sinergitas

Rumah Kayu di Selokaton Kendal Ludes Terbakar, Api Merembet ke Kandang Sapi
