Tradisi Ratiban di Pandansari Brebes, Warga Berebut Berkah dari Tumpeng dan Hasil Bumi

Ribuan warga memadati Telaga Ranjeng, Brebes, mengikuti tradisi Ratiban. Mereka berebut tumpeng dan hasil bumi yang diyakini membawa berkah serta keselamatan.
BREBES, puskapik.com – Suasana meriah mewarnai tradisi Ratiban di Telaga Ranjeng, Desa Pandansari, Kecamatan Paguyangan, Kabupaten Brebes, Rabu siang, 17 Juni 2026.
Warga tampak antusias berebut tumpeng dan gunungan hasil bumi yang diyakini membawa berkah.
Tradisi tahunan yang menjadi ungkapan syukur masyarakat atas rezeki, hasil pertanian, dan keselamatan itu kembali digelar dengan melibatkan ribuan warga desa setempat.
Baca Juga: Ahmad Luthfi Terima Penghargaan KPK, Jateng Lampaui Target ASN Berintegritas
Ratiban merupakan tradisi khas Desa Pandansari yang digelar setiap hari Kliwon pada bulan Suro atau Muharam.
Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun itu kini semakin dikenal setelah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) pada tahun 2025.
Rangkaian acara diawali dengan kirab dari kantor Desa Pandansari menuju Telaga Ranjeng.
Dalam arak-arakan tersebut, warga membawa tumpeng dan aneka hasil bumi yang menjadi ciri khas Ratiban.
Baca Juga: Jateng Masih Gratiskan PKB dan BBNKB Kendaraan Listrik
Setibanya di Telaga Ranjeng, peserta mengikuti istigasah dan doa bersama. Masyarakat juga melaksanakan ujud-ujud, tradisi doa dalam budaya Jawa yang diperkenalkan para wali saat penyebaran Islam di Pulau Jawa.
Puncak acara berlangsung saat kepungan atau makan bersama. Tumpeng dan hasil bumi yang telah didoakan menjadi rebutan warga karena dipercaya membawa keberkahan.
Usai kepungan, rangkaian tradisi dilanjutkan dengan memberi makan ikan-ikan penghuni Telaga Ranjeng. Ritual tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan Ratiban setiap tahunnya.
Kepala Desa Pandansari, Irwan Susanto, mengatakan Ratiban tahun ini mengusung tema The Ancient Echoes of Pandansari dengan tajuk Ngruwat Tirta, Nguri-uri Budaya Leluhur.
Menurutnya, tema tersebut menjadi pengingat agar warisan budaya leluhur tetap lestari dan terus dikenalkan kepada generasi muda.
"Kami ingin Ratiban tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas masyarakat Pandansari. Karena itu, tradisi ini perlu terus dikenalkan kepada generasi muda," ujarnya.
Selain ritual adat, Ratiban yang dihadiri Wakil Bupati Brebes Wurja dan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Brebes Fajar Adi Widiarso itu juga dimeriahkan berbagai pertunjukan seni budaya, seperti Tari Ratiban oleh Peradaban Art Club dan lomba tari kreasi tradisional tingkat sekolah dasar.
Tak hanya itu, penampilan Ronggeng yang menjadi ciri khas Desa Pandansari juga menyedot perhatian pengunjung.
Kesenian tradisional tersebut telah hadir sejak masa pembangunan Pabrik Teh Kaligua dan menjadi hiburan bagi para pekerja saat itu
Wakil Bupati Brebes Wurja mengapresiasi masyarakat yang terus menjaga tradisi Ratiban.
Menurutnya, pelestarian budaya lokal penting untuk menjaga identitas daerah sekaligus mengenalkan kekayaan budaya kepada generasi muda. **
Artikel Terkait

Empat Emas dari Kolam Kramat, Atlet POSSI Kota Tegal Warming Up Menuju Porprov Jateng

1.317 Pelajar di Kabupaten Tegal Semarakkan Islamic Youth Festival JSIT Indonesia 2026

Plt Bupati Nurkholes Nostalgia Vespa di Deklarasi SOG Indonesia Chapter Pemalang
