Dampak Maraknya PMK, Permintan Sapi Kurban Tahun ini di Kendal Menurun

Minggu, 26 April 2026 | 08.30
Pedangan sapi kurban di Kendal menunjukan sapi ke pembeli. (edhot)
Pedangan sapi kurban di Kendal menunjukan sapi ke pembeli. (edhot)

Dampak PMK, penjualan sapi kurban di Kendal menurun meski pembeli mulai datang, sementara harga justru naik akibat terbatasnya stok sapi sehat

KENDAL, puskapik.com – Menjelang Hari Raya Idul Adha, aktivitas penjualan hewan kurban di Kabupaten Kendal mulai menunjukkan peningkatan kunjungan pembeli.

Namun, kondisi tersebut belum berdampak signifikan terhadap jumlah transaksi.

Sejumlah pedagang mengaku penjualan tahun ini justru cenderung menurun dibandingkan tahun sebelumnya.

Salah satu pedagang sapi kurban di Desa Rejosari, Kecamatan Ngampel, Abas Komarudin, mengungkapkan bahwa penurunan penjualan dipengaruhi oleh dampak penyakit mulut dan kuku (PMK) yang sempat menyerang ternak.

Baca Juga: Pekerja Proyek Masjid di Kawasan Industri Kendal Ditemukan Meninggal Dunia

Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat lebih selektif dan berhati-hati dalam membeli hewan kurban.

“Memang pembeli mulai datang, tapi kalau dibandingkan tahun lalu jumlahnya menurun,” ujarnya.

Di tengah penurunan daya beli tersebut, harga sapi kurban justru mengalami kenaikan.

Abas menyebutkan, harga sapi tahun ini naik sekitar 15 persen dibandingkan tahun lalu. Kenaikan ini disebabkan terbatasnya ketersediaan sapi sehat di pasaran.

Baca Juga: Gubernur Luthfi Gagas Kontes Sapi Perah, Bidik Lonjakan Produksi Susu Jateng

Saat ini, ia memiliki stok sekitar 50 ekor sapi dengan harga berkisar antara Rp23 juta hingga Rp30 juta per ekor. Ia memastikan seluruh sapi yang dijual dalam kondisi sehat karena dirawat secara alami.

“Sapi kami dijamin sehat, pakannya rumput alami tanpa campuran bekatul maupun ampas tahu,” jelasnya.

Selain sebagai pedagang, Abas juga merupakan anggota DPRD Kabupaten Kendal dari Partai Kebangkitan Bangsa yang tetap menjalankan usaha peternakan di tengah kesibukannya sebagai wakil rakyat.

Meski harga mengalami kenaikan, minat masyarakat untuk berkurban masih terlihat.

Salah satu pembeli, Samiyo Puspito, warga Brangsong, mengaku membeli tiga ekor sapi untuk kebutuhan kurban di Mushola Baitul Muslimin.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait