Gratis, Operasi Bibir Sumbing di Tegal, Kelahiran Anak Bibir Sumbing 8.000 Pertahun

Pemkab Tegal gelar operasi bibir sumbing gratis bagi 39 pasien. Tiap tahun 7.000–8.000 bayi lahir dengan bibir sumbing di Indonesia.
SLAWI, puskapik.com - Angka kelahiran bayi di Indonesia dengan bibir sumbing maupun celah langit-langit masih berkisar 7.000 hingga 8.000 kasus per tahun.
Tinggalnya angka tersebut menginisiasi Pemkab Tegal untuk menggelar operasi bibit sumbing gratis di RSUD dr Soeselo Slawi, Jumat-Sabtu 29-30 Mei 2026.
Operasi bibit sumbing kepada 39 pasien itu, rangkaian Hari Jadi ke-425 Kabupaten Tegal dan HUT ke-78 RSUD dr Soeselo.
Baca Juga: Dedy Yon Geram, Parkir Liar di Jalan Pancasila Tegal Masih Marak
"Ini bukan sekadar layanan medis, tetapi juga wujud nyata kepedulian kemanusiaan. Melalui kegiatan ini, kita berupaya menghadirkan kembali senyum anak-anak kita serta memberikan harapan baru bagi mereka dan keluarganya untuk menjalani kehidupan yang lebih baik," kata Bupati Tegal Ischak Maulana Rohman saat membuka kegiatan di Aula Selatan RSUD Soeselo, Sabtu 30 Mei 2026.
Ia mengatakan, peringatan Hari Jadi Kabupaten Tegal tidak hanya diisi pembangunan fisik, tetapi juga program yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, termasuk layanan kesehatan. Ia berharap jumlah penderita bibir sumbing terus menurun dari tahun ke tahun.
"Harapan kita tentu bukan jumlah pasien yang semakin banyak, melainkan jumlah penderita bibir sumbing yang semakin berkurang dari tahun ke tahun," ujarnya.
Baca Juga: Pesantren Aman dari Kekerasan Perlu Peran Bersama, Tak Cukup Hanya Penegakan Hukum
Direktur RSUD dr Soeselo Slawi Guntur Muhammad Taqwin menjelaskan, dari total 39 pasien yang menjalani operasi, sebanyak 29 orang merupakan anak-anak dan 10 lainnya pasien dewasa. Sebagian besar berasal dari Kabupaten Tegal, sementara sisanya datang dari Kabupaten Semarang, Purbalingga, dan Pemalang.
"Kondisi bibir sumbing sering kali menimbulkan berbagai gangguan, mulai dari kesulitan makan, minum hingga berbicara. Mudah-mudahan melalui operasi ini para pasien, khususnya anak-anak, dapat kembali menjalankan aktivitas secara normal," kata Guntur.
Ia menambahkan kegiatan tersebut diharapkan menjadi agenda rutin karena tidak hanya membantu penanganan bibir sumbing, tetapi juga mendukung upaya pencegahan stunting melalui edukasi pemenuhan gizi dan pemeriksaan kehamilan atau Antenatal Care (ANC).
Sementara itu, Country Manager Smile Train Indonesia, Deasy Larasati menyebut pihaknya saat ini bekerja sama dengan 81 rumah sakit di Indonesia dan membantu sekitar 8.000 operasi bibir sumbing setiap tahun.
Menurutnya, angka kelahiran bayi dengan bibir sumbing maupun celah langit-langit masih berkisar 7.000 hingga 8.000 kasus per tahun.
"Anak-anak dengan kondisi bibir sumbing menghadapi tantangan fisik maupun psikologis. Karena itu, dukungan pemerintah daerah, rumah sakit, dan masyarakat sangat penting agar mereka tetap mendapatkan hak untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik," ujar Deasy.
Salah satu penerima manfaat program tersebut, Farikhatun, warga Kecamatan Jatinegara, mengaku terbantu dengan layanan operasi gratis yang dijalani putranya, Muhammad Jazil Attaillah (3).


