Di Bawah Jati, Kopi Mengubah Nasib Petani Ngareanak Kendal

Kopi di Desa Ngareanak, Kendal, tumbuh di bawah hutan jati dan berubah dari tanaman sela menjadi sumber penghidupan baru bagi warga desa hutan.
KENDAL, puskapik.com - Pagi belum sepenuhnya terang saat Slamet Riyadi menyusuri petak hutan jati di Desa Ngareanak, Kecamatan Singorojo.
Di sela batang-batang jati Perhutani yang menjulang, ratusan pohon kopi tumbuh rapi. Daunnya tipis, hijau tua, dan sarat bakal buah. Di tempat inilah, kopi pelan-pelan mengubah cara warga desa hutan memandang masa depan.
Bagi warga Ngareanak, kopi dulunya hanya tanaman sela. Ia ditanam sekadar mengisi ruang kosong di bawah tegakan jati.
Tidak ada target produksi, apalagi mimpi menjadikannya sumber utama penghidupan. Namun waktu mengajarkan hal lain. Dari tahun ke tahun, kopi justru menunjukkan wataknya tahan, adaptif, dan memberi harapan.
Baca Juga: Berhasil Tembus Pasar Internasional, Nawal Yasin Borong Kopi Khas Muria Kudus
“Kami dulu nanam kopi hanya sambil lalu. Sekarang, masyarakat sudah mulai menghitung hasilnya,” kata Slamet perwakilan dari Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Setia Jati Makmur.
Desa Ngareanak berada di ketinggian sekitar 175 meter di atas permukaan laut. Secara teori, wilayah ini bukan habitat ideal kopi kelas premium seperti Arabika.
Namun alam bekerja dengan caranya sendiri. Struktur tanah, kelembapan, dan naungan jati menciptakan karakter rasa yang berbeda. Robusta dan Excelsa tumbuh paling cocok, menghasilkan kopi dengan tubuh kuat dan aroma khas.
Baca Juga: Sekar KPH Kendal Dorong Agroforestry Berkelanjutan, Salurkan Ribuan Bibit Kopi dan Karet
“Rasa kopi itu mengikuti tempat tumbuhnya. Di sini beda dengan dataran tinggi. Ada ciri sendiri,” ujar Slamet sambil memetik satu dua ceri kopi yang mulai memerah.
Perbedaan rasa itu, menurut Slamet, bukan hanya soal ketinggian. Iklim, tanah, hingga cara petani memperlakukan tanaman ikut menentukan.
Kopi di Ngareanak tumbuh perlahan di bawah bayang jati, tidak terpapar matahari penuh, membuat buah matang lebih stabil.
Jenis yang paling banyak ditanam adalah Robusta daun sempit dan daun tipis. Bagi pesanggem hutan, jenis ini paling “bersahabat”. Tahan naungan, rajin berbuah, dan relatif mudah dirawat.
Dalam satu hektare lahan, sekitar seribu pohon kopi tumbuh berdampingan dengan jati. Saat tanaman memasuki usia empat tahun, satu pohon bisa menghasilkan sekitar lima kilogram kopi basah per tahun.
“Kalau dikumpulkan, satu hektare bisa lima ton kopi basah. Setelah dikeringkan, kira-kira satu ton per tahun,” tutur Slamet.
Artikel Terkait

Reaktivasi Stasiun Kaliwungu Bisa Dongkrak Ekonomi Lokal Kendal

Wajah Baru, Toko Mas Pantes Re-Opening di Ketanggungan Brebes, Ada Promo Spesial Jual Beli Emas

Dari Cangkang Telur, Susu, dan Madu, Pria Asal Tegal Ini Sulap Jadi Pipa Gading
