Dulu Dianggap Tak Bernilai, Dendeng Tembakau Kini Jadi Tambahan Cuan Petani Kendal

Senin, 3 Agustus 2026 | 16.07
Petani tembakau di kendal memanfaatkan daun paling bawah untuk dikeringkan dan dijual. (edhot)
Petani tembakau di kendal memanfaatkan daun paling bawah untuk dikeringkan dan dijual. (edhot)

Dendeng tembakau menjadi sumber penghasilan tambahan petani Kendal. Daun bagian bawah yang dikeringkan ini laku hingga Rp15.000 per kilogram untuk bahan baku rokok.

KENDAL, puskapik.com – Musim panen tembakau di Kabupaten Kendal tak hanya menghadirkan harapan dari hasil penjualan daun utama.

Di balik panen tersebut, daun tembakau bagian bawah yang telah mengering atau dikenal sebagai dendeng tembakau ternyata menjadi sumber penghasilan tambahan bagi petani karena memiliki nilai jual hingga Rp15.000 per kilogram.

Di Dukuh Tapak Barat, Desa Kedunggading, Kecamatan Ringinarum, petani tembakau Suwanto bersama istrinya, Juminah, memanfaatkan daun-daun paling bawah yang dipetik pada awal panen untuk diolah menjadi dendeng tembakau.

Baca Juga: Rumah Warga di Sukorejo Kendal Ludes Terbakar Saat Pemilik Terlelap, Diduga Akibat Korsleting

Menurut Suwanto, pembuatan dendeng membutuhkan ketelatenan. Setelah dipetik, daun dijemur di bawah terik matahari selama sekitar tiga hari hingga daun beserta pelepahnya benar-benar kering.

"Prosesnya cukup lama, sekitar tiga hari dijemur sampai daun dan pelepahnya benar-benar kering. Kesabaran sangat menentukan kualitas dendeng yang dihasilkan," ujar Suwanto, Senin (3/8/2026).

Ia menjelaskan, kualitas dendeng ditentukan dari kondisi daun yang tetap utuh tanpa sobekan. Selain itu, proses penyimpanan juga harus diperhatikan agar kelembapan daun tetap terjaga sehingga tidak mudah hancur saat dikemas.

Baca Juga: Gubernur Luthfi Gaet Investor Amerika, Tumpukan Sampah Soloraya Dibidik Jadi Energi

"Dendeng yang bagus itu masih utuh. Saat dimasukkan ke dalam karung kondisinya harus tetap lembap. Kalau terlalu kering, daun mudah rusak bahkan hancur," jelasnya.

Dari lahan tembakau seluas sekitar setengah hektare, Suwanto mampu menghasilkan sekitar 1,5 kuintal dendeng tembakau setiap awal musim panen. Produksi tersebut hanya dilakukan satu kali karena berasal dari daun bagian bawah yang dipetik pertama kali sebelum tanaman memasuki masa panen utama.

Tingginya permintaan membuat para pengepul rutin berkeliling ke sentra-sentra tembakau di Kecamatan Ringinarum. Salah satunya Sakroni, pengepul asal Ringinarum yang setiap awal musim panen membeli dendeng tembakau langsung dari petani.

Ia mengatakan, harga beli saat ini mencapai Rp15.000 per kilogram, namun hanya untuk daun yang memenuhi standar kualitas.

"Kami tidak membeli sembarangan. Daunnya harus utuh, tidak sobek, karena itu menentukan kualitas bahan baku untuk industri rokok," kata Sakroni.

Menurutnya, dendeng tembakau dari petani Kendal selanjutnya dipasok ke berbagai pabrik rokok, baik industri berskala besar maupun industri rumahan. Daun tersebut dimanfaatkan sebagai bahan baku utama maupun campuran (blending) dalam pembuatan rokok kretek hingga cerutu.

Tradisi berburu dendeng tembakau telah menjadi aktivitas rutin setiap awal musim panen di Kecamatan Ringinarum. Bagi petani, komoditas ini menjadi peluang usaha yang menguntungkan karena mampu meningkatkan nilai ekonomi dari bagian tanaman yang sebelumnya kerap dianggap sebagai limbah.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait