76.155 Warga Banyumas Terdampak Kekeringan, Pemkab Gelar Salat Istisqa

Senin, 12 Oktober 2026 | 21.31 WIB
Warga bersama jajaran Pemkab Banyumas khusyuk berdoa dalam salat istisqa memohon hujan di Alun-Alun Purwokerto.
Warga bersama jajaran Pemkab Banyumas khusyuk berdoa dalam salat istisqa memohon hujan di Alun-Alun Purwokerto. (Dok.)

Sebanyak 76.155 warga Banyumas terdampak kekeringan di 91 desa dan kelurahan. Pemkab Banyumas menggelar salat istisqa di Alun-Alun Purwokerto, memohon hujan segera turun.

PURWOKERTO, puskapik.com– Sebanyak 76.155 jiwa di Kabupaten Banyumas terdampak kekeringan akibat kemarau panjang. Di tengah sulitnya sebagian warga mendapatkan air bersih, Pemkab Banyumas menggelar salat istisqa di Alun-Alun Purwokerto, Senin, 12 Oktober 2026.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas per 12 Oktober 2026, kekeringan melanda 91 desa/kelurahan yang tersebar di 24 kecamatan. Jumlah warga terdampak mencapai 22.366 kepala keluarga (KK).

Selain menyalurkan bantuan air bersih setiap hari, Pemkab Banyumas mengajak masyarakat berikhtiar melalui doa bersama agar hujan segera turun.

Ratusan warga dari berbagai elemen mengikuti salat istisqa tersebut.

Baca Juga: LIGAKU 15 Pemalang Lahirkan Juara dan Harapan Baru

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, mengatakan, kekeringan yang terjadi saat ini menjadi keprihatinan bersama karena air sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pertanian, dan berbagai aktivitas masyarakat.

“Melalui salat istisqa ini, kita berikhtiar mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampunan atas segala kekhilafan, sekaligus memohon agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua,” kata Sadewo.

Ia berharap hujan segera turun dengan cukup sehingga masyarakat kembali mendapatkan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan air.

Sadewo juga menyampaikan terima kasih kepada para ulama, tokoh agama, dan warga yang ikut dalam pelaksanaan salat istisqa.

Di antara warga yang mengikuti salat istisqa adalah Nur Hidayah, warga Tanjung, Purwokerto. Ia mengaku tergerak untuk ikut berdoa karena prihatin melihat warga di sejumlah wilayah yang kesulitan mendapatkan air bersih.

“Karena tahun ini musim kemaraunya lama banget, hujan juga belum turun-turun,” ujarnya.

Baca Juga: Sampah Dibuang ke Hutan, SPPG Dawuhan Brebes Putus Kontrak Pihak Ketiga

Nur mengatakan, tempat tinggalnya hingga kini belum mengalami kekurangan air. Namun, kondisi itu membuatnya menyadari bahwa tidak semua warga Banyumas menghadapi situasi yang sama.

Ia menilai, kemarau panjang semestinya menjadi pengingat agar masyarakat lebih bijak menggunakan air. Menurutnya, kebiasaan membiarkan air meluap dari bak penampungan atau membuang air minum yang tersisa perlu dikurangi.

“Kadang ada yang mengisi bak air sampai meluap, minum kalau enggak habis dibuang begitu saja. Ternyata masih banyak orang yang membutuhkan air untuk kehidupan,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa sebagian warga harus menunggu bantuan air bersih atau menempuh perjalanan jauh untuk mencari sumber air.

Keadaan tersebut membuatnya berharap hujan segera turun dan kebutuhan air bersih warga yang terdampak kekeringan bisa segera terpenuhi. ***

Artikel Terkait