Ahmad Luthfi: Sukses Pembangunan Bukan Pada Angka, tapi Rakyat Sejahtera

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menegaskan keberhasilan pembangunan bukan sekadar angka, tetapi harus berdampak nyata pada kesejahteraan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.
SEMARANG, puskapik.com - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan seluruh kebijakan dan pembangunan di Jawa Tengah harus memiliki satu tujuan utama: meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pesan itu disampaikan seusai mengikuti Rapat Paripurna DPRD Jawa Tengah dalam rangka mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden RI Prabowo Subianto pada HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Jumat (14/8/2026).
Ahmad Luthfi mengatakan, pidato Presiden menjadi pengingat bagi seluruh jajaran pemerintah, termasuk pemerintah daerah, untuk bekerja lebih keras dan memastikan kebijakan yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Baca Juga: Tak Sekadar Bantuan, Program Desa Dampingan Jawa Tengah Hidupkan Perekonomian
“Kita telah mendengarkan pidato Pak Presiden. Intinya, kita harus bekerja keras untuk rakyat. Artinya, kita harus selalu mendengarkan apa yang dirasakan oleh masyarakat kita,” kata Luthfi didampingi Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen di Gedung Berlian, Kota Semarang.
Dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI-DPD RI, Presiden Prabowo memaparkan sejumlah capaian sekaligus arah pembangunan nasional, mulai dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan infrastruktur, pendidikan, perlindungan sosial hingga penguatan swasembada pangan.
Presiden juga menekankan pentingnya kemandirian pangan di tengah ketidakpastian global. Indonesia saat ini telah mencapai swasembada pada delapan komoditas pangan strategis, yakni beras, jagung, gula konsumsi, cabai besar, cabai rawit, daging ayam, telur ayam, dan bawang merah.
Bagi Luthfi, capaian nasional tersebut harus diterjemahkan ke dalam kerja konkret di daerah. Ia menegaskan keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari deretan angka dan indikator makro, tetapi dari seberapa besar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
“Itu semua adalah untuk kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Di Jawa Tengah, Luthfi menyebut penurunan kemiskinan menjadi salah satu indikator yang terus mendapat perhatian. Berdasarkan data Maret 2026, tingkat kemiskinan Jateng turun menjadi 9,21 persen, dibandingkan 9,48 persen pada Maret 2025.
Meski menurun, angka tersebut tetap menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah pemerintah. Karena itu, Pemprov Jateng memberikan perhatian kepada sekitar 3,9 juta masyarakat yang berada pada kelompok desil 1 hingga 4, terutama melalui kebijakan yang diarahkan untuk meningkatkan akses terhadap layanan dasar dan penguatan ekonomi masyarakat.
“Pembangunan harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Jangan sampai capaian hanya bagus di atas kertas, tetapi tidak dirasakan di bawah,” ujar Luthfi.
Selain kemiskinan, penguatan ekonomi daerah menjadi bagian penting dari strategi peningkatan kesejahteraan. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tercatat 5,71 persen secara tahunan (year on year) pada triwulan II 2026, sementara secara kumulatif Semester I 2026 mencapai 5,80 persen (c-to-c). Capaian tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.
Di tengah keterbatasan fiskal dan ketidakpastian geopolitik, capaian tersebut dinilai menjadi modal untuk menjaga optimisme sekaligus memperkuat kerja pembangunan di daerah.


