Bangunkan Lahan Tidur di Jateng, Ahmad Luthfi Targetkan Revola Direplikasi di 35 Daerah

Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menargetkan Revola Jateng Optimis direplikasi di 35 kabupaten/kota untuk mengaktifkan lahan tidur, memperkuat pangan, dan ekonomi warga.
BANJARNEGARA, puskapik.com - Lahan tidur yang selama bertahun-tahun tak produktif di Jawa Tengah akan diaktifkan untuk kembali menghasilkan.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menargetkan program Revolusi Lahan (Revola) Jateng Optimis direplikasi di seluruh 35 kabupaten/kota sebagai langkah memperkuat ketahanan pangan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Target itu disampaikan Ahmad Luthfi saat meresmikan dan meninjau langsung program Revola Jateng Optimis di Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Senin, 10 Agustus 2026.
Baca Juga: Kemendagri Sidak ke Disdukcapil Brebes, Dorong Warga Aktivasi IKD
Menurutnya, persoalan lahan tidur bukan hanya terjadi di Banjarnegara. Masih banyak lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal di berbagai daerah.
Karena itu, pemerintah provinsi harus hadir untuk mendorong agar lahan tersebut kembali produktif dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Saya pengen seluruh kabupaten/kota harus punya Revola, karena saya yakin di seluruh kabupaten/kota masih banyak lahan kita yang tidur nyenyak. Lahan tidur yang tidak pernah digarap, provinsi harus turun tangan,” kata Luthfi.
Baca Juga: Bukit Banowati di Desa Jojogan Watukumpul Pemalang Kebakaran
Revola Jateng Optimis, lanjut Luthfi, bukan sekadar membuka atau menggarap kembali lahan yang terbengkalai.
Program ini dirancang sebagai model pertanian terintegrasi yang menghubungkan sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, teknologi, hingga pemberdayaan masyarakat.
Di Desa Susukan, konsep tersebut diterapkan di lahan seluas 10 hektare yang sebelumnya sekitar 12 tahun tidak digarap secara optimal. Lahan eks tanaman teh itu kini dikembangkan dengan konsep integrated smart farming.
Baca Juga: Usung Tema Sinergi dan Inovasi Digital, RTIK Kabupaten Tegal Dikukuhkan
Komoditas kopi dan alpukat ditanam sebagai tanaman konservasi untuk membantu menahan erosi. Di kawasan yang sama dikembangkan pula tanaman hortikultura, padi, perikanan, serta peternakan ayam dan kambing.
Teknologi pertanian juga menjadi bagian penting dari program tersebut. Pengelolaannya diarahkan melibatkan petani milenial yang nantinya dapat mengoperasikan berbagai teknologi pertanian, mulai dari drone, sistem penyiraman hingga teknologi untuk mengukur unsur tanah.
“Semua tersambung, campur baur, sehingga ujungnya masyarakat sejahtera, masyarakat tidak nganggur, serta lahannya terpakai tidak pernah berhenti,” ujar Luthfi.


