Bukan Sekadar Pesta Panen, Pasar Gili Purwosari Jadi Penggerak UMKM Warga Kendal

Minggu, 27 September 2026 | 20.13 WIB
UMKM desa Purwosari Patebon ikut terdongkrak gelaran Pesta Panen Pasar Gili 2026
UMKM desa Purwosari Patebon ikut terdongkrak gelaran Pesta Panen Pasar Gili 2026 (Dokumen)

Pesta Panen Pasar Gili 2026 di Purwosari, Patebon, Kendal, menggerakkan UMKM warga sekaligus menghidupkan tradisi dan permainan rakyat desa.

KENDAL, puskapik.com - Suasana berbeda terlihat di Desa Purwosari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal. Jalan desa yang membelah hamparan persawahan sepanjang sekitar 500 meter berubah menjadi pusat keramaian warga dalam gelaran Pesta Panen Pasar Gili 2026, Minggu 27 september 2026.

Jalan yang biasanya menjadi akses warga tersebut dipadati pelaku usaha, pengunjung hingga peserta berbagai permainan rakyat. Bagi warga, pesta panen bukan lagi sekadar perayaan setelah musim panen, tetapi juga menjadi kesempatan menggerakkan perekonomian desa.

Kepala Desa Purwosari Akhmad Nur Wakhid mengatakan, keberadaan Pasar Gili memang dirancang agar aktivitas ekonomi masyarakat tidak hanya muncul ketika pesta panen berlangsung.

Setiap Minggu pagi, puluhan pelaku UMKM sudah memanfaatkan ruas jalan tersebut untuk berjualan.

Baca Juga: PSK Kendal Jadi Satu-satunya Komunitas Sastra Jateng Penerima Banpem Rp100 Juta

“Pasar ini terus berjalan rutin setiap pekan, tepatnya setiap Minggu pagi, mulai pukul 06.00 sampai 08.00,” kata Wakhid.

Jumlah pelaku usaha yang terlibat pun cukup banyak. Dalam setiap penyelenggaraan Pesta Panen, sekitar 70 hingga 80 UMKM ikut meramaikan Pasar Gili.

Mayoritas merupakan usaha rumahan milik warga Purwosari, termasuk kelompok UMKM yang dikelola kaum ibu.

Menurut Wakhid, keberadaan pasar tersebut memberikan ruang bagi masyarakat untuk memasarkan produk sekaligus menambah penghasilan keluarga.

Antusiasme pelaku UMKM semakin terlihat ketika Pesta Panen digelar. Jumlah pengunjung yang meningkat membuat penjualan pedagang ikut terdongkrak.

Ketua Panitia Pesta Panen 2026, Any Ismafarida, mengatakan para pelaku UMKM bahkan mengaku mendapatkan keuntungan lebih besar dibandingkan saat berjualan pada hari biasa.

“Apalagi pada momen Pesta Panen seperti ini, keuntungan mereka bisa naik beberapa kali lipat. Makanya mereka selalu meminta agar momen tahunan ini selalu digelar,” ujarnya.

Di tengah aktivitas ekonomi tersebut, Pesta Panen Pasar Gili tetap membawa misi menjaga tradisi masyarakat desa.

Penyelenggaraan tahun kelima ini kembali mengangkat tradisi loning atau irup, yakni jual beli dengan gabah sebagai alat transaksi.

Baca Juga: IMAKEN Punya Nahkoda Baru, Mahasiswa Kendal Disiapkan Jadi Penggerak Pembangunan

Any mengatakan tradisi tersebut merupakan bagian dari kebiasaan lama masyarakat yang kini sudah semakin jarang ditemui.

Karena itu, tradisi tersebut sengaja dimunculkan kembali bersamaan dengan pesta panen agar generasi muda mengenal warisan budaya yang pernah hidup di lingkungan pertanian.

Selain itu, berbagai permainan tradisional juga digelar, seperti lomba kitiran, layang-layang, memancing dan gogoh iwak. Anak-anak turut dilibatkan melalui lomba mewarnai.

“Yang unik itu lomba kitiran. Sekarang sudah jarang orang memasang kitiran di pinggir sawah atau jalan. Makanya ini kami angkat kembali agar tradisi ini juga hidup kembali,” jelas Any.

Menurutnya, konsep tersebut membuat Pesta Panen Pasar Gili memiliki fungsi yang lebih luas. Warga bisa merayakan hasil panen, mengenalkan permainan tradisional sekaligus menggerakkan roda ekonomi desa.

Pesta panen tahun ini juga berlangsung di tengah kenaikan harga gabah. Wakhid menyebut produktivitas panen masyarakat masih tergolong standar karena petani menghadapi musim kemarau yang cukup panjang.

Namun, kenaikan harga gabah memberikan keuntungan lebih bagi petani.

Jika sebelumnya harga gabah berada di kisaran Rp700 ribu per kuintal, saat panen kali ini harganya telah menembus lebih dari Rp800 ribu per kuintal.

“Produksinya standar, tetapi harganya naik cukup tinggi. Sekarang lebih dari Rp800 ribu,” ungkapnya.

Baca Juga: Terjepit di Kabin, Sopir Mobil Box Tewas Usai Tabrak Truk di Pantura Brangsong Kendal

Kondisi tersebut membuat Pesta Panen Pasar Gili tahun ini memiliki makna ganda bagi warga Purwosari. Di satu sisi menjadi ungkapan syukur atas hasil pertanian, di sisi lain menjadi ruang bertemunya pelaku usaha, masyarakat dan tradisi desa.

Wakhid berharap kegiatan tersebut dapat terus berlangsung dan berkembang tanpa meninggalkan akar budaya masyarakat Purwosari.

“Kami berharap pesta rakyat ini tidak hanya menjadi bentuk syukur atas hasil bumi, tetapi sekaligus menjadi upaya menjaga warisan budaya dan membuka ruang ekonomi bagi masyarakat desa kami,” katanya. ***

Artikel Terkait