Pangan Lokal Kendal Disiapkan Tembus Pasar Lebih Luas

DPP Kendal melatih kelompok tani dan KWT mengolah ubi, pisang, jagung hingga cabai menjadi produk pangan bernilai jual tinggi, lengkap dengan pemasaran dan sertifikasi halal.
KENDAL, puskapik.com – Ubi, pisang, jagung hingga cabai selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah. Di tangan kelompok tani dan Kelompok Wanita Tani (KWT), komoditas tersebut kini didorong menjadi aneka produk pangan dengan nilai jual lebih tinggi.
Upaya itu dilakukan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kendal melalui pelatihan pengolahan pangan lokal di wilayah penghasil tembakau dan cengkeh. Kegiatan tersebut mendapat dukungan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).
Sebanyak 55 peserta mengikuti pelatihan. Mereka berasal dari kelompok tani, KWT, dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang berasal dari enam kecamatan dan 11 desa binaan DPP Kendal.
Baca Juga: Mulai Oktober, Seragam ASN Kendal Berubah, Kamis Wajib Batik Khas Kendal
Bukan hanya belajar membuat makanan, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai pengemasan, pemasaran hingga sertifikasi halal. Dengan demikian, produk yang dihasilkan diharapkan tidak berhenti sebagai produksi rumahan, tetapi memiliki peluang masuk ke pasar yang lebih luas.
Analis Ketahanan Pangan Ahli Muda sekaligus Ketua Tim Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan DPP Kendal, Ely Astuti, mengatakan sertifikasi halal menjadi salah satu aspek yang penting bagi pengembangan produk pangan lokal.
“Untuk izin halal, kami hadirkan BPPJH dan kami sampaikan bahwa halal itu tidak ribet, karena ada aplikasi SEHATI dan gratis,” kata Ely.
Baca Juga: Lindungi Petani, Pemprov Jateng Gulirkan Program JTAB Petani Gajian
Dalam pelatihan tersebut, peserta diajak mengolah berbagai komoditas pertanian yang relatif mudah ditemukan di Kendal. Mulai dari ubi ungu, ubi kuning, ubi putih, ketela, pisang, jagung hingga cabai.
Bahan-bahan tersebut kemudian dikembangkan menjadi sejumlah produk, di antaranya bakpia ubi ungu, brownies, kukis, keripik jagung, singkong presto, tepung ubi-ubian, tepung pisang dan bubuk cabai.
Menurut Ely, pemilihan komoditas tersebut tidak lepas dari kondisi pertanian di Kendal. Selama ini sebagian hasil pertanian masih dipasarkan dalam bentuk bahan mentah atau hanya melalui pengolahan sederhana.
“Selama ini pangan lokal seperti ubi-ubian, ketela, dan pisang hanya dijual dalam bentuk minim olahan, bahkan dijual sebagai bahan mentah yang terbatas,” ujarnya.
Melalui diversifikasi produk, komoditas yang sebelumnya bernilai relatif rendah dapat memiliki bentuk dan nilai ekonomi yang lebih beragam.
“Percuma bisa produksi kalau tidak bisa memasarkannya,” tegas Ely.
Karena itu, peserta juga dikenalkan dengan pemasaran digital. DPP Kendal bahkan memperkenalkan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau AI untuk membantu membuat foto, video, serta materi promosi produk.
Ketua KWT Tri Manunggal Desa Pakisan, Widayati, menilai pelatihan tersebut memberikan pengalaman baru bagi kelompoknya.
Ia menyebut ubi dan pisang cukup mudah diperoleh di wilayah Patean. Namun, selama ini sebagian besar komoditas tersebut hanya dijual mentah atau diolah menjadi makanan sederhana seperti gorengan dan keripik.
“Pelatihan ini bagus menjadi salah satu cara untuk memanfaatkan bahan lokal menjadi banyak guna dan awet, terutama barang murah jadi lebih bernilai,” kata Widayati.
Ia juga mengaku baru mengetahui beragam olahan yang bisa dibuat dari bahan pangan lokal setelah mengikuti pelatihan.
“Ternyata bisa dibuat aneka macam roti dan kue,” ujarnya.
DPP Kendal berharap keterampilan yang diberikan dapat mendorong masyarakat lebih kreatif mengembangkan hasil pertanian. Dengan dukungan sertifikasi halal, kemasan yang lebih baik dan pemasaran digital, produk pangan lokal diharapkan memiliki daya saing sekaligus memberikan tambahan nilai ekonomi bagi petani dan pelaku usaha di daerah.