Petani Kendal Rela Tinggalkan Sawah Sehari, untuk Ramaikan Karnaval Kemerdekaan

Petani Desa Banyutowo, Kendal, rela meninggalkan sawah sehari untuk mengikuti karnaval HUT ke-81 RI. Berjalan tiga kilometer, warga merayakan kemerdekaan dengan penuh kebersamaan.
KENDAL, https://puskapik.com – Sejenak melupakan rutinitas di sawah, warga Desa Banyutowo, Kabupaten Kendal, tumpah ruah mengikuti karnaval untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Karnaval yang digelar warga RT 2 RW 1 Desa Banyutowo berlangsung semarak. Pesertanya berasal dari berbagai kalangan, mulai anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Dengan mengenakan aneka kostum, mereka berjalan kaki menyusuri jalan kampung hingga memasuki kawasan persawahan.
Rute karnaval mencapai sekitar tiga kilometer. Meski cukup jauh, peserta tetap bersemangat mengikuti pawai sampai garis akhir.
Beragam atraksi turut memeriahkan kegiatan tersebut. Warga mengarak gunungan sambil diiringi musik dari sound system dan drum band. Kesenian tradisional jaran kepang dan barongan juga ditampilkan sehingga suasana karnaval semakin meriah.
Uniknya, mayoritas peserta merupakan warga yang sehari-hari bekerja sebagai petani. Mereka sengaja meninggalkan aktivitas di sawah selama sehari untuk berkumpul dan merayakan kemerdekaan bersama warga lainnya.
Ketua RT 2 RW 1 Banyutowo, Suwarjo, mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan memeriahkan HUT Kemerdekaan. Karnaval juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarwarga.
Baca Juga: Pemprov Jateng Kirim Bantuan dan Relawan ke NTT, Ahmad Luthfi Pastikan Tepat Sasaran
Menurut dia, kesibukan warga sebagai petani membuat kesempatan berkumpul bersama tidak selalu mudah. Karena itu, momentum peringatan kemerdekaan dimanfaatkan untuk membangun kembali semangat kebersamaan.
Sementara itu, warga Banyutowo, Mustakim, mengatakan karnaval tersebut telah digelar selama tiga tahun berturut-turut. Setiap pelaksanaan selalu mendapat sambutan antusias dari masyarakat.
Jarak tempuh sekitar tiga kilometer tidak menjadi persoalan bagi peserta. Mereka tetap berjalan bersama hingga seluruh rangkaian karnaval selesai.
“Rasa lelah selama perjalanan terbayar dengan suasana kebersamaan. Warga bisa berkumpul dan menikmati hiburan bersama,” kata Mustakim.
Bagi warga Banyutowo, kemeriahan karnaval menjadi gambaran sederhana cara masyarakat desa mengisi kemerdekaan.
Sehari meninggalkan sawah, mereka bergembira bersama sekaligus menjaga kekompakan antarwarga. **
Artikel Terkait

Kasus Korupsi Bupati Pemalang, KPK Periksa 8 Saksi di Polrestabes Semarang

2.975 Pekerja Rentan di Kendal Sudah Terlindungi, ASN dan Perusahaan Diajak Ikut Bergerak

Hari Jadi Ke-81 Jateng: Pesantren Makin Berdaya, Santri dan Pengasuh Terakses Beasiswa
