Santri Kaliwungu Kendal Upacara HUT RI, Gus Sanaya: Tetap Berakar pada Tradisi, Maju Bersama Teknologi

Senin, 17 Agustus 2026 | 12.35
Suasana upacara HUT  RI santri Ponpes APIK Kauman Kaliwungu. (edhhot)
Suasana upacara HUT RI santri Ponpes APIK Kauman Kaliwungu. (edhhot)

Santri Ponpes APIK Kauman Kaliwungu diajak tetap menjaga tradisi dan akhlak pesantren, sekaligus adaptif terhadap teknologi. Semangat kemerdekaan diwujudkan melalui ilmu dan pengabdian.

KENDAL, puskapik.com – Menjadi santri di era modern dinilai tidak cukup hanya dengan menguasai ilmu agama.

Santri juga dituntut mampu membaca perubahan zaman, memanfaatkan teknologi, serta tetap menjaga adab dan nilai-nilai pesantren.

Pengasuh Pondok Pesantren Salaf APIK Kauman Kaliwungu, Gus Aden Sanaya, mengatakan semangat perjuangan santri pada masa kini memiliki bentuk yang berbeda dengan perjuangan para pendahulu.

Baca Juga: Pemprov Jateng Kirim Bantuan dan Relawan ke NTT, Ahmad Luthfi Pastikan Tepat Sasaran

Jika dahulu kemerdekaan diperjuangkan dengan keberanian dan pengorbanan, generasi santri saat ini dapat meneruskannya melalui ilmu, akhlak, kemandirian, dan pengabdian.

“Kalau dahulu perjuangan dilakukan dengan mengangkat senjata, maka perjuangan santri hari ini bisa dilakukan dengan mengangkat pena, mengembangkan ilmu, menjaga akhlak, membangun ekonomi, dan mengabdi kepada masyarakat,” katanya.

Ia menilai pesantren sejak dahulu tidak pernah terpisah dari perjalanan bangsa. Tradisi keilmuan yang tumbuh di pesantren menjadi salah satu modal penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki karakter.

Baca Juga: Ratusan Pelaku UMKM Ramaikan Pasar Malam Tujuh Belasan di Brebes

Karena itu, santri diminta tidak terjebak pada keunggulan intelektual semata. Ilmu yang tinggi harus dibarengi dengan tawadhu’, penghormatan kepada guru dan orang tua, serta kepedulian terhadap sesama.

Menurut Gus Aden, tantangan terbesar generasi muda saat ini adalah menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai moral. Arus informasi yang tidak terbatas membuat media sosial dapat menjadi sarana dakwah dan edukasi, tetapi juga berpotensi menimbulkan fitnah maupun perpecahan.

Hal serupa berlaku pada perkembangan kecerdasan buatan. Teknologi tersebut dapat membantu manusia dalam berbagai bidang, namun penggunaannya tetap membutuhkan tanggung jawab dan etika.

“Santri tidak boleh anti terhadap perubahan, tetapi juga tidak boleh kehilangan arah karena perubahan. Pegangan kita adalah ilmu, adab, tradisi keilmuan pesantren, dan nilai-nilai Islam,” ujarnya.

Santri masa kini pun diharapkan memiliki kemampuan yang lebih luas. Tidak hanya tekun mempelajari kitab kuning, tetapi juga memahami perkembangan teknologi, memiliki kemampuan ekonomi, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Gus Aden menegaskan, kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan tradisi. Justru tradisi keilmuan pesantren yang baik dapat menjadi fondasi untuk menghadapi masa depan.

Pondok Pesantren Salaf APIK Kauman Kaliwungu, lanjutnya, diharapkan menjadi tempat untuk membentuk santri yang kuat secara keilmuan sekaligus matang dalam karakter.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait