Puluhan Inovasi Mahasiswa USM Ramaikan Expo KKN di Kendal

Senin, 20 Juli 2026 | 14.15
Pembukaan expo KKN mahasiswaa USM di Alun-alun Kendal. (edhot)
Pembukaan expo KKN mahasiswaa USM di Alun-alun Kendal. (edhot)

Puluhan inovasi mahasiswa USM dipamerkan dalam Expo KKN-PPM XXVIII di Kendal. Beragam produk berbasis potensi lokal diharapkan memberi manfaat bagi masyarakat dan desa.

KENDAL, puskapik.com – Puluhan inovasi berbasis potensi lokal hasil karya mahasiswa Universitas Semarang (USM) mencuri perhatian dalam Expo Kuliah Kerja Nyata-Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) XXVIII yang digelar di Alun-alun Kendal, Senin (20/7/2026).

Beragam produk unggulan dari 32 desa dan kelurahan di Kecamatan Kendal dan Brangsong dipamerkan, mulai dari kuliner olahan lokal, teknologi tepat guna, hingga inovasi mitigasi bencana.

Expo tersebut menjadi ajang unjuk kreativitas mahasiswa yang selama menjalankan program KKN berupaya menggali potensi desa sekaligus menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

Baca Juga: Peternakan Sapi Perah Terbesar di Indonesia Mulai Dibangun di Jateng, Investasi Rp 1,2 Triliun Dongkrak Swasembada Susu

Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari yang membuka kegiatan tersebut memberikan apresiasi atas berbagai inovasi yang ditampilkan.

Menurutnya, program KKN tidak hanya menjadi sarana penerapan ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu melahirkan solusi konkret yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

“Kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada Universitas Semarang. Berbagai produk, inovasi, dan kreativitas yang ditampilkan hari ini sangat memberikan manfaat bagi kita semua,” ujar Dyah.

Baca Juga: IPEMI Brebes Ambil Bagian di Semarak Ekraf Brebes, Jadi Perhatian Pengunjung

Ia mengaku terkesan dengan kemampuan mahasiswa mengolah potensi dan kearifan lokal menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus manfaat sosial.

Menurutnya, karya-karya tersebut menunjukkan kepekaan mahasiswa dalam membaca kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Saya tidak menyangka hasilnya bisa seluar biasa ini. Banyak inovasi yang memanfaatkan kearifan lokal dan potensi lokal sehingga layak dikembangkan menjadi solusi bagi masyarakat,” katanya.

Sejumlah inovasi yang menjadi perhatian di antaranya aplikasi pengukuran risiko stunting berbasis telepon genggam, sistem deteksi dini bencana, pemanfaatan sampah menjadi paving blok, hingga alat pres plastik untuk mendukung pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Menurut Dyah, inovasi tersebut tidak boleh berhenti sebagai produk pameran semata.

Pemerintah desa dan masyarakat perlu mengadopsi serta mengembangkan hasil karya mahasiswa agar mampu memberikan dampak ekonomi dan sosial secara berkelanjutan.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait