Sejumlah Supplier Datangi Dapur SPPG Protomulyo Kendal, Tagihan Ratusan Juta Belum Dibayar

Senin, 6 April 2026 | 10.25 WIB
Suplier bahan makanan ke SPPG Protomulyo datangi dapur menanyakan tunggakan belanja. (edhot)
Suplier bahan makanan ke SPPG Protomulyo datangi dapur menanyakan tunggakan belanja. (edhot)

Supplier bahan makanan SPPG Protomulyo keluhkan tunggakan hingga ratusan juta, diduga terhambat di koperasi meski anggaran program sudah cair.

KENDAL, pukspaik.com — Sejumlah supplier bahan makanan untuk dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan, mendatangi lokasi dapur pada Senin (6/4/2026) pagi.

Kedatangan mereka untuk mempertanyakan pembayaran tagihan yang hingga kini belum juga dilunasi.

Para supplier mengaku mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah akibat keterlambatan pembayaran tersebut. Bahkan, sebagian tagihan sudah diajukan sejak dua bulan lalu, namun belum mendapatkan kejelasan dari pihak pengelola.

Salah satu supplier susu kemasan, Faiqhudin, mengungkapkan bahwa total tagihan yang belum dibayarkan mencapai Rp 141 juta, belum termasuk pengiriman terbaru.

Baca Juga: Tak Lagi Dibakar, Sampah di Brebes Disulap Jadi Paving hingga Kursi

Ia menyebut, berbagai upaya penagihan telah dilakukan, namun tidak mendapat respons.

“Kalau total tagihan Rp 141 juta dan itu belum ditambah pengiriman minggu ini. Sudah berulang kali mengirim tagihan dan meminta segera dibayar, tapi tidak ada jawaban,” ujarnya saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, keterlambatan pembayaran bukan kali pertama terjadi. Ia menilai, pembayaran melalui pihak koperasi kerap mengalami kendala dan tidak pernah tuntas.

“Tagihan ini sejak Januari sampai sekarang belum juga dibayarkan. Pembayaran sendiri dilakukan pihak koperasi mitra SPPG,” imbuhnya.

Baca Juga: Hadapi El Nino, Pemalang Siapkan Cadangan Pangan

Faiqhudin juga menyebut, tidak hanya dirinya yang mengalami kerugian. Supplier lain, seperti pemasok daging ayam, juga belum menerima pembayaran dengan nilai tagihan sekitar Rp 30 juta.

“Ada juga supplier ayam yang belum dibayar sekitar Rp 30 juta. Yang mengejutkan, SPPG tetap menggunakan menu ayam tetapi tidak mengambil dari supplier tersebut dan beralih ke supplier lain,” jelasnya.

Diketahui, SPPG Protomulyo dikelola oleh Yayasan Rodhotul Munawaroh Salsabila, dengan mekanisme pembayaran kepada supplier dilakukan melalui Koperasi Mrakyat.

Asisten lapangan SPPG Protomulyo, Ahmad Munafarid, mengaku tidak mengetahui secara rinci terkait keterlambatan pembayaran tersebut. Ia menjelaskan bahwa anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pemerintah telah disalurkan ke koperasi yang bertugas mengelola belanja bahan makanan.

“Dana dari pemerintah turun ke dapur, namun untuk belanja bahan makanan diserahkan ke Koperasi Mrakyat untuk pembayaran ke supplier,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa pihak SPPG telah menerima anggaran dan menyerahkannya kepada koperasi, sehingga urusan pembayaran menjadi tanggung jawab koperasi.

“Setahu saya anggaran sudah dibayarkan ke koperasi. Soal pembayaran ke supplier yang belum dilakukan, saya tidak tahu karena itu kewenangan koperasi,” tambahnya.

Sementara itu, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Kendal, M Faris Maulana, menyatakan bahwa anggaran dari pemerintah sebenarnya telah tersedia dan disalurkan. Namun, diduga terdapat oknum mitra yang menahan pembayaran.

“Program ini sudah baik, hanya saja ada oknum mitra yang mencoba bermain sehingga program terlihat tidak baik. Anggaran sudah ada, negara sudah membayar, tapi berhenti di koperasi yayasan,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak Koperasi Mrakyat belum dapat dikonfirmasi. Kantor koperasi yang berada di samping dapur SPPG Protomulyo tampak tertutup dan tidak beroperasi. Upaya menghubungi pengurus koperasi juga belum mendapatkan respons.

Kasus ini menambah sorotan terhadap tata kelola program MBG di tingkat pelaksana, khususnya terkait transparansi dan distribusi anggaran kepada para mitra penyedia bahan makanan.

Artikel Terkait