Sekda Dorong Masyarakat Gemar Makan Ikan, dengan Perkuat Distribusi Wilayah Tengah

Sekda Jateng Sumarno mendorong peningkatan konsumsi ikan dengan memperkuat distribusi ikan segar dari wilayah pesisir ke daerah tengah Jawa Tengah.
SEMARANG, puskapik.com – Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sumarno mendorong budaya masyarakat Jawa Tengah agar lebih gemar mengonsumsi ikan. Salah satu langkah yang dinilai penting adalah memperkuat distribusi ikan segar dari wilayah pesisir ke daerah-daerah tengah Jawa Tengah.
Hal itu disampaikan Sumarno, mewakili Gubernur Ahmad Luthfi dan wagub Taj Yasin, dalam acara Sosialisasi Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan), di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu, 30 September 2026.
Menurut Sumarno, rendahnya konsumsi ikan di Jawa Tengah tidak semata-mata disebabkan persoalan harga maupun ketersediaan. Faktor budaya masyarakat yang selama ini lebih terbiasa mengonsumsi daging dan ayam turut menjadi tantangan.
“Yang menjadi problem kenapa konsumsi ikan di Jawa Tengah itu rendah? Karena memang budaya masyarakat Jawa Tengah itu tidak makan ikan. Kuliner kita juga kebanyakan daging,” ujarnya.
Baca Juga: Dari Aduan Jadi Perbaikan, Luthfi Benahi Pelayanan Publik Jateng
Ia mencontohkan masyarakat di wilayah tengah Jawa Tengah, seperti kawasan Solo dan Boyolali, yang secara turun-temurun belum terbiasa mengonsumsi ikan segar. Ikan yang lebih mudah dijumpai justru dalam bentuk olahan atau ikan yang diawetkan.
“Ikan yang ke tengah selalu ikan yang diawetkan, diasinkan. Inilah yang harus kita gerakkan, bagaimana ikan-ikan segar bisa masuk ke tengah Jawa Tengah,” jelasnya.
Sumarno menilai penguatan rantai distribusi menjadi salah satu kunci untuk mengubah kebiasaan tersebut. Pemerintah, kata dia, perlu melibatkan pelaku usaha perdagangan agar ikan hasil tangkapan maupun budidaya dari wilayah pesisir dapat lebih mudah menjangkau masyarakat di daerah tengah.
Padahal, dari sisi produksi, Jawa Tengah dinilai memiliki potensi perikanan yang besar. Produksi ikan budidaya disebut mendekati 500 ribu ton, sementara hasil tangkapan juga berada di kisaran 500 ribu ton. Di sisi lain, konsumsi ikan masyarakat Jawa Tengah baru sekitar 400 ribu ton.
“Produksi kita sebenarnya bisa memenuhi. Kita konsumsinya baru 400 ribu ton. Banyak yang keluar, karena dari Jawa Tengah banyak yang diekspor, ada ke Jepang, ada ke Eropa,” katanya.
Bahkan, sejumlah komoditas ikan seperti nila masih banyak yang dipasarkan ke luar daerah atau diekspor, meskipun di wilayah penghasilnya sendiri belum seluruhnya terserap untuk konsumsi masyarakat.
Karena itu, Sumarno mengatakan Pemprov Jateng akan mendorong berbagai langkah untuk meningkatkan konsumsi ikan. Salah satunya dengan memanfaatkan program pemerintah sebagai pintu masuk perubahan pola konsumsi.
Baca Juga: Ahmad Luthfi: Ada atau Tidak Ada KPK, Tetap Jangan Korupsi!
Ia menyebut, konsumsi ikan juga dapat didorong melalui penyediaan makanan dalam berbagai kegiatan pemerintahan. Selain itu, program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai dapat menjadi instrumen strategis untuk memperluas konsumsi ikan di masyarakat.
“Kalau pintunya adalah program pemerintah, itu yang akan kita jalankan lebih dulu. Kalau ke masyarakat kita lebih kepada sosialisasi, mengimbau, terus juga mengubah kebiasaan. Itu bukan sesuatu yang mudah, butuh proses,” katanya.
Sementara itu, Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Murofiq mengatakan, Perpres Nomor 74 Tahun 2026 mengamanatkan gerakan makan ikan sebagai gerakan nasional yang tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia dan penguatan ekonomi.
Menurutnya, Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar karena sebagian besar wilayah Indonesia merupakan laut. Karena itu, peningkatan konsumsi ikan diharapkan mampu menjadi sumber protein masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi nelayan.
Ia menyebut konsumsi ikan nasional ditargetkan mencapai sekitar 26,83 kilogram per kapita per tahun pada 2029.
“Kami berharap Jawa Tengah segera mengambil langkah yang fundamental dalam rangka meningkatkan tingkat konsumsi ikan di masyarakatnya. Karena tingkat konsumsi ikan di Jawa Tengah tidak termasuk yang besar dalam skala nasional,” ujar Hanif.
Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan Ashaf menambahkan, implementasi Perpres 74/2026 akan dilakukan secara lintas kementerian dan lembaga hingga tingkat daerah.
Salah satu bentuk implementasinya adalah mengintegrasikan konsumsi ikan dalam program MBG. Menurutnya, ikan dapat menjadi salah satu sumber protein dalam menu MBG yang diberikan kepada masyarakat.
“Sebagai contoh, hasil ikannya nanti akan diambil oleh MBG. Yang mungkin sebelumnya satu kali seminggu atau satu kali dua minggu, menjadi satu atau dua kali satu minggu,” katanya.
Didit menilai ikan memiliki sejumlah keunggulan sebagai sumber protein, antara lain harga yang relatif lebih terjangkau, kandungan protein yang tinggi, serta ketersediaannya yang luas di Indonesia. ***



