Unsoed dan Kemenko PMK Siapkan Kawasan Ekspor Gula Kelapa di Cilongok, Tiga Program Percontohan Disiapkan

Selasa, 16 Juni 2026 | 18.07
Fakultas Pertanian Unsoed bersama Kemenko PMK menggelar FGD pengembangan kawasan ekspor gula kelapa berbasis pemberdayaan masyarakat desa di Purwokerto.
Fakultas Pertanian Unsoed bersama Kemenko PMK menggelar FGD pengembangan kawasan ekspor gula kelapa berbasis pemberdayaan masyarakat desa di Purwokerto.

Unsoed dan Kemenko PMK menyiapkan kawasan ekspor gula kelapa di Cilongok, Banyumas. Tiga program percontohan disiapkan untuk memperkuat perekonomi desa.

PURWOKERTO, puskapik.com – Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) bersama Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PMK) mulai merancang pengembangan kawasan ekspor gula kelapa berbasis pemberdayaan masyarakat desa di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas.

Langkah tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pengembangan Kawasan Ekspor Gula Kelapa Melalui Pemberdayaan Masyarakat Desa yang digelar di Ballroom Integrated Academic Building (IAB) Unsoed, Senin, 15 Juni 2026.

Baca Juga: Bentuk Karakter Pelajar Lewat Disiplin dan Wawasan Bela Negara Lewat Persami KKRI Batch 5 Kendal

Kegiatan ini menjadi tahap awal penyusunan model pengembangan kawasan gula kelapa yang terintegrasi, mulai dari aspek produksi, kelembagaan ekonomi, hingga peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Asisten Deputi Ketahanan Desa dan Perdesaan Kemenko PMK, Diah Kusuma Pitasari, bersama Wakil Rektor Bidang Akademik Unsoed, Prof Noor Farid, membuka kegiatan yang dihadiri berbagai pemangku kepentingan.

Baca Juga: Ribuan Warga Semarakkan Karnaval Tahun Baru Islam 1448 H di Kaliwungu Kendal

Dalam forum tersebut, peserta membahas tiga program percontohan yang akan menjadi fondasi pengembangan kawasan ekspor gula kelapa di Cilongok.

Program pertama adalah Integrated Farming yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu sistem usaha yang saling mendukung. Program kedua berupa pengembangan agroforestri kelapa genjah untuk mendorong diversifikasi usaha sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan. Sementara program ketiga berfokus pada penguatan koperasi sebagai kelembagaan ekonomi masyarakat.

Staf Khusus Kemenko PMK, Muh Arif Ruba’i, mengatakan pengembangan kawasan ekspor gula kelapa membutuhkan dukungan berbagai pihak agar mampu bersaing di pasar global.

“Pengembangan kawasan ini tidak bisa berdiri sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, koperasi, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, Kecamatan Cilongok memiliki potensi besar karena selama ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi gula kelapa di Banyumas. Di sisi lain, permintaan gula kelapa organik dan berkelanjutan terus meningkat di pasar domestik maupun internasional.

Selain Kemenko PMK dan Unsoed, kegiatan ini juga melibatkan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Unsoed, BPJS Ketenagakerjaan, Village on Mars, koperasi produsen komoditas unggulan lokal, serta sejumlah organisasi perangkat daerah di Kabupaten Banyumas.

Hasil diskusi menghasilkan rumusan awal tiga konsep proyek percontohan sekaligus identifikasi kebutuhan dukungan dari berbagai pihak. Rumusan tersebut akan menjadi dasar penyusunan blueprint pengembangan kawasan gula kelapa terintegrasi di Cilongok.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, koperasi, dan masyarakat, kawasan ekspor gula kelapa di Cilongok diharapkan dapat berkembang menjadi model percontohan nasional yang mampu meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi masyarakat desa. **

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait