Fikri Faqih Ungkap Paradigma Program BKKBN Berubah, Kini Mengarah Ketahanan Keluarga

Selasa, 3 November 2026 | 21.36 WIB
Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih
Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih

Membangun keluarga tidak bisa hanya bertumpu pada peran ibu, ayah juga harus terlibat aktif dalam mendampingi anak karena paradigma BKKN berubah ke ketahanan keluarga

TEGAL, puskapik.com - Penguatan peran orang tua dinilai penting untuk membentuk karakter sekaligus menjaga kesehatan mental anak di tengah derasnya arus informasi digital.

Anggota Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih mengatakan, pembangunan keluarga tidak bisa hanya bertumpu pada peran ibu, namun ayah juga harus terlibat aktif dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Hal itu disampaikan Fikri Faqih dalam sosialisasi Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana yang digelar bersama BKKBN di Gedung Swam, Kota Tegal, Selasa 3 November 2026.

Baca Juga: Pelantikan SGN, Gus Yasin Dorong Santri Gayeng Nusantara Perluas Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Menurut Fikri, paradigma program BKKBN saat ini telah mengalami perubahan.

Jika sebelumnya identik dengan pengendalian jumlah kelahiran, kini pendekatannya lebih diarahkan pada pembangunan dan penguatan ketahanan keluarga.

"Keluarga merupakan pilar utama pembangunan bangsa. Karena itu, sekarang bukan lagi sekadar pembatasan keluarga, tetapi bagaimana membangun keluarga dan memperkuat ketahanannya," kata Fikri.

Fikri menjelaskan, salah satu program yang menjadi perhatian adalah Gerakan Ayah Teladan Indonesia atau GATI.

Program ini bertujuan meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak.

Menurut Fikri, selama ini kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan keluarga masih banyak didominasi kaum ibu.

Padahal, kehadiran ayah memiliki peran penting dalam perkembangan anak.

Fikri mengingatkan, minimnya pendampingan orang tua dapat berpengaruh terhadap pembentukan karakter dan kondisi psikologis anak.

Persoalan tersebut semakin kompleks ketika anak berhadapan dengan perkembangan teknologi dan penggunaan media sosial tanpa pengawasan memadai.

Fikri menilai pendidikan karakter tidak cukup hanya dibebankan kepada sekolah dan guru.

"Keluarga harus menjadi lingkungan pertama yang memberikan pendampingan," kata Fikri.

Aplikasi SAKINA

Selain GATI, BKKBN juga mengembangkan sejumlah program pembangunan keluarga yang terintegrasi melalui aplikasi SAKINA atau Super Apps Keluarga Indonesia.

Program tersebut mencakup berbagai tahapan kehidupan keluarga.

Pertama, Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting atau Genting, yang berfokus pada upaya pencegahan stunting.

Kedua, Taman Asuh Sayang Anak atau Tamasya, yakni program pengasuhan anak yang antara lain berkaitan dengan layanan pengasuhan dan penitipan anak.

Ketiga, Gerakan Ayah Teladan Indonesia atau GATI, untuk memperkuat peran ayah dalam keluarga.

Baca Juga: Kasus Ponpes Sukorharjo, Ahmad Luthfi Ajak Masyarakat Jaga Persatuan dan Ketenteraman

Keempat, program SIDAYA atau Lansia Berdaya yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas hidup kelompok lanjut usia.

Melalui program SIDAYA, lanjut usia diharapkan tetap memiliki kondisi fisik yang sehat, aktif secara sosial, serta produktif. Salah satu pendekatannya melalui Sekolah Lansia.

Fikri menilai pendekatan tersebut penting seiring meningkatnya usia harapan hidup masyarakat.

"Lansia tidak seharusnya dipandang sebagai beban keluarga, tetapi tetap memiliki potensi untuk berkontribusi," ujar Fikri.

Di luar program pembangunan keluarga, Fikri juga menyoroti perlunya perlindungan anak dari paparan informasi digital yang tidak sesuai usia.

Fikri menyebut pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun telah menjadi perhatian DPR dan disuarakan kepada Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi.

"Pelaksanaannya masih menghadapi tantangan. Anak-anak masih dapat mengakses berbagai platform media sosial meskipun telah muncul wacana pembatasan," ucap Fikri.

Fikri membandingkan langkah tersebut dengan kebijakan di sejumlah negara yang lebih tegas dalam mengatur penggunaan media sosial oleh anak.

Fikri menegaskan, penguatan program pembangunan keluarga harus berjalan beriringan dengan upaya melindungi anak dari dampak negatif perkembangan teknologi.

"Kalau program pembangunan keluarga sudah bagus, tetapi kemudian dirusak dengan arus informasi media sosial yang begitu rupa, ini juga menjadi persoalan," ujar Fikri.

Karena itu, menurut Fikri, keberhasilan pembangunan keluarga membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Tidak hanya pemerintah melalui program-programnya, tetapi juga orang tua, sekolah dan masyarakat.***

Artikel Terkait