Merawat Akar Budaya, Lesbumi PBNU dan Tokoh Pekalongan Bedah Pondasi Pemajuan Daerah

Diskusi Kebudayaan Nusantara di Pekalongan menegaskan budaya sebagai pondasi peradaban, kebahagiaan masyarakat, dan penguat jati diri bangsa.
PEKALONGAN, puskapik.com – Kebudayaan dinilai menjadi akar utama tumbuhnya peradaban sekaligus pondasi penting dalam membangun kebahagiaan masyarakat.
Gagasan itu mengemuka dalam Diskusi Kebudayaan Nusantara bertajuk “Merawat Akar, Menguatkan Jatidiri: Kebudayaan Sebagai Pondasi Pemajuan Kabupaten Pekalongan” yang digelar di Joglo Kanjengan, Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Kamis (28/5/2026) malam.
Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Lesbumi PBNU, KH. Muhammad Jadul Maula sebagai narasumber utama. Hadir pula mantan Bupati Pekalongan Asip Kholbihi serta Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar.
Baca Juga: Stasiun Kaliwungu kendal Ditarget Beroperasi Lagi Tahun 2027, Pemkab Kendal Sambut Positif
Sementara Plt. Bupati Pekalongan, Sukirman yang sebelumnya dijadwalkan hadir, berhalangan menghadiri forum tersebut.
Turut hadir dalam diskusi jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan, Ketua Lesbumi Kabupaten Pekalongan Ahmad Nur Rohim Hadinagoro beserta anggota, unsur Polres Pekalongan, Kodim 0710/Pekalongan, Lesbumi MWC NU, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinporapar, hingga para budayawan lokal.
Dalam pemaparannya, KH. Muhammad Jadul Maula menyoroti kondisi global yang menurutnya tengah mengalami disorientasi akibat pembangunan yang terlalu berorientasi pada ekonomi semata.
Baca Juga: Besok, Parkir Terpusat Alun-alun Tegal Mulai Berlaku
Ia menegaskan bahwa kebudayaan sejatinya adalah jati diri bangsa yang tidak boleh ditinggalkan.
“Peradaban tanpa kebudayaan seperti negara tanpa bahasa yang akan mati total dan berhenti,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia sejatinya merupakan negara superpower kebudayaan karena memiliki kekayaan tradisi dan warisan budaya yang diakui dunia, termasuk oleh UNESCO.
Namun demikian, perhatian negara terhadap pemajuan kebudayaan dinilai masih terlambat, salah satunya baru ditandai dengan lahirnya Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan beberapa tahun terakhir.
Ia juga mengisahkan bagaimana kuatnya pengaruh budaya Nusantara di masa lalu. Salah satunya cerita para pekerja asal Jawa di Sumatera yang baru bisa bekerja optimal setelah diperdengarkan alunan gamelan.
“Secara politik Indonesia mungkin pernah terjajah, tetapi secara budaya justru memengaruhi. Seni dan kebudayaan adalah pilar penting dalam perjuangan kedaulatan bangsa,” katanya.
Lebih jauh, KH. Jadul Maula menekankan bahwa tujuan utama kebudayaan bukan hanya menjaga tradisi, tetapi mendewasakan jiwa manusia. Ukuran keberhasilannya adalah terciptanya kemerdekaan jiwa, kesejahteraan, dan kebahagiaan masyarakat.
Ia mencontohkan gagasan tokoh Nusantara seperti Ki Ageng Suryomentaram yang mengajarkan konsep kasampurnan dan kabegjan sebagai jalan menuju kedewasaan jiwa manusia.
“Jika cara pandang tradisi diubah untuk fokus membangun manusianya, Indonesia akan menjadi negara superpower,” tegasnya.
Pandangan senada disampaikan Asip Kholbihi. Ia menyebut pembangunan daerah memang membutuhkan infrastruktur, transparansi, dan kapasitas fiskal yang kuat.
Namun, seluruh pembangunan itu pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan indeks kebahagiaan masyarakat di tengah derasnya arus modernisasi.
Dalam kesempatan yang sama, Asip juga menyinggung disahkannya Peraturan Daerah Kabupaten Pekalongan tentang Cagar Budaya pada 13 Mei 2026 lalu. Ia menyatakan siap mengawal tindak lanjut regulasi tersebut, termasuk mendorong pembangunan museum budaya di Kabupaten Pekalongan.
Selain itu, ia merekomendasikan agar Lesbumi dilibatkan dalam tim identifikasi situs cagar budaya yang ada di Kabupaten Pekalongan sebagai bagian dari upaya menjaga warisan sejarah dan budaya daerah.
Sementara itu, KH. Baihaqi Anwar membedah kebudayaan dari perspektif spiritualitas Islam. Ia menjelaskan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam.
Merujuk kitab Adabul Alim Wal Muta’allim, ia menekankan integrasi antara Tauhid, Fiqih, dan Akhlak sebagai pondasi membangun peradaban yang berkarakter.
“Terjadinya berbagai kerusakan di bumi adalah akibat ulah manusia yang kehilangan komitmen menjaga alam. Budaya yang berkaitan dengan akhlakul karimah inilah yang bisa memajukan masyarakat, baik di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun sekolah,” pungkasnya. **
Artikel Terkait

Diduga Korban Perundungan, Polisi Dalami Kematian Siswa SD di Pemalang

28 Motor Knalpot Brong Terjaring Razia di Lingkar Bumiayu, Berawal dari Laporan Balap Liar

Tunggu Umur Beton, Lalin Tegal-Purwokerto di Pagojengan Masih Buka Tutup
