Merawat Akar Budaya, Lesbumi PBNU dan Tokoh Pekalongan Bedah Pondasi Pemajuan Daerah

Jumat, 29 Mei 2026 | 11.51
puskapik

Diskusi Kebudayaan Nusantara di Pekalongan menegaskan budaya sebagai pondasi peradaban, kebahagiaan masyarakat, dan penguat jati diri bangsa.

PEKALONGAN, puskapik.com – Kebudayaan dinilai menjadi akar utama tumbuhnya peradaban sekaligus pondasi penting dalam membangun kebahagiaan masyarakat.

Gagasan itu mengemuka dalam Diskusi Kebudayaan Nusantara bertajuk “Merawat Akar, Menguatkan Jatidiri: Kebudayaan Sebagai Pondasi Pemajuan Kabupaten Pekalongan” yang digelar di Joglo Kanjengan, Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Kamis (28/5/2026) malam.

Kegiatan tersebut menghadirkan Ketua Lesbumi PBNU, KH. Muhammad Jadul Maula sebagai narasumber utama. Hadir pula mantan Bupati Pekalongan Asip Kholbihi serta Rais Syuriah PCNU Kabupaten Pekalongan, KH. Baihaqi Anwar.

Baca Juga: Stasiun Kaliwungu kendal Ditarget Beroperasi Lagi Tahun 2027, Pemkab Kendal Sambut Positif

Sementara Plt. Bupati Pekalongan, Sukirman yang sebelumnya dijadwalkan hadir, berhalangan menghadiri forum tersebut.

Turut hadir dalam diskusi jajaran Syuriah dan Tanfidziyah PCNU Kabupaten Pekalongan, Ketua Lesbumi Kabupaten Pekalongan Ahmad Nur Rohim Hadinagoro beserta anggota, unsur Polres Pekalongan, Kodim 0710/Pekalongan, Lesbumi MWC NU, perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinporapar, hingga para budayawan lokal.

Dalam pemaparannya, KH. Muhammad Jadul Maula menyoroti kondisi global yang menurutnya tengah mengalami disorientasi akibat pembangunan yang terlalu berorientasi pada ekonomi semata.

Baca Juga: Besok, Parkir Terpusat Alun-alun Tegal Mulai Berlaku

Ia menegaskan bahwa kebudayaan sejatinya adalah jati diri bangsa yang tidak boleh ditinggalkan.

“Peradaban tanpa kebudayaan seperti negara tanpa bahasa yang akan mati total dan berhenti,” ujarnya.

Menurutnya, Indonesia sejatinya merupakan negara superpower kebudayaan karena memiliki kekayaan tradisi dan warisan budaya yang diakui dunia, termasuk oleh UNESCO.

Namun demikian, perhatian negara terhadap pemajuan kebudayaan dinilai masih terlambat, salah satunya baru ditandai dengan lahirnya Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan beberapa tahun terakhir.

Ia juga mengisahkan bagaimana kuatnya pengaruh budaya Nusantara di masa lalu. Salah satunya cerita para pekerja asal Jawa di Sumatera yang baru bisa bekerja optimal setelah diperdengarkan alunan gamelan.

“Secara politik Indonesia mungkin pernah terjajah, tetapi secara budaya justru memengaruhi. Seni dan kebudayaan adalah pilar penting dalam perjuangan kedaulatan bangsa,” katanya.

Lebih jauh, KH. Jadul Maula menekankan bahwa tujuan utama kebudayaan bukan hanya menjaga tradisi, tetapi mendewasakan jiwa manusia. Ukuran keberhasilannya adalah terciptanya kemerdekaan jiwa, kesejahteraan, dan kebahagiaan masyarakat.

Halaman 1 dari 2

Artikel Terkait