Viral Konvoi Pelajar SMP, Kapolres Pekalongan Sampaikan Pesan Menyentuh, Manfaatnya Apa?

Kamis, 21 Mei 2026 | 14.45 WIB
Polres Pekalongan
Puluhan pelajar tersebut dikumpulkan di salah satu SMP di wilayah Wiradesa, Rabu 20 Mei 2026

Aksi konvoi puluhan pelajar SMP viral di media sosial dan meresahkan warga di Desa Api-api, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan.

PEKALONGAN, puskapik.com – Aksi konvoi puluhan pelajar SMP viral di media sosial dan meresahkan warga di Desa Api-api, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan.

Hal tersebut mendapat perhatian serius dari Polres Pekalongan.

Tak memilih langkah hukuman semata, polisi justru mengedepankan pembinaan dengan menghadirkan para siswa bersama orang tua mereka.

Baca Juga: Cek, Ini Rincian Harga Emas UBS di Pegadaian Kamis 21 Mei 2026

Puluhan pelajar tersebut dikumpulkan di salah satu SMP di wilayah Wiradesa, Rabu 20 Mei 2026 siang.

Suasana yang awalnya tegang berubah menjadi momen refleksi saat para siswa duduk berdampingan dengan orang tua masing-masing.

Kapolres Pekalongan AKBP Rachmad C. Yusuf hadir langsung memberikan pembinaan didampingi Wakapolres Kompol M. Farid Amirullah, Kabag Ren Kompol Busono, Kasat Lantas AKP Alfian Kharisma Putra, Kapolsek Wiradesa Iptu Maman Sugiarto, kepala sekolah, guru, dan para wali murid.

Di hadapan para siswa, AKBP Rachmad menyampaikan pertanyaan yang membuat ruangan seketika hening.

"Saya tanya, apa manfaat dari kegiatan kalian itu? Tindakan kalian sudah meresahkan masyarakat. Bayangkan kalau ibu kalian sendiri berada di jalan lalu terganggu dengan perilaku seperti itu," kata Kapolres.

Menurutnya, aksi konvoi yang dilakukan usai ujian sekolah bukan hanya mengganggu pengguna jalan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kecelakaan hingga konflik dengan masyarakat.

Kapolres juga mengingatkan para siswa tentang perjuangan orang tua yang selama ini bekerja keras demi pendidikan anak-anak mereka.

"Kalian belum memikirkan bagaimana mencari uang, sementara orang tua sudah berjuang membiayai sekolah. Gunakan kesempatan itu untuk hal-hal yang baik," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, polisi sengaja mempertemukan siswa dengan orang tua agar pembinaan tidak hanya menjadi teguran sesaat, tetapi menjadi pelajaran yang membekas.

"Kami ingin adik-adik ini tetap bisa meraih cita-citanya. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya susah. Kalau nanti mengulangi lagi, kami sudah mendata nama dan identitas semuanya, maka akan kami bawa ke Polres," tegasnya.

Baca Juga: Update Harga Emas Antam, Hari Ini Kembali Naik Jadi Rp 2.800.000

Diketahui, sebanyak 22 pelajar terlibat dalam aksi konvoi tersebut, terdiri dari 20 siswa SMP di wilayah Wiradesa dan dua siswa dari SMP di Wonokerto.

Di hadapan Kapolres dan orang tua, salah satu perwakilan siswa An akhirnya menyampaikan permohonan maaf.

"Kami mewakili teman-teman meminta maaf atas kejadian kemarin dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi," ucap An .

Sementara itu, salah satu orang tua berharap anak-anak yang terlibat tetap mendapat pendampingan dan tidak menjadi sasaran sanksi sosial karena peristiwa yang telah viral.

"Anak-anak ini ada yang awalnya hanya ikut-ikutan tanpa tahu akan ada aksi yang meresahkan masyarakat. Kami mohon agar mereka tetap dibina dan dilindungi karena kejadian ini sudah viral," ujar ibu Ida, perwakilan wali murid.

Pihak sekolah pun mengapresiasi langkah cepat kepolisian yang memilih pendekatan edukatif dibanding langkah represif.

" Kami sudah melarang siswa untuk konvoi, ternyata masih ada yang nekat konvoi dan itu diluar pengetahuan kami, " jelas Mukhidin Kepala SMP N 1 Wiradesa.

Mereka berharap kejadian ini menjadi pengingat bahwa euforia kelulusan tidak harus dirayakan dengan cara yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.***