Krisis Air Bersih Berlanjut, Darurat Kekeringan Pemalang Diperpanjang

Sabtu, 19 September 2026 | 22.21
puskapik

Darurat kekeringan Pemalang diperpanjang hingga 30 September 2026. Krisis air berdampak pada 93.000 jiwa, dengan distribusi 8,7 juta liter air bersih.

PEMALANG, puskapik.com – Krisis air bersih akibat kekeringan di Kabupaten Pemalang telah berdampak terhadap sekitar 93.000 jiwa. Hingga 13 September 2026, BPBD bersama sejumlah pihak telah mendistribusikan 8,7 juta liter air bersih ke wilayah terdampak.

Distribusi air tersebut menjangkau 7 kecamatan dan 30 desa yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi kekeringan telah berlangsung sejak akhir Juni 2026 dan diperkirakan masih terjadi hingga pertengahan Oktober mendatang.

Kepala BPBD Pemalang, Agus Ikmal, mengatakan pemerintah daerah telah menetapkan status darurat kekeringan sejak 1 Juli 2026. Status tersebut kemudian diperpanjang hingga 30 September 2026 seiring masih berlangsungnya kondisi kekeringan.

Baca Juga: Dindukcapil Brebes Raih Kategori Stand Terbaik di GBF 2026

“Kami sudah mengimbau kepada masyarakat untuk menghemat penggunaan air. Digunakan benar-benar untuk hal yang penting dan perlu,” ujarnya kepada wartawan Rabu 16 September 2026.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 10 September 2026, sebagian besar wilayah Jawa Tengah masih berada pada kategori curah hujan rendah hingga menengah.

Agus Ikmaludin menyebut Kabupaten Pemalang masuk dalam kategori curah hujan rendah. Namun, jika dilihat berdasarkan jumlah hari tanpa hujan, kondisinya berada dalam kategori menengah dan belum masuk kategori ekstrem.

Baca Juga: Pemkab Brebes Minta Maaf Soal Warga Ditandu, Perbaikan Jembatan Mlayang Tunggu Proses Lelang Selesai

“Kabupaten Pemalang ini dalam kategori rendah. Cuma kalau dilihat dari hari tanpa hujannya, termasuk dalam kategori menengah, bukan ekstrem,” jelas Agus.

Menurutnya, kondisi tersebut diperkirakan mulai berubah pada dasarian II Oktober 2026. Pada periode tersebut, curah hujan di wilayah Pemalang diprediksi mulai mengalami peningkatan.

Sementara itu, wilayah terdampak kekeringan telah tersebar di sejumlah kecamatan. Agus merinci wilayah tersebut meliputi Bodeh, Warungpring, Belik, Pulosari, Randudongkal, Bantarbolang, dan Warungpring.

Baca Juga: Ekonomi Umat Bergerak, Transaksi Pameran MTQ Nasional 2026 di Jateng Capai Rp2,4 Miliar

Dari sejumlah wilayah tersebut, Belik dan Pulosari menjadi daerah dengan kondisi kekeringan paling parah.

“Paling parah itu Belik dan Pulosari. Di Belik, dua desa yakni Belik dan Gombong memiliki sekitar 90 titik krisis air. Sementara di Pulosari, 10 desa dengan sekitar 160 titik mengalami hal serupa,” paparnya.

Secara keseluruhan, kekeringan tersebut berdampak terhadap sekitar 93.000 jiwa. Pemenuhan kebutuhan air bersih warga dilakukan melalui kolaborasi sejumlah pihak.

Selain BPBD Pemalang, bantuan air bersih juga berasal dari Palang Merah Indonesia (PMI), Perumda Air Minum Tirta Mulia, Baznas, hingga para relawan dan pihak yang menjalankan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

“8,7 juta liter itu terdiri dari BPBD Kabupaten Pemalang, PMI, PDAM, Baznas, dan juga dari para relawan CSR,” pungkasnya.***