[Editorial] Tragedi Gedung Hogwan Bumiayu, Potensi Cagar Budaya yang Terabaikan

Sebuah ironi, Gedung Hogwan yang mencatatkan narasi sejarah penting bbagian dari lanskap Bumiayu berpotensi jadi cagar budaya runtuh dan memakan korban jiwa
TEGAL, puskapik.com - Gedung Hogwan di Jalan Lapangan Asri, Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, runtuh pada Minggu 30 Agustus 2026 sekitar pukul 05.30 WIB.
Dari kejadian ini, material bangunan tua yang sudah ada sejak masa Kolonial Belanda ini memakan tiga korban meninggal dunia, dua di antaranya anak-anak.
Sebuah ironi, Gedung Hogwan yang mencatatkan narasi sejarah penting bagian dari lanskap Bumiayu ini runtuh dan memakan korban jiwa.
Kejadian memilukan ini menjadi pelajaran berharga, terutama pemerintah yang punya kewajiban menjaga aset budaya bersejarah.
Apalagi, Hogwan bukan sekadar bangunan tua. Di balik temboknya tersimpan jejak sebuah industri tapioka yang pernah dikenal luas dan ikut menggerakkan kehidupan masyarakat Bumiayu.
Hogwan dikenal dengan nama NV Hogwan, perusahaan yang bergerak di bidang industri tapioka.
Dari penuturan warga, NV Hogwan telah berdiri sejak 1901. Pabrik tapioka yang cukup termasyhur kala itu hingga tersohor ke luar daerah.
Dalam catatan sejarah desa, berdirinya NV Hogwan menarik penduduk dari luar daerah untuk datang dan bekerja.
Sebagian di antaranya berasal dari Pesayangan, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal.
Mereka kemudian menetap di Bumiayu dan bekerja di pabrik NV Hogwan. Dari cerita tersebut, nama Dukuhturi yang kini menjadi salah satu desa di Kecamatan Bumiayu diyakini berkaitan dengan asal daerah para pendatang tersebut.
Kejayaan NV Hogwan ternyata tidak berlangsung lama. Catatan sejarah mengenai Bumiayu menyebut NV Hoo Gwan berjaya sejak sebelum Perang Dunia II dan kemudian disebut berhenti beroperasi pada 1957.
Perubahan Fungsi
Setelah aktivitas industri tapioka berhenti, bangunan dan kawasan yang tersisa mengalami perubahan fungsi.
Bangunan Hogwan di Desa Dukuhturi kemudian dimanfaatkan sebagai tempat latihan bulu tangkis.
Sebenarnya potensi Gedung Hogwan menjadi bangunan cagar budaya terbuka lebar.
![[EDITORIAL] Mitigasi Ancaman Kekeringan, Pentingnya Patroli Deteksi Dini](https://puskapik.com/api/uploads/2026/08/729f2aa0-b95e-43ca-b7df-61cd3d4926db.webp)
![[Editorial] Putus Mata Rantai Korupsi Jadi PR Plt Bupati Pemalang](https://puskapik.com/api/uploads/2026/08/f2e8e7d4-85fb-4d82-bfe7-1480ff6f60b7.webp)
![[Editorial] Awas, Jalur Maut Flyover Kretek Paguyangan](https://puskapik.com/api/uploads/2026/07/6493b1e8-18d7-47b6-9d67-9860fb8daa35.webp)