Kekeringan di Kertasari Tegal Makin Parah, Kader Gerindra Salurkan 4 Tangki Air Bersih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 15.59 WIB
Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Tegal, Rudi Indrayani menyaksikan penyaluran air bersih di Desa Kertasari, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, Sabtu 10 September 2026.
Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Tegal, Rudi Indrayani menyaksikan penyaluran air bersih di Desa Kertasari, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal, Sabtu 10 September 2026.

Kekeringan parah melanda Desa Kertasari, Kabupaten Tegal. Kader Gerindra menyalurkan empat tangki air bersih untuk membantu warga yang kesulitan air dan petani.

SLAWI, puskapik.com - Musim kemarau di wilayah Pantura Kabupaten Tegal, makin parah. Di Kecamatan Suradadi, ada 11 desa yang mengalami kekurangan air bersih. Terparah di Desa Kertasari yang hanya mengandalkan bantuan air bersih dari pemerintah dan pihak swasta lainnya.

Kondisi itu membuat keprihatinan bagi DPC Partai Gerindra Kabupaten Tegal. Kader Gerindra dari pengurus DPC hingga simpatisan dan Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Kabupaten Tegal, menyalurkan bantuan air bersih ke warga Desa Kertasari, Sabtu 10 September 2026.

Bantuan air bersih dipimpin Ketua DPC Partai Gerindra Kabupaten Tegal, Rudi Indrayani dengan mengerahkan 4 tangki air bersih.

"Kami menyalurkan air bersih sebanyak 4 tangki untuk warga Kertasari," kata Rudi.

Baca Juga: Tiga Saksi Sempat Berusaha Melerai, Kasus Anak Bacok Ayah di Pengarasan Brebes

Dikatakan, musim kemarau panjang di tahun 2026, dinilai paling parah dalam kurun waktu beberapa tahun lalu. Di Desa Kertasari, kekeringan tidak hanya membuat sumber air sumur mengering. Tapi, juga membuat lahan pertanian tak bisa digarap. Kondisi kekurangan air, juga membuat sawah warga retak dan mengering.

"Gelombang panas yang berkepanjangan membuat mereka menghadapi musim kering terburuk yang pernah dirasakan selama bertahun-tahun," ujar Rudi Indrayani yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tegal dari Fraksi Gerindra.

Menurut dia, pada tahun-tahun sebelumnya warga masih bisa terbantu oleh aliran sungai, tetapi tahun ini harapan itu belum terealisasi. Hal tersebut disebabkan Perbaikan Bendungan Cipero di Warureja yang berlangsung sejak April 2026. Sehingga menyebabkan pasokan air semakin berkurang. Dampaknya meluas hingga sekitar 7.000 hektare lahan pertanian di Kecamatan Suradadi dan Warureja mengalami kekeringan.

"Sawah yang biasanya menghijau, kini berubah menjadi tanah tandus, dan selama hampir tiga bulan para petani tidak dapat menanam padi," terang Rudi. ***

Artikel Terkait