Nelayan Pantura Tegal Menjerit, Muara Dangkal, Fasilitas Pelabuhan Minim Hingga BBM Sulit

Sejumlah nelayan Pantura mengikuti Dialog Kebijakan yang digelar KNTI di Hotel Solaris, Desa Demangharjo, Kecamatan Warureja, Kabupaten Tegal, Senin (24/8/2026). (Dok)
SLAWI, puskapik.com - Nelayan di Pantura Kabupaten Tegal mengeluhkan dangkalnya pelaburan Muara Sungai Cenang di Desa Suradadi yang mengalami pendangkalan cukup parah.
Selain itu, fasilitas pelabuhan juga minim dan nelayan juga kesulitan mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Hal itu terungkap saat Dialog Kebijakan yang digelar DPD Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kabupaten Tegal di Meeting Room Hotel Solaris, Desa Demangharjo, Kecamatan Warureja, Senin 24 Agustus 2026.
Baca Juga: Jateng Masuk Gerbong PLTS 100 GWp, Proyek Gajah Mungkur Mulai Dibangun
"Muara Cenang mengalami pendangkalan cukup parah. Nelayan kesulitan ketika hendak keluar untuk melaut maupun saat akan masuk kembali untuk berlabuh,” kata Bidang Advokasi DPP KNTI, Jan Tuheteru.
Ia mengatakan, pendangkalan Muara Cenang menjadi salah satu aspirasi utama yang disampaikan nelayan dalam forum tersebut.
Menurut Jan, perahu sebenarnya masih dapat melintas. Namun, nelayan harus menunggu air laut naik agar perahu tidak kandas.
Baca Juga: 14 Daerah Jateng Berstatus Awas Kekeringan, Wagub Taj Yasin Dorong Modifikasi Cuaca
“Kalau air sedang tidak naik, perahu sulit keluar maupun masuk. Nelayan harus menunggu pasang. Ini tentu mengganggu aktivitas mereka,” cetusnya.
Berdasarkan data yang disampaikan nelayan, sekitar 400 perahu berlabuh di Muara Sungai Cenang. Sedangkan jumlah nelayan yang menggantungkan kehidupan dari kawasan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 1.000 orang di wilayah Suradadi.
Karena itu, kata dia, KNTI mendesak pemerintah segera melakukan normalisasi atau pengerukan Muara Cenang. Namun, pengerukan dinilai bukan satu-satunya solusi. Pemerintah juga diminta membangun breakwater atau pemecah gelombang agar sedimentasi tidak kembali terjadi dalam waktu singkat.
“Normalisasi harus segera dilakukan. Tetapi jangan hanya dikeruk. Pemerintah juga perlu memikirkan pemecah gelombang supaya sedimentasi tidak terus berulang,” tegas Jan.
Tak hanya persoalan muara. Nelayan juga meminta pemerintah membangun pelabuhan ikan di kawasan Pantai Suradadi atau sekitar Muara Cenang. Fasilitas tersebut dinilai penting untuk menopang aktivitas ekonomi nelayan sekaligus menata kawasan pesisir yang selama ini masih memiliki berbagai keterbatasan.
Persoalan BBM juga ikut mencuat. Nelayan dari Kecamatan Suradadi dan Warureja mengaku kesulitan memperoleh BBM karena harus menuju lokasi yang relatif jauh.


